Jakarta—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menerima audiensi Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI) dalam rangka membahas penguatan peran pendidikan tinggi ekonomi dan bisnis yang berdampak nyata bagi masyarakat, Selasa (23/12).
Dalam audiensi tersebut, AFEBI menyampaikan hasil kongres organisasi yang akan ditindaklanjuti, di antaranya rencana pengembangan sistem pembelajaran berbasis societal impact serta pembentukan Indonesian Hub of Technopreneurship antarkampus. Kedua inisiatif tersebut dinilai sejalan dengan arah kebijakan “Diktisaintek Berdampak” yang menekankan integrasi pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat agar menghasilkan dampak jangka panjang dan terukur.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menyambut baik berbagai gagasan yang disampaikan AFEBI dan menegaskan keterbukaan Kemdiktisaintek untuk memfasilitasi kolaborasi antarfakultas dan antarorganisasi dalam menjawab tantangan pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan.
“Integrasi antara pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi kunci agar ilmu pengetahuan benar-benar hadir dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. Kita bisa fasilitasi pertemuan jika dibutuhkan, agar tantangan-tantangan yang ada bisa selesai dengan efektif,” kata Menteri Brian.
Ketua AFEBI 2026–2028, Aurik Gustomo menjelaskan bahwa konsep societal impact mendorong integrasi tridarma perguruan tinggi secara utuh dan berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pendekatan ini juga diarahkan untuk selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), sehingga dampak pendidikan tinggi dapat diukur belasan hingga puluhan tahun ke depan.
“Kita ingin memberikan sumbangan pemikiran untuk mengintegrasikan kegiatan mulai dari pendidikan, kemudian riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Kami menyebutnya sebagai societal impact, di mana seluruh proses pembelajaran diarahkan untuk menghasilkan dampak yang berkelanjutan dan terukur bagi masyarakat,” ujar Aurik.
Usulan Pembentukan Indonesian Hub of Technopreneurship
Selain itu, AFEBI juga mengusulkan pembentukan Indonesian Hub of Technopreneurship sebagai wadah kolaborasi lintas kampus dan lintas disiplin, khususnya antara bidang ekonomi dan bisnis dengan rumpun sains, teknologi, dan rekayasa. Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong pengembangan kurikulum interdisipliner, penguatan kewirausahaan berbasis teknologi, serta peningkatan relevansi lulusan terhadap kebutuhan industri dan masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Brian menekankan pentingnya pengembangan kajian ekonomi yang kontekstual dengan realitas Indonesia serta terbuka terhadap pembaruan paradigma. Menteri Brian juga menyoroti perlunya kolaborasi yang lebih erat antara ilmu sosial humaniora dengan sains dan teknologi agar riset dan kebijakan yang dihasilkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Penguatan kolaborasi tersebut turut ditegaskan oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Fauzan Adziman. Dirjen Risbang menyatakan diperlukannya kurasi produk riset siap komersialisasi, pengembangan insentif inovasi, serta penyusunan indikator dan laporan inovasi nasional yang lebih kontekstual.
“Tantangan kita hari ini masih ada gap antara hasil riset dan pemanfaatannya oleh masyarakat. Produk riset sebenarnya sudah banyak yang siap, tetapi nilai tambahnya belum optimal, sehingga diperlukan narasi dan strategi hilirisasi dapat terbangun dengan baik,” kata Dirjen Fauzan.
Melalui audiensi ini, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan asosiasi keilmuan guna memastikan pendidikan tinggi dapat unggul, relevan, berdampak, dan berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





