Jakarta-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan komitmennya memperkuat sumber daya manusia (SDM) unggul sebagai fondasi pembangunan sektor antariksa nasional. Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, (Wamendiktisaintek), Stella Christie dalam Diskusi Panel "50 Tahun Satelit Indonesia: Kedaulatan Digital dari Ruang Angkasa" di Auditorium BRIN, Rabu (8/7).
Dalam paparannya, Wamen Stella menekankan bahwa sektor antariksa kini menjadi salah satu teknologi strategis yang menentukan daya saing suatu negara. Mengacu pada Critical and Emerging Technology Index yang diterbitkan Harvard Belfer Center, antariksa merupakan satu dari lima teknologi kritis dunia bersama Kecerdasan Artifisial, bioteknologi, teknologi kuantum, dan semikonduktor.
"Antariksa itu sejak dulu sampai sekarang terus berkelanjutan sebagai satu dari lima critical technology yang harus terus dipantau. Penguasaan lima critical technology ini akan memutuskan siapa yang menguasai dunia, siapa yang akan paling maju ekonominya dari lima area tersebut salah satunya mengenai antariksa. Ini yang saya rasa satu hal yang kita belum di Indonesia," ujar Wamen Stella.
Menurut Wamen Stella, faktor utama yang membedakan kemajuan negara-negara di bidang antariksa adalah kualitas sumber daya manusia. Indonesia dinilai memiliki talenta muda yang potensial, namun masih menghadapi tantangan dalam membangun ekosistem pendidikan yang mampu menghasilkan tenaga ahli secara berkelanjutan.
Sebagai langkah awal, Kemdiktisaintek bersama para pakar tengah memetakan bidang-bidang antariksa yang paling memungkinkan untuk dikembangkan menjadi Center of Excellence di perguruan tinggi maupun politeknik. Pemetaan tersebut mencakup bidang prioritas, kebutuhan tenaga pengajar, hingga model pengembangan yang dapat diadaptasi dari berbagai negara.
Selain membangun pusat kemahiran, Kemdiktisaintek juga akan memperkuat kapasitas dosen dan tenaga pengajar melalui pendidikan doktoral, pelatihan, serta kolaborasi dengan berbagai institusi di dalam maupun luar negeri. Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat lahirnya tenaga ahli yang akan menjadi fondasi pengembangan pendidikan dan riset antariksa nasional.
Lebih lanjut, Wamen Stella menegaskan bahwa pembangunan ekosistem antariksa harus dimulai dari penguatan pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan akan melahirkan talenta, menarik investasi, membangun infrastruktur, sekaligus menghasilkan inovasi yang berkelanjutan.
“Setelah ada infrastruktur, ilmu pengetahuan akan bertambah. Karena dengan adanya infrastruktur berarti kita bisa membangun pengetahuan-pengetahuan dan inovasi yang lebih dimungkinkan. Ini semua bermula dari pengetahuan," ungkap Wamendiktisaintek.
Wamendiktisaintek menambahkan bahwa Indonesia juga perlu memiliki pusat kemahiran yang benar-benar menghasilkan keunggulan nyata. Wamen Stella mengibaratkan pengembangan bidang sains dan teknologi seperti pembinaan cabang olahraga yang mampu melahirkan prestasi dunia melalui ekosistem yang kuat dan berkelanjutan.
Diskusi panel yang dimoderatori Meiditomo Sutyarjoko tersebut turut menghadirkan Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto; Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Adis Alifiawan; serta Ketua Umum ARIKSA, Adi Rahman Adiwoso.
Para narasumber juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, industri, dan pemerintah untuk membangun ekosistem antariksa nasional yang mendukung kemandirian teknologi Indonesia.
Menutup paparannya, Wamen Stella mengutip pidato Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy di Rice University pada 12 September 1962 serta mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berani mengambil tantangan besar dalam membangun kedaulatan teknologi Indonesia.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak







