Jakarta—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama PT Pertamina (Persero), menjajaki pengembangan bioetanol generasi kedua (2G) berbahan tandan kosong kelapa sawit (TKKS), sebagai bagian dari upaya mengembangkan teknologi energi berbasis sumber daya domestik. Hal ini dibahas dalam pertemuan antara Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto dan jajaran dengan Wakil Direktur Utama (Wadirut) PT Pertamina (Persero), Oki Muraza dan jajaran, Rabu (19/8).
Dalam kesempatan ini, Mendiktisaintek membawa hasil penjajakan dengan Praj Industries dari India, yang menawarkan teknologi dan opsi pembangunan pilot plant skala kecil. Teknologi tersebut selanjutnya akan dikaji dari sisi teknologi, kebutuhan investasi, ekonomi, serta kemungkinan penerapannya di Indonesia.
“Kita coba dulu dalam skala kecil, supaya kita bisa memahami betul parameter tandan kosong kelapa sawit Indonesia dan memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan benar-benar dapat memberikan nilai tambah bagi sumber daya yang kita miliki,” ujar Menteri Brian.
Indonesia memiliki potensi bahan baku TKKS yang besar, termasuk yang berasal dari perkebunan rakyat. Pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku bioetanol berpotensi memberikan nilai tambah pada hasil samping industri kelapa sawit tanpa membutuhkan pembukaan lahan baru.
Pengembangan tersebut juga sejalan dengan agenda prioritas nasional Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) di bidang ketahanan energi, hilirisasi, dan optimalisasi sumber daya domestik yang termaktub dalam kerangka Asta Cita. Pengembangan teknologi berbasis sumber daya yang tersedia di dalam negeri diharapkan dapat mendukung upaya memperkuat kemandirian energi sekaligus menciptakan nilai tambah dari potensi yang dimiliki Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, pihak Pertamina turut menyampaikan pengalaman riset terkait pemanfaatan TKKS, termasuk pengembangan teknologi bersama sejumlah mitra. Pembahasan mencakup tantangan dalam proses pengolahan TKKS serta pengembangan teknologi pre-treatment dan enzim.
“Tujuan kami, kalau bisa kita punya teknologi sendiri. Kita punya potensi bahan baku yang besar, sehingga teknologinya juga perlu kita kuasai,” kata Wadirut Pertamina.
Lebih lanjut, kedua pihak menekankan pentingnya memastikan adanya kesinambungan dari tahap riset menuju hilirisasi dan penerapan industri. Selain aspek teknologi, ketersediaan dan tata kelola bahan baku juga menjadi perhatian. TKKS tersebar di berbagai wilayah sentra kelapa sawit, termasuk pada perkebunan rakyat, sehingga mekanisme pengumpulan, harga, dan distribusinya perlu dirancang agar pemanfaatannya dapat berlangsung secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, pengembangan industri bioetanol juga dinilai perlu memperhatikan kepentingan masyarakat dan pelaku usaha di sepanjang rantai pasok, sehingga tercipta manfaat ekonomi yang adil bagi pihak yang menyediakan bahan baku.
Kemdiktisaintek dan Pertamina juga melihat peluang kolaborasi lebih lanjut dengan perguruan tinggi dan lembaga riset untuk memperkuat aspek teknologi, tata kelola, serta model bisnis dan logistik. Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat mempertemukan kepakaran akademik dengan kebutuhan industri dan kondisi nyata di lapangan.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri, Kemdiktisaintek mendorong agar pengembangan teknologi tidak berhenti pada tahap penelitian, terus dikembangkan, dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian dan ketahanan energi nasional.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#PentingSaintek
#KampusBerdampak






