Padang – Persoalan masyarakat dapat menjadi ruang belajar, sementara ilmu pengetahuan dapat menjadi titik awal perubahan. Melalui Program Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (Aksara Mahasiswa), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong mahasiswa membawa pengetahuan dan inovasi dari kampus, untuk hadir di tengah masyarakat. Bukan sekadar menyelesaikan program, mahasiswa didorong untuk memahami persoalan, bekerja bersama masyarakat, dan menghasilkan solusi yang dapat terus memberikan manfaat, Rabu (19/8).
Upaya memperluas dampak dari kampus dan mahasiswa tersebut hadir di Sumatera Barat, melalui Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Penulisan Proposal Mahasiswa Berdampak Program Aksara Mahasiswa, yang digelar Ditjen Riset dan Pengembangan, melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UM Sumbar). Melibatkan mahasiswa dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat dan Jambi, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengubah berbagai persoalan di masyarakat menjadi gagasan, inovasi, dan aksi yang dapat mendukung pembangunan daerah.
Program Aksara Mahasiswa dirancang untuk mempertemukan pengalaman belajar mahasiswa dengan kebutuhan nyata masyarakat. Mahasiswa menjadi pelaku utama, sementara dosen memberikan pendampingan agar gagasan yang dikembangkan tetap memiliki dasar akademik dan dapat diterapkan secara tepat.
Hal ini ditujukan agar program yang disiapkan mahasiswa, dapat terus berkembang menjadi berbagai inisiatif yang sesuai dengan karakteristik lokal. Persoalan pangan dapat melahirkan inovasi pertanian, tantangan lingkungan dapat mendorong teknologi pengelolaan sampah, potensi ekonomi lokal dapat dikembangkan melalui kreativitas mahasiswa, sementara persoalan kesehatan dan energi dapat dijawab melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman menegaskan bahwa keberhasilan Aksara Mahasiswa tidak semata-mata dilihat dari pelaksanaan program, tetapi dari kemampuan mahasiswa dan perguruan tinggi menghadirkan perubahan yang dirasakan masyarakat.
“Karena itu pada akhirnya ukuran keberhasilan kita, bukan sekadar berapa banyak program yang dilaksanakan, tetapi seberapa jauh ilmu pengetahuan, teknologi, keparangan, perguruan tinggi, dan energi mahasiswa mampu menghadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Dirjen Fauzan.
Program Aksara Mahasiswa dibangun dengan gagasan bahwa pembelajaran terbaik tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Ketika mahasiswa berhadapan langsung dengan persoalan masyarakat, mereka tidak hanya dituntut menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari, tetapi juga belajar memahami konteks, membangun komunikasi, bekerja dalam tim, dan merancang solusi yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Pada saat yang sama, masyarakat ditempatkan bukan sebagai penerima manfaat semata, melainkan sebagai mitra yang terlibat dalam proses menemukan dan menjalankan solusi. Pola kolaboratif inilah yang diharapkan membuat program pemberdayaan memiliki keberlanjutan sekaligus meninggalkan manfaat setelah kegiatan mahasiswa selesai.
Kampus Hadirkan Solusi
Pendekatan tersebut menjadi penting agar kegiatan mahasiswa tidak berhenti sebagai aktivitas sesaat. Setiap program perlu memiliki persoalan yang jelas, mitra yang tepat, serta solusi yang memungkinkan untuk dikembangkan dan dilanjutkan oleh masyarakat.
Ketua Tim Kerja Pengabdian kepada Masyarakat DPPM Kemdiktisaintek, Lutfi Ilham Ramdhani, menjelaskan bahwa Aksara Mahasiswa hadir melalui dua skema, yakni Aksara Peduli dan Aksara Sirkular. Aksara Peduli memberikan ruang bagi mahasiswa untuk terlibat dalam berbagai persoalan prioritas masyarakat, termasuk pangan, energi, dan kesehatan. Sementara Aksara Sirkular diarahkan pada penanganan sampah melalui pemilahan, edukasi, penerapan teknologi, penguatan kelembagaan, serta pengembangan ekonomi sirkular. Ketua Tim Kerja Luthfi menekankan bahwa penyusunan program perlu diawali dengan memahami persoalan yang ada di masyarakat dan membangun kerja sama dengan masyarakat untuk menjawab persoalan tersebut.
Semangat tersebut juga mendapat dukungan dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UM Sumbar) sebagai tuan rumah kegiatan. Wakil Rektor I UM Sumbar, Deddy Satria, melihat Aksara Mahasiswa sebagai ruang untuk memperluas pembelajaran mahasiswa sekaligus memperkuat kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat.
Menurutnya, makna Aksara Mahasiswa tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk memahami realitas yang dihadapi masyarakat secara langsung.
“Maka diharapkan melalui program ini itu mahasiswa tidak hanya dituntut untuk membaca buku tetapi juga diharapkan nanti mampu membaca realitas yang ada di lapangan. Jadi tidak hanya pintar dalam menulis dan membaca saja tetapi juga mampu untuk membaca realitas,” ujar Wakil Rektor Deddy.
Wakil Rektor Deddy menambahkan keterlibatan mahasiswa secara langsung di tengah masyarakat diharapkan dapat memperluas ruang belajar sekaligus membuat kehadiran pendidikan tinggi semakin dirasakan masyarakat.
Mahasiswa Hadirkan Dampak
Bagi mahasiswa, proses tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dari pembelajaran konvensional. Menurut Aina mahasiswa Universitas Eka Sakti Padang yang berasal dari program studi Teknologi Hasil Pertanian mengatakan kegiatan tersebut membuatnya memahami bahwa sebuah inovasi harus dimulai dari kebutuhan masyarakat, bukan semata-mata dari gagasan yang ingin dikembangkan.
"Kami belajar bahwa sebelum membuat program, kami harus benar-benar memahami persoalan yang dihadapi masyarakat. Dari sana baru kami menentukan solusi yang paling sesuai. Jadi, keberhasilan program bukan hanya karena idenya bagus, tetapi karena masyarakat memang membutuhkan dan dapat melanjutkannya," ungkap Aina..
Peserta lainnya, Alin dari Institut Teknologi dan Bisnis Haji Agus Salim, melihat Aksara Mahasiswa sebagai kesempatan bagi mahasiswa untuk berkolaborasi sekaligus memperluas pengalaman di luar lingkungan kampus. Menurutnya, proses berdiskusi dengan dosen, mahasiswa dari perguruan tinggi lain, dan calon mitra masyarakat membuka perspektif baru dalam merancang program.
"Kami tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai cara menyusun proposal, tetapi juga belajar bagaimana membuat program yang realistis, memiliki target yang jelas, dan bisa memberikan manfaat dalam jangka panjang. Ini membuat kami lebih percaya diri untuk membawa gagasan mahasiswa ke tengah masyarakat," tutur Alin.
Sementara Muhammad Yahya Ayyash dari Universitas Prima Nusantara Bukittinggi berharap dapat memberikan solusi terbaik bagi masyarakat. Disebutnya mahasiswa memiliki prinsip untuk selalu hadir dan mendukung kapasitas masyarakat untuk lebih maju.
“Ini akan menjadi sebuah pengalaman berharga bagi kami untuk belajar dan berguna bagi masyarakat. Kami akan membawa program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, dan memberi dampak yang baik, membaca persoalan, bekerja bersama masyarakat, dan mengubah pengetahuan menjadi aksi,” jelas Yahya.
Selama kegiatan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai kebijakan Program Aksara Mahasiswa, mekanisme pengusulan, persyaratan, luaran program, serta sistematika penyusunan proposal Aksara Peduli dan Aksara Sirkular. Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai tata kelola administrasi dan keuangan serta kesempatan untuk mendiskusikan gagasan yang akan dikembangkan bersama masyarakat.
Program Aksara Berdampak, menjadi bagian dari upaya membangun cara pandang baru mengenai peran mahasiswa dan perguruan tinggi. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi lulusan yang kompeten, tetapi juga individu yang mampu berkembang. Melalui Aksara Mahasiswa, Kemdiktisaintek terus memperkuat semangat Diktisaintek Berdampak, menjadikan perguruan tinggi bukan hanya tempat belajar dan mengembangkan ilmu, tetapi juga bagian dari ekosistem pembangunan yang hadir untuk menjawab persoalan masyarakat. Dari kampus, lahir gagasan. Dari gagasan, hadir aksi. Dan dari aksi tersebut, diharapkan tumbuh perubahan yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






