Kupang–Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan provinsi urutan ketiga secara nasional terdampak kasus stunting, setelah Provinsi Papua dan Papua Tengah. Berdasarkan Data BPS per September 2025 tingkat kemiskinan Provinsi NTT mencapai 17,5% yang menempati posisi ke enam secara nasional. Atas hal itu Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui perguruan tinggi menghadirkan solusi yang diwujudkan melalui Program Mahasiswa Berdampak KKN Tematik GENTASKIN (Gerakan NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif) Batch II Tahun 2026 yang secara resmi dilepas oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, di Aula Utama Kantor Bupati Kupang, Kamis (9/7).
Program Mahasiswa Berdampak KKN Tematik GENTASKIN yang diselenggarakan oleh LLDIKTI Wilayah XV merupakan implementasi Program Mahasiswa Berdampak Kemdiktisaintek, yang mengintegrasikan tridharma perguruan tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat berbasis penyelesaian persoalan prioritas pembangunan di Provinsi NTT. Fokus program diarahkan pada percepatan penurunan stunting, pengurangan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, peningkatan kualitas pendidikan, serta penguatan tata kelola desa.
Sebanyak 2.319 mahasiswa yang didampingi 100 dosen pembimbing lapangan dari 41 perguruan tinggi akan melaksanakan pengabdian di 100 desa pada 13 kabupaten di Provinsi NTT selama kurang lebih dua bulan, mulai 9 Juli hingga 31 Agustus 2026. Mahasiswa ditempatkan dalam tim multidisiplin yang menggabungkan berbagai bidang keilmuan sehingga mampu menghadirkan solusi yang lebih komprehensif sesuai kebutuhan masyarakat di setiap desa.
Dalam sambutannya, Wamendiktisaintek Fauzan menegaskan bahwa Program Mahasiswa Berdampak merupakan bagian dari transformasi pendidikan tinggi agar perguruan tinggi semakin dekat dengan masyarakat dan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah.
"Perguruan tinggi adalah bagian dari entitas sosial. Ilmu pengetahuan, riset, dan sumber daya yang dimiliki kampus harus dikontribusikan untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas sehingga benar-benar menghadirkan pendidikan tinggi yang berdampak," ujar Wamen Fauzan.
Wamen Fauzan menjelaskan bahwa pengabdian mahasiswa melalui KKN merupakan satu dari sekian banyak yang akan dilakukan oleh perguruan tinggi untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah. Masa depan riset, inovasi, dan pengabdian dosen perlu disinergikan dengan kebutuhan pembangunan daerah agar menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan kebijakan.
"Kita berharap perguruan tinggi tidak berjalan secara sendiri namun melalui kolaborasi. Mulai dari riset, pengabdian kepada masyarakat, dan inovasi dapat digabungkan sehingga mampu mempercepat penyelesaian persoalan yang dihadapi daerah NTT. Perguruan tinggi harus mampu membaca kebutuhan daerah dan menghadirkan solusi yang sesuai melalui riset dan pengabdian kepada masyarakat sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," jelas Wamen Fauzan.
Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV, Adrianus Amheka, menjelaskan bahwa Program Mahasiswa Berdampak KKN Tematik GENTASKIN Batch II merupakan kelanjutan pelaksanaan program tahun sebelumnya sekaligus penguatan implementasi Program Mahasiswa Berdampak di wilayah NTT.
Program yang melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari kesehatan, pendidikan, pertanian, teknik, ekonomi, teknologi informasi, hukum, pemerintahan hingga komunikasi. Seluruh peserta ditempatkan secara lintas perguruan tinggi sehingga setiap desa memperoleh dukungan kompetensi yang saling melengkapi.
Melalui pendekatan multidisiplin, mahasiswa akan melaksanakan berbagai program pemberdayaan masyarakat, antara lain edukasi pencegahan stunting, pendampingan Posyandu, pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), literasi keuangan, penguatan ketahanan pangan keluarga, sanitasi lingkungan, digitalisasi desa, pendampingan administrasi pemerintahan desa, penguatan literasi pendidikan, hingga publikasi potensi desa. Seluruh kegiatan dilaksanakan secara partisipatif bersama pemerintah desa dan masyarakat.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena mengapresiasi dukungan Kemdiktisaintek dalam memperkuat keterlibatan perguruan tinggi terhadap pembangunan daerah. Menurutnya, kehadiran mahasiswa dan sivitas akademika di tengah masyarakat menjadi langkah penting untuk menghadirkan penyelesaian persoalan secara lebih ilmiah dan berbasis data.
"Kami berharap berbagai persoalan pembangunan di NTT dapat didekati secara lebih saintifik melalui kekuatan perguruan tinggi. Dengan keterlibatan kampus, pemerintah daerah dapat memperoleh solusi yang berbasis riset sehingga penanganan persoalan seperti stunting, kemiskinan, pendidikan, maupun pengembangan potensi daerah dapat dilakukan secara lebih tepat dan berkelanjutan," kata Gubenur Emanuel.
Program Mahasiswa Berdampak KKN Tematik GENTASKIN Batch II juga memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, dunia usaha, dunia industri, serta berbagai mitra pembangunan dalam membangun model pengabdian masyarakat yang terukur, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak KKN Tematik GENTASKIN Batch II Tahun 2026, Kemdiktisaintek terus mendorong perguruan tinggi agar tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi mitra strategis pemerintah dalam menghadirkan solusi berbasis riset bagi pembangunan daerah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak







