Kemdiktisaintek Dorong Perguruan Tinggi Adaptif terhadap AI dan Perkuat Wirausaha Berbasis Teknologi

Kabar

14 Agustus 2026 | 15.00 WIB

Kemdiktisaintek Dorong Perguruan Tinggi Adaptif terhadap AI dan Perkuat Wirausaha Berbasis Teknologi

Bandung - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perguruan tinggi untuk adaptasi terhadap perkembangan kecerdasan artifisial (AI), baik melalui penguatan kompetensi dosen, penyesuaian kurikulum, maupun pemanfaatan AI dalam kegiatan penelitian. Adaptasi tersebut dinilai penting seiring perubahan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan ekonomi yang semakin dipengaruhi teknologi, Jumat (7/8).


Hal tersebut disampaikan Plt. Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, dalam gelaran 11th Global Conference on Business Management and Entrepreneurship (GCBME) 2026 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. 


Plt. Sesjen Badri menjelaskan bahwa AI telah digunakan dalam berbagai fungsi bisnis, mulai dari memahami pelanggan, meningkatkan layanan, mengotomatisasi pekerjaan rutin, mengembangkan produk, hingga mempercepat pengambilan keputusan. Menurutnya, perkembangan tersebut juga membawa perubahan terhadap cara masyarakat bekerja, belajar, berkomunikasi, serta kebutuhan keterampilan tenaga kerja.


“Kita saat ini tidak lagi berada pada tahap mempertanyakan apa yang dapat dilakukan AI untuk pekerjaan kita. Sebaliknya, kita harus bertanya, apa yang seharusnya dilakukan AI dan apa yang harus tetap menjadi tanggung jawab manusia,” ujar Plt Sesjen Kemdiktisaintek.


Plt. Sesjen Badri menekankan bahwa perguruan tinggi perlu memahami bukan hanya bagaimana organisasi mengadopsi AI, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab, inklusif, dan berkelanjutan. Menurutnya, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap aspek manusia.


“Kita membutuhkan pemimpin yang memahami teknologi, tetapi juga memahami manusia. Kita membutuhkan bisnis yang inovatif, tetapi juga bertanggung jawab. Dan kita membutuhkan penelitian yang dapat membantu organisasi mengambil keputusan yang lebih baik dalam lingkungan yang berubah dengan cepat ini,” tutur Plt. Sesjen Kemdiktisaintek.


Dalam konteks pendidikan tinggi, Plt. Sesjen Badri menilai perkembangan AI menjadi peluang sekaligus tantangan bagi dosen dan profesor. Perguruan tinggi perlu meningkatkan kemampuan tenaga pendidik agar mampu mengintegrasikan AI ke dalam pembelajaran dan mempersiapkan mahasiswa menghadapi kebutuhan masa depan.


Perguruan tinggi juga didorong untuk menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan pekerjaan masa depan. Kompetensi seperti AI dan Big Data, literasi teknologi, jaringan dan keamanan siber, serta creative thinking dinilai perlu mendapat perhatian dalam pengembangan pembelajaran.


Di sisi lain, Plt. Sesjen Badri menilai perguruan tinggi memiliki peran dalam memperkuat kewirausahaan berbasis sains dan teknologi. Mahasiswa didorong untuk melihat persoalan di lingkungan sekitar sebagai peluang untuk mengembangkan solusi dan inovasi, salah satunya melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah.


Dalam kesempatan tersebut, Plt Sesjen Kemdiktisaintek menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan komunitas profesional, dalam mendukung kewirausahaan berbasis sains dan teknologi.


“Melalui forum internasional seperti GCBME, kami harapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi dapat membuka peluang kerja sama penelitian, publikasi bersama, mobilitas akademik, dan kegiatan akademik lainnya, khususnya dalam mendukung peran kampus menghadirkan wirausaha berbasis sains dan teknologi,” tutup Plt. Sesjen Kemdiktisaintek.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Ulas Sekarang