Program Kosabangsa Tingkatkan Nilai Tambah Ubi Jalar dan Jeruk Pamelo di Desa Padang Lampe

Kabar

22 Juni 2026 | 16.45 WIB

Program Kosabangsa Tingkatkan Nilai Tambah Ubi Jalar dan Jeruk Pamelo di Desa Padang Lampe

Makassar - Bagi petani di Desa Padang Lampe, masa panen tidak selalu menjadi kabar baik. Ubi jalar yang baru dipanen hanya mampu bertahan sekitar dua bulan sebelum kualitasnya menurun, sementara sebagian jeruk pamelo kerap tidak terserap pasar karena ukuran dan tampilannya tidak sesuai standar penjualan. Akibatnya, sebagian hasil pertanian yang seharusnya memberikan nilai ekonomi justru berisiko terbuang atau dijual dengan harga rendah.

Melalui Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa), tim pelaksana dari Universitas Wira Bhakti bersama tim pendamping dari Universitas Tanjungpura berupaya menjawab tantangan tersebut melalui diversifikasi produk dan penerapan teknologi pengolahan hasil pertanian.

Ketua tim pelaksana, Hadriana Hanafie, menjelaskan bahwa program difokuskan pada pemberdayaan Kelompok Tani Mapideceng dan Kelompok Wanita Tani Ujung Tanah. Pendampingan dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal melalui pengolahan hasil pertanian menjadi berbagai produk yang memiliki daya simpan lebih panjang dan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pengolahan ubi jalar menjadi tepung mocaf. Melalui pemanfaatan teknologi pengering dome bertenaga surya, ubi jalar yang sebelumnya memiliki masa simpan terbatas dapat diolah menjadi bahan baku pangan dengan daya simpan hingga enam bulan. Inovasi ini tidak hanya mengurangi potensi kerugian pascapanen, tetapi juga membuka peluang pengembangan berbagai produk turunan berbasis tepung mocaf.

“Selama ini umur dari hasil pertanian sangat singkat, kini bisa bertahan hingga 6 bulan dan bisa berpotensi menjadi salah satu program pemerintah yakni ketahanan pangan, serta dapat menjadi solusi alternatif ketersediaan pangan saat terjadi rawan bencana,” kata Hadriana.

Tepung mocaf tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Kelompok Wanita Tani Ujung Tanah untuk menghasilkan beragam produk olahan, mulai dari cookies bebas gluten hingga mi berbahan dasar ubi jalar. Produk-produk tersebut menjadi alternatif pangan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah.

Hadriana menambahkan, selain ubi jalar, program ini juga mengoptimalkan pemanfaatan jeruk pamelo melalui pengembangan berbagai produk bernilai ekonomi, seperti marmalade, permen keras, permen jelly, hingga es krim. Pengolahan tersebut menjadi salah satu strategi untuk memperluas pemanfaatan hasil panen sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

“Jeruk pamelo merupakan salah satu unggulan Desa Padang Lampe dengan luas lahan mencapai 1.614 hektare dari total potensi lahan sekitar 2.500 hektare. Dengan tingkat produksi yang mencapai puluhan ribu ton per tahun, potensi kehilangan hasil saat panen raya cukup besar karena sebagian buah tidak memenuhi standar pasar. Karena itu, kami mengolahnya menjadi produk seperti marmalade, permen jelly, permen keras, dan es krim agar memiliki nilai tambah sekaligus mengurangi potensi pemborosan hasil panen,” ujarnya.

Menurut Hadriana, respons masyarakat terhadap program tersebut sangat positif. Masalah yang dihadapi oleh petani dan kelompok usaha masyarakat selama ini terjawab melalui penerapan teknologi pengolahan dan diversifikasi produk.

Selain memperpanjang masa simpan hasil pertanian, program ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Kelompok Wanita Tani Ujung Tanah tercatat memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta dari pengembangan produk olahan yang dihasilkan melalui program tersebut.

Lebih dari sekadar menghasilkan produk baru, tim turut memperkenalkan berbagai teknologi pengolahan pangan kepada masyarakat, mulai dari pengering tenaga surya, juicer, dehydrator, hingga mesin pembuat es krim. Transfer teknologi tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal secara mandiri.

Dengan memaksimalkan potensi lokal yang selama ini belum optimal, Program Kosabangsa membuktikan bahwa inovasi sederhana dengan arah yang tepat dapat menjadi simpul perubahan dalam mendorong nilai tambah hasil bumi sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa.

Humas Ditjen Risbang
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak
#Kosabangsa2025
#PengabdianKepadaMasyarakat

/

5

Ulas Sekarang