Jakarta—Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menegaskan bahwa kemampuan manusia yang tidak tergantikan oleh kecerdasan artifisial (AI) adalah pada kapasitas untuk mengevaluasi, mengkritisi, dan mengambil keputusan di atas hasil kerja AI. Hal tersebut disampaikan dalam paparan bertajuk “AI untuk Kemanusiaan” pada Peluncuran Pusat Inovasi Digital Indonesia (DIGDAYA x Hackathon 2026), Kamis (30/4).
Dalam paparannya, Wamendiktisaintek menyoroti bahwa Indonesia berpotensi besar untuk ikut membentuk arah pemanfaatan AI secara global. Hal ini diperkuat dengan jumlah pengguna internet sebesar sekitar 210 juta orang dan tingkat penetrasi mencapai 83%.
Lebih lanjut, Wamen Stella menjelaskan bahwa perkembangan AI membawa manfaat dan risiko yang berjalan beriringan dalam dimensi yang sama. Di satu sisi, AI berpotensi meningkatkan pengangguran, memperbesar ancaman keamanan siber, menurunkan reliabilitas informasi, serta memperlebar kesenjangan. Namun, di sisi lain, AI mampu menciptakan peluang ekonomi baru, meningkatkan efisiensi, serta memperluas akses bagi masyarakat, contohnya terhadap pendidikan dan layanan kesehatan. Oleh karena itu, pendekatan pengembangan talenta digital tidak dapat lagi hanya berfokus pada keterampilan teknis, melainkan harus mengedepankan kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan reflektif. Kemampuan inilah yang menjadi pembeda utama antara manusia dan mesin.
“Yang membuat manusia tidak tergantikan bukan hanya kemampuan menggunakan AI, tetapi kemampuan untuk mengevaluasi apakah luaran AI itu benar, relevan, dan dapat digunakan secara bertanggung jawab. Dengan demikian, manusia tidak akan pernah tergantikan oleh AI,” tegas Wamen Stella.
Lebih lanjut Wamendiktisaintek menyoroti pentingnya pelatihan dan pengembangan kapasitas AI, untuk difokuskan pada kelompok yang paling terdampak oleh disrupsi teknologi, sekaligus memperkuat keterampilan esensial seperti berpikir analitis, kreativitas, ketahanan, dan kemampuan belajar sepanjang hayat. Wamen Stella lantas menekankan, bahwa pendekatan human-in-the-loop harus menjadi kunci.
“Pengembangan kapasitas AI, difokuskan pada kelompok yang paling terdampak oleh disrupsi teknologi, sekaligus memperkuat keterampilan esensial seperti berpikir analitis, kreatif, dan belajar sepanjang hayat, di mana manusia tetap berperan sebagai pengambil keputusan utama dalam ekosistem teknologi,” pungkas Wamendiktisaintek.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor, baik antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, maupun komunitas, untuk memastikan bahwa pengembangan AI tetap berorientasi pada kemanusiaan dan memberikan dampak yang inklusif.
Melalui forum ini, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk memastikan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kapasitas untuk mengelola, mengarahkan, dan memanfaatkan AI secara bijak demi kemajuan bersama.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






