UNDIP, Jayapura (19/9) – Dalam acara pemaparan dan diskusi hasil temuan lapangan bersama Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara dan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kamis (17/9) di Jayapura, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP) memaparkan capaian kerja sebulan mereka di Kawasan Transmigrasi (KT) Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. Paparan yang bertajuk “Catatan Perjalanan Patriot UNDIP” ini disampaikan oleh Prof. Didik Wisnu Widjajanto, lalu diperkuat cerita lapangan dari tiga perwakilan anggota TEP UNDIP.
Prof. Didik menjelaskan bahwa TEP UNDIP di Senggi beranggotakan 100 mahasiswa dalam 20 tim, dengan 17 tim di Woslay dan 3 tim di Yaffi. Kegiatan tahun ini melanjutkan temuan TEP 2025, yaitu belum optimalnya infrastruktur dan layanan dasar, rendahnya kapasitas petani, serta lemahnya kelembagaan. Hasil pertanian yang kurang menguntungkan bahkan mendorong sebagian warga beralih ke sektor pertambangan. Dari temuan tersebut, TEP UNDIP merumuskan lima luaran, yakni fasilitas fisik, sistem digital, kelembagaan, modul edukasi, dan roadmap kebijakan.
Sebulan berjalan, sejumlah program sudah terlaksana. Di bidang pertanian, tim membuka demplot sawah Lumbung Patriot Dipo dengan padi varietas Mentik Susu Wangi dan mengeruk Embung Patriot sebagai solusi irigasi bagi petani Senggi. Tim juga mengembangkan Jagung Biochar Patriot, yaitu demplot jagung dan hortikultura berbasis arang alami dari limbah pertanian dengan irigasi sprinkler. Di bidang peternakan, program Mini Ranch Patriot Perintis berjalan mulai dari survei awal, FGD bersama peternak, hingga pembangunan kandang komunal.
Di bidang kesehatan dan gizi, program Patriot Educare menghadirkan modul dan booklet edukasi bagi kader, remaja, dan guru, ditambah modul resep Sagu Sapa yang mengolah pangan lokal menjadi camilan sehat. Melalui D’biscu, tim melakukan intervensi biskuit sehat selama 10 minggu bagi minimal 30 wanita usia subur. Tim juga meluncurkan aplikasi Sehati Keerom, platform edukasi kesehatan yang dapat digunakan secara luring oleh kader dan masyarakat di wilayah dengan keterbatasan internet. Selain itu, tim menggarap sistem air minum dan sanitasi serta memperkenalkan literasi risiko bencana kepada masyarakat.
Sejumlah capaian tersebut sejalan dengan pesan yang disampaikan dalam diskusi. Menteri Iftitah menekankan pentingnya hilirisasi yang berdampak bagi masyarakat. Di Senggi, kakao petani kini diolah menjadi cokelat bubuk bermerek Senggi Choco menggunakan solar dryer dome dan kotak fermentasi berbahan kayu lokal. Taher, selaku petani kakao dari Jalur 6, SP 2, menuturkan bahwa program Patriot mengembalikan harapan dan semangat petani. Menurutnya, cokelat bubuk itu menjadi “lentera pertama” bagi petani di Senggi. Sementara itu, Menko AHY menegaskan bahwa sinyal kini menjadi kebutuhan primer di daerah pelosok, aplikasi Sehati Keerom sudah dirancang agar tetap bisa diakses tanpa koneksi internet.
Dalam sesi cerita singkat, tiga perwakilan TEP UNDIP menyampaikan persoalan dan solusi dari lapangan. Dania Putri dari Tim 14 Kementrans (Tim 16 UNDIP) memaparkan pengembangan Sistem Administrasi Lahan berbasis WebGIS bersama Pemerintah Kabupaten Keerom dan Kantor Pertanahan ATR/BPN. “Kami menemukan persoalan seperti perbedaan antara kepemilikan dan penguasaan lahan, bahkan SHM yang belum dapat digunakan sebagai agunan bank,” ujar Dania. Untuk menjawabnya, tim mendata land tenure, land use, dan land value hingga tingkat bidang tanah melalui pemetaan partisipatif yang tidak hanya melibatkan orang dewasa, tetapi juga anak-anak lewat program Patriot Cilik.
Yager Sahaduta menyampaikan upaya menghidupkan kembali perkebunan kakao yang menghadapi tantangan berlapis, mulai dari distribusi air yang tidak merata hingga hama yang telah kebal terhadap bahan kimia. Tim mendorong penyediaan bibit klon unggul yang tahan penyakit melalui kebun bibit lokal bersama Dinas Pertanian, serta membangun fermentation box dan solar dryer dome untuk meningkatkan kualitas biji. “Kami dari Tim Patriot akan mendampingi petani secara intensif untuk menerapkan GAP, terutama dalam hal sanitasi kebun dan pemangkasan rutin,” kata Yager. Tim juga membangun komunikasi dengan pengepul di Arso dan Jayapura agar petani terhubung langsung dengan pembeli, sejalan dengan visi Menko AHY tentang kawasan transmigrasi yang terhubung dengan industri sebagai offtaker.
Adapun Slyses Merryl menyoroti potensi Senggi sebagai sumber bakalan sapi, dengan populasi sekitar 1.323 ekor dan potensi minimal 70 bakalan per bulan. “Senggi memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan sumber bibit bakalan sapi untuk memenuhi kebutuhan provinsi, bahkan seluruh Papua,” ujar Slyses.
Tantangan utamanya adalah harga nitrogen cair untuk inseminasi buatan (IB) di Jayapura yang mencapai Rp300 ribu per liter, sekitar 18 kali lipat dibandingkan harga di Jawa. “Kami berharap pemerintah atau pihak terkait dapat menarik investor produsen nitrogen cair ke Papua, lebih baik lagi di Jayapura, untuk mendukung kebutuhan IB,” ungkap Slyses.
Berkolaborasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Keerom dan Provinsi Papua, yang menyiapkan inseminator serta dukungan berupa vitamin, hormon sinkronisasi birahi, nitrogen cair, dan semen beku sapi bali, TEP UNDIP merencanakan Pekan Inseminasi Buatan di Senggi pada minggu kedua hingga keempat Oktober 2026 untuk mendampingi kelompok Patriot Perintis (Peternak Indonesia Timur Senggi).
Bagi TEP UNDIP, rangkaian program ini adalah jawaban atas pergeseran cara pandang yang ditegaskan Menko AHY, bahwa kawasan transmigrasi bukan sekadar memindahkan masyarakat, melainkan membuat mereka hidup tenang, aman, nyaman, dan sejahtera karena punya pekerjaan. Dari lahan, pertanian, peternakan, kesehatan, hingga sistem digital, para Patriot UNDIP berupaya memastikan potensi warga Senggi tumbuh menjadi ekonomi yang lebih besar, sejalan dengan semangat think big yang disuarakan dalam diskusi tersebut. (Komunikasi Publik/UNDIP)

Dok. Foto: Tim Ekspedisi Patriot UNDIP & Instagram @agusyudhoyono





