Jakarta-Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menegaskan bahwa penguatan kemampuan berpikir, rasa ingin tahu, dan kreativitas menjadi fondasi penting dalam mempersiapkan generasi muda Indonesia menghadapi perkembangan kecerdasan artifisial (AI). Hal tersebut disampaikan saat menjadi pembicara pada Workshop Awan Cerah di Taman Ismail Marzuki, Minggu (26/7).
Dalam paparannya, Wamen Stella menekankan bahwa perkembangan AI perlu disikapi sebagai momentum untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya membekali peserta didik dengan keterampilan teknis, tetapi juga harus mengembangkan kemampuan berpikir yang menjadi keunggulan manusia.
Dalam kesempatan tersebut, Wamen Stella mengingatkan bahwa AI telah membawa perubahan pada dunia kerja. Karena itu, manusia perlu memiliki kemampuan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
"Kalau kemampuan kita adalah kemampuan Artificial Intelligence, dan kemampuan anak-anak yang Anda didik adalah kemampuan Artificial Intelligence, saya jamin 100 persen mereka akan digantikan oleh Artificial Intelligence," tegas Wamen Stella.
Menurut Wamen Stella keunggulan manusia terletak pada kemampuan berpikir, bernalar, dan menciptakan inovasi. Oleh sebab itu, pendidikan perlu memberi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan tersebut sejak usia dini.
Wamen Stella juga menekankan pentingnya menumbuhkan rasa ingin tahu sebagai fondasi kreativitas. Menurutnya, kreativitas bukanlah kemampuan yang muncul secara tiba-tiba, melainkan dapat dibangun melalui lingkungan yang mendorong anak untuk bertanya, mengeksplorasi, dan menemukan pengetahuan secara mandiri.
"Step nomor satu harus punya rasa ingin tahu. Kalau kita tidak punya rasa ingin tahu, kemampuan untuk kreatif kita akan mati," ujar Wamen Stella.
Selain itu, Wamen Stella menekankan pentingnya pembelajaran aktif (activelearning), yaitu proses belajar yang mendorong peserta didik berpikir, mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan belajar melalui pengalaman. Pendekatan tersebut dapat diterapkan baik melalui aktivitas bermain maupun melalui pemanfaatan teknologi digital yang dirancang untuk mendorong partisipasi aktif peserta didik.
Menutup paparannya, Wamen Stella mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari orang tua, guru, hingga masyarakat, untuk terus menumbuhkan budaya berpikir dalam kehidupan sehari-hari sebagai bekal menghadapi perkembangan teknologi.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak






