Dari Kakao hingga WebGIS, Inovasi Ekspedisi Patriot UNDIP di Papua Dapat Apresiasi Pemerintah

Kampus Kita

19 September 2026 | 22.00 WIB

Dari Kakao hingga WebGIS, Inovasi Ekspedisi Patriot UNDIP di Papua Dapat Apresiasi Pemerintah

UNDIP, Jayapura (19/9) – Program Tim Ekspedisi Patriot 2026 yang diinisiasi oleh Kementerian Transmigrasi telah menerjunkan 1.476 mahasiswa dan peneliti terpilih ke 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia. Secara khusus, implementasi program di wilayah Papua mendapatkan atensi dari pemerintah pusat. Hal ini tercermin dalam agenda pemaparan dan diskusi hasil temuan lapangan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) dari Universitas Diponegoro (UNDIP) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang ditinjau langsung oleh Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, bersama Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), pada Kamis (17/9) di Jayapura.

Acara dibuka dengan sambutan dari Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, yang menekankan pentingnya riset dan pemetaan potensi ekonomi yang berdampak pada masyarakat. Beliau memaparkan potensi hilirisasi di kawasan transmigrasi, seperti keberhasilan pembuatan fruit leather dari tomat dan cabai di Manokwari untuk mengatasi sisa panen yang terbuang, serta pemanfaatan kotoran ternak menjadi pupuk dan biogas. Menteri Iftitah juga mengapresiasi inisiatif pembangunan tower untuk digitalisasi daerah guna memperkuat sinyal di wilayah terpelosok.   

Memasuki agenda utama, sesi pemaparan oleh perwakilan TEP UNDIP yang bertugas di Kabupaten Keerom, mencakup Distrik Senggi dan Distrik Yaffi. Pendekatan tim terbagi dalam lima luaran utama, yaitu fasilitas fisik, sistem digital, kelembagaan organisasi, penyusunan modul edukasi serta rekomendasi/kebijakan. Dalam upaya digitalisasi dan mitigasi, tim secara proaktif melakukan pemetaan bahaya bencana, pelayanan dasar, dan manajemen lahan yang dikembangkan dalam bentuk WebGIS.

Lebih lanjut, klaster fisik dan pertanian dari TEP UNDIP menyoroti tantangan distribusi air yang tidak merata serta serangan hama yang telah kebal terhadap bahan kimia pada perkebunan kakao. Menjawab tantangan tersebut, anggota TEP UNDIP memaparkan langkah konkret mereka di lapangan. Untuk sektor pertanian di Senggi, tim melakukan peremajaan tanaman kakao menggunakan klon unggul yang tahan penyakit serta mengedukasi warga terkait praktik pertanian yang baik. Guna meningkatkan nilai jual pascapanen, tim juga merintis pembangunan fermentation box dan solar dryer dome.   

Sementara itu, di sektor peternakan yang memiliki potensi besar, tim mendapati kendala mahalnya harga nitrogen cair di Jayapura yang mencapai Rp300.000,- per liter, 18 kali lipat dari harga di Pulau Jawa dan tentunya sangat membebani proses inseminasi buatan (IB). Berkolaborasi dengan dinas terkait, tim TEP UNDIP merencanakan pelaksanaan pekan inseminasi buatan dengan menyuplai kebutuhan hormon, nitrogen cair, dan semen beku sapi bali secara mandiri untuk membantu dan mendampingi kelompok Patriot Perintis (Peternak Indonesia Timur Senggi).   

Perwakilan TEP ITB turut memaparkan progres kegiatan mereka di kawasan transmigrasi Lereh. TEP ITB menyoroti sejumlah capaian di bidang infrastruktur dasar dan tata kelola lingkungan, yang meliputi pembangunan jaringan pipa air bersih, optimalisasi sinyal telekomunikasi melalui repeater jaringan, reaktivasi Taman Baca Masyarakat (TBM) untuk pendidikan warga, serta perbaikan fasilitas sanitasi dan drainase publik

Diskusi ditutup dengan tanggapan komprehensif dari Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Beliau memberikan apresiasi tinggi terhadap jiwa patriotisme, keikhlasan, dan keberanian mahasiswa untuk mengabdi di tanah Papua. “Siapa pun yang tergerak karena nilai patriotisme, pasti ia berani untuk keluar dari zona nyaman dan bahkan melakukan hal-hal yang lebih dari yang diharapkan,” ujar Menko AHY memotivasi para anggota Tim Ekspedisi Patriot.

Menko AHY menekankan bahwa pemenuhan infrastruktur dasar, seperti akses jalan yang memangkas waktu tempuh, jembatan, dan air bersih, merupakan urat nadi ekonomi yang harus terus didorong oleh pemerintah. Beliau juga menyoroti pentingnya ketersediaan telekomunikasi di daerah pelosok. “Sinyal ini sekarang sebagai kebutuhan primer. Bukan lagi kebutuhan sekunder, apalagi tersier. Kita bisa lebih menahan rasa lapar kadang dibandingkan kehilangan sinyal,” ungkapnya.

Selain itu, Menko AHY menyoroti pentingnya merevitalisasi kawasan transmigrasi yang telah berusia puluhan tahun dengan fasilitas hidup yang berkelanjutan. Beliau menegaskan perlunya pergeseran cara pandang dalam mengelola kawasan tersebut. “Paradigma ini yang kita ubah. Dari sekadar memindahkan masyarakat dari Jawa ke luar Jawa, tapi bagaimana membuat masyarakat di kawasan itu hidup tenang, aman, nyaman, dan sejahtera karena punya pekerjaan,” tegasnya.

Ke depannya, Menko AHY menegaskan visi besar pemerintah untuk mengubah kawasan transmigrasi agar tidak hanya bergantung pada perekonomian lokal semata, melainkan dengan menghubungkan potensi lahan dan SDM setempat dengan pihak industri selaku offtaker. Mengutip kembali semangat dari Menteri Transmigrasi, Menko AHY menyatakan, “Transmigrasi tidak ingin berhenti pada ekonomi setempat, tapi menghadirkan ekonomi skala industri. Why not? Think big. Why not the best?” pungkasnya menutup sesi diskusi. (Komunikasi Publik/UNDIP) 

Dok. Foto: Tim Ekspedisi Patriot UNDIP & Instagram @agusyudhoyono

DiktisaintekBerdampak

UNDIP

/

5

Ulas Sekarang