Karantina Goes to Campus 2026 di Unhas, Soroti Pentingnya Biosekuriti

Kampus Kita

05 Oktober 2026 | 23.00 WIB

Karantina Goes to Campus 2026 di Unhas, Soroti Pentingnya Biosekuriti

MAKASSAR — Komoditas pertanian, perikanan, dan peternakan bergerak semakin cepat melewati batas wilayah dan negara. Bersamaan dengan itu, ada risiko yang ikut berpindah: hama, penyakit hewan, organisme pengganggu tumbuhan, hingga ancaman terhadap biodiversitas.

Risiko tersebut menjadi perhatian dalam Karantina Goes to Campus 2026 yang digelar Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Selatan di Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa, 6 Oktober 2026. Kegiatan bertema “Think Global, Protect Local: Peran Generasi Muda Menuju Indonesia Emas” itu mengajak mahasiswa melihat karantina bukan semata sebagai pemeriksaan komoditas di pintu masuk negara.

Kepala Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Selatan, Ir. Sitti Chadidjah, M.Si., mengatakan mobilitas komoditas membuka peluang ekonomi bagi Sulawesi Selatan. Namun, pergerakan itu juga membawa konsekuensi terhadap sumber daya hayati.

“Komoditas pertanian, perikanan, maupun peternakan dari Sulsel dapat bergerak dan menjangkau berbagai negara. Hal tersebut membuka peluang ekonomi yang besar. Namun, mobilitas tersebut juga membawa risiko penyebaran hama dan penyakit,” kata Sitti.

Karena itu, menurut dia, perlindungan sumber daya hayati tidak cukup dilakukan ketika ancaman sudah muncul. Pencegahan perlu dilakukan sejak komoditas berada di negara asal hingga masuk dan beredar di Indonesia.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok bahasan yang disampaikan Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Badan Karantina Indonesia, Hudiansyah Is Nursal, S.H., M.I.L.I.R.

Hudiansyah menjelaskan biosekuriti sebagai rangkaian upaya untuk mencegah masuk, keluar, dan tersebarnya hama, penyakit hewan dan ikan, serta organisme pengganggu tumbuhan. Dampaknya tidak hanya menyangkut produksi pangan, tetapi juga kesehatan, lingkungan, dan keberlanjutan sumber daya alam.

Menurut dia, pendekatan pencegahan membutuhkan analisis risiko, surveilans, diagnostik, pemantauan, serta pemanfaatan data dan teknologi. Ancaman, kata dia, harus dikenali sedini mungkin sebelum menimbulkan kerugian yang lebih luas.

Badan Karantina Indonesia, kata Hudiansyah, menerapkan Multi Layered Defense System melalui tiga lapis pengawasan: pre-border, at-border, dan post-border.

Pada tahap pre-border, pengendalian dilakukan melalui persyaratan dan tindakan karantina di negara asal komoditas. Ketika komoditas tiba di Indonesia, pengawasan dilakukan melalui pemeriksaan dokumen, fisik, dan tindakan karantina pada tahap at-border. Setelah komoditas berada di wilayah Indonesia, pengawasan berlanjut melalui mekanisme post-border.

Sistem berlapis tersebut dirancang agar risiko tidak hanya ditangani di satu titik. Bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan wilayah luas dan banyak pintu masuk, pengawasan pada berbagai tahapan menjadi penting untuk menjaga keamanan sumber daya hayati.

Di kampus, isu tersebut juga ditempatkan dalam konteks kesiapan generasi muda menghadapi perdagangan dan mobilitas global. Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Internasionalisasi, dan Kealumnian Universitas Hasanuddin, Prof. Ir. Suharman Hamzah, S.T., M.T., Ph.D., HSE., mengatakan dunia akademik membutuhkan keterhubungan yang lebih kuat dengan praktik di lapangan.

“Kampus membutuhkan kehadiran praktisi. Kami sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini dan berharap kolaborasi tersebut dapat terus dikembangkan, termasuk melalui hadirnya Center Point Karantina di Unhas,” ujar Suharman.

Menurut Suharman, keberadaan Center Point Karantina di lingkungan Unhas dapat menjadi penghubung antara pengetahuan akademik dan praktik perlindungan sumber daya hayati. Mahasiswa, kata dia, perlu memahami bahwa keterbukaan dunia tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga meningkatkan risiko.

Teknologi, perdagangan internasional, standar global, inovasi, dan perubahan lingkungan, menurut Suharman, perlu dipahami bersamaan dengan upaya menjaga sumber daya hayati dan produksi pangan.

“Pengetahuan dan kemajuan tersebut harus kita gunakan untuk menjaga sumber daya hayati, biodiversitas, produksi pangan, serta berbagai potensi unggulan yang kita miliki di daerah,” katanya.

Karantina Goes to Campus 2026 yang berlangsung di Aula Arsjad Rasyid, Kampus Unhas Tamalanrea, itu pada akhirnya menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari mata rantai perlindungan sumber daya hayati. Di tengah arus komoditas yang semakin terbuka, ancaman tidak selalu datang dari sesuatu yang terlihat. Kadang, ia ikut bergerak bersama barang yang diperdagangkan.

Copywriter : Andi Muhammad Syafrizal
Editor : Ishaq Rahman

dikti

DiktisaintekBerdampak

Unhas

karantina

/

5

Ulas Sekarang