YOGYAKARTA – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta terus memperkuat peran pendidikan tinggi seni dalam menjawab berbagai tantangan sosial melalui penyelenggaraan Design Thinking Workshop 2026 bertema Unfolded Future. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Ajiyasa, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta ini merupakan hasil kolaborasi dengan Hochschule Hannover University of Applied Sciences and Arts, Jerman, sekaligus menjadi bagian dari kemitraan akademik kedua institusi yang telah terjalin sejak 2014.
Workshop yang digelar selama delapan hari, pada 4–8 Mei dan 11–13 Mei 2026, menghadirkan mahasiswa, akademisi, praktisi, organisasi sosial, hingga pengelola panti asuhan dalam satu ruang kolaboratif. Melalui kegiatan ini, peserta didorong untuk mengembangkan solusi inovatif atas berbagai persoalan sosial menggunakan pendekatan design thinking.
Program ini dipandu oleh Prof. Dr. (HC) Gunnar Spellmeyer bersama tim akademik dari Hochschule Hannover. Peserta yang berasal dari jenjang sarjana hingga pascasarjana mengikuti rangkaian pembelajaran yang menggabungkan diskusi lintas disiplin, praktik lapangan, dan proses perancangan berbasis kebutuhan nyata masyarakat.
Mengusung tema Unfolded Future, workshop berfokus pada upaya menciptakan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak, khususnya mereka yang tinggal di lingkungan panti asuhan. Tema tersebut menegaskan bahwa desain tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai pendekatan untuk memahami persoalan sosial dan menghadirkan solusi yang berdampak.
Selama kegiatan, peserta menjalani tahapan design thinking mulai dari membangun empati, mengidentifikasi permasalahan, merumuskan ide, membuat prototipe, hingga melakukan evaluasi. Seluruh proses diperkuat melalui observasi langsung dan interaksi bersama anak-anak di panti asuhan, sehingga solusi yang dihasilkan benar-benar berangkat dari kebutuhan dan pengalaman masyarakat.
Dalam sesi diskusi, Muhamad Sholahuddin menekankan pentingnya desain sebagai instrumen yang mampu merespons persoalan sosial sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan. Sementara itu, Dr. Dewanto Sukistono menyoroti pentingnya kolaborasi lintas disiplin sebagai kunci dalam menghasilkan solusi yang relevan terhadap tantangan sosial yang semakin kompleks.
Workshop juga menghadirkan perspektif industri melalui sesi bersama Aria Sungsang Nir Prahara. Pada kesempatan tersebut, peserta diajak memahami bagaimana sebuah gagasan desain dapat dikembangkan menjadi sistem produksi yang lebih terukur dan berkelanjutan, sehingga mampu menjembatani kreativitas dengan kebutuhan industri kreatif.
Penyelenggaraan Design Thinking Workshop 2026 menjadi wujud komitmen ISI Yogyakarta dalam membangun ekosistem pendidikan seni dan desain yang adaptif, inklusif, serta berorientasi pada dampak sosial. Melalui kolaborasi internasional, pendekatan multidisiplin, dan keterlibatan langsung dengan masyarakat, ISI Yogyakarta terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga menghadirkan solusi kreatif bagi berbagai persoalan kehidupan.
Sebagai perguruan tinggi seni negeri yang menyelenggarakan pendidikan dari jenjang diploma hingga doktor, ISI Yogyakarta terus mendorong penguatan pendidikan, penelitian, dan kerja sama internasional yang mampu menghasilkan inovasi serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.







