Dirjen Dikti Dorong Transformasi Kampus Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045

Kabar

23 August 2025 | 17.46 WIB

Dirjen Dikti Dorong Transformasi Kampus Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045

Makassar – “Pendidikan tinggi adalah senjata paling ampuh untuk mengubah masa depan bangsa.” Kutipan Nelson Mandela ini menggema kuat dalam orasi ilmiah Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi, pada peringatan Dies Natalis ke-26 Universitas Almarisah Madani, Sabtu (23/8).

Di tengah pusaran perubahan global yang cepat dan dinamis, pendidikan tinggi bukan hanya sebagai ruang akademik, melainkan senjata strategis untuk menyiapkan generasi yang mengampu Indonesia menuju visi besar Indonesia Emas 2045.

Arkian, seratus tahun Indonesia merdeka tersisa dua dekade lagi. Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan bangsa yang berdaya saing global, berpengaruh di lanskap pendidikan dunia, dan sejahtera di dalam negeri. Namun, untuk mencapai kerja baik tersebut, perguruan tinggi harus siap menghadapi tantangan berat: krisis global, disrupsi teknologi, dan ketatnya kompetisi internasional.

“Kecerdasan buatan, big data, bioteknologi, hingga otomasi akan mengubah wajah dunia kerja. Di saat yang sama, kita juga menghadapi perubahan iklim, kesehatan publik, dan ketidakpastian geopolitik. Semua itu menuntut solusi berbasis ilmu pengetahuan,” jelas Dirjen Khairul.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Almarisah Madani, Nursamsiar, menyambut baik pesan yang disampaikan Dirjen Dikti. Ia menegaskan komitmen kampus untuk menjadi bagian dari transformasi pendidikan tinggi di Indonesia.

“Kami percaya, peran universitas tidak boleh berhenti di ruang kuliah. Univeral ingin menjadi kampus berdampak yang menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat, khususnya di Sulawesi, dan ikut menguatkan agenda Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, perguruan tinggi tidak cukup hanya bersaing di tingkat nasional, tetapi juga harus mampu menembus regional dan dunia.

Dirjen Dikti memaparkan bagaimana pendidikan tinggi mengalami transformasi besar. Dari Universitas Klasik (generasi 1.0) yang hanya berfokus pada pengajaran, ke Universitas Riset (2.0) yang menekankan inovasi ilmiah, lalu Universitas Kewirausahaan (3.0) yang bersinergi dengan industri, kini dunia memasuki Universitas 4.0.

Universitas 4.0 tidak hanya berurusan dengan digitalisasi, tetapi juga dampak sosial, inovasi inklusif, dan keberlanjutan. Kolaborasi tidak lagi sebatas akademisi, industri, pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat luas (quadruple helix).

“Tujuan akhirnya adalah transformasi sosial-ekonomi dan pencapaian SDGs. Kampus harus menjadi ruang lahirnya solusi, bukan hanya tempat belajar,” tegasnya.

Dirjen Dikti juga menekankan pentingnya membangun mental model generasi emas: semangat kolaboratif, fondasi etika dan spiritual, pola pikir bertumbuh (growth mindset), dan orientasi berdampak.

Lebih lanjut, Dirjen Dikti menegaskan bahwa strategi pendidikan tinggi harus diarahkan pada kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan bangsa. Strategi tersebut mencakup pendidikan berbasis dampak dengan pendekatan challenge-based learning, integrasi capstone project, serta keterlibatan komunitas agar mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mengasah kepedulian sosialnya.

“Perguruan tinggi juga didorong untuk memperkuat riset dan inovasi terapan, terutama pada bidang kesehatan dan teknologi, sehingga hasilnya benar-benar dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Sejalan dengan itu, digitalisasi dan internasionalisasi menjadi kunci untuk memperluas jejaring akademik, baik di kawasan ASEAN maupun tingkat global. Namun, transformasi ini tidak boleh melupakan fondasi karakter. Karena itu, penguatan karakter madani menjadi aspek penting agar kampus hadir sebagai ruang yang inklusif, berakhlak, dan menjadi teladan sosial.

“Dengan keseimbangan antara ilmu, teknologi, dan nilai-nilai kemanusiaan, pendidikan tinggi diharapkan mampu melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga bijak dan berdampak,” pungkas Khairul Munadi.

Orasi ilmiah itu ditutup dengan seruan optimis. Pendidikan tinggi, jelasnya, tidak boleh hanya menghasilkan lulusan dengan ijazah, melainkan generasi yang mampu menghadirkan dampak dan solusi bagi sekitar.

“Kampus harus bisa melahirkan dampak yang nyata, bukan hanya gelar semata. Inilah jalan kita menuju Indonesia Emas 2045,” tutup Dirjen Dikti.

/

5

Ulas Sekarang