Butuh lima tahun menekuni satu bidang sebelum dewan redaksi jurnal internasional melihat kepakarannya.
"Saya menjaga publikasi agar setidaknya dalam satu tahun itu ada satu artikel ilmiah yang publish di jurnal terindeks Scopus Q1."
Itulah yang menjadi prinsip dr. Tegar Adriansyah Putra Siregar, M.Biomed., Ph.D., dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara yang dipercaya menjadi reviewer atau penelaah sejawat pada jurnal Emerging Microbes & Infections oleh dewan redaksi Taylor & Francis Publisher sejak Oktober 2025. Jurnal tersebut berada di kuartil teratas (Q1) pangkalan data Scopus, menempati peringkat 15 dari 194 jurnal bidang Mikrobiologi dan 16 dari 361 jurnal bidang Penyakit Infeksi.
Pria kelahiran Medan tahun 1986 itu menempuh pendidikan S1 di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Kemudian melanjutkan pendidikan S2 Ilmu Biomedik dengan bidang mikrobiologi di Universitas Indonesia dan mengambil S3 di Department of Microbiology, Mahidol University, Thailand.
Sejak tahun 2016, ia telah menjadi dosen FKIK UMSU yang mengajar mata kuliah mikrobiologi dan imunologi. Selama lima tahun belakangan, dr. Tegar membangun reputasi akademik dan penelitian tentang tuberkulosis, autofagi, serta interaksi antara pejamu dan patogen.
Menurutnya, butuh waktu dan konsistensi untuk membangun rekam jejak penelitian. Ia secara konsisten membangun fokus penelitian pada tuberkulosis dan bakteri penyebabnya, Mycobacterium tuberculosis, autofagi, dan terutama host-pathogen interaction.
"Awalnya saya membangun track record. Selama lima tahun saya fokus publikasi di bidang saya, yaitu bakteri Mycobacterium tuberculosis, respon imunitas tubuh terhadap infeksi, dan interaksi keduanya," ucapnya menjelaskan proses menjadi seorang reviewer.
Sebelumnya, artikel yang ditulis dr. Tegar bersama sebelas peneliti lain — dengan dirinya sebagai penulis pertama — terpilih sebagai artikel terbaik tahun 2022 pada jurnal Pathogens and Disease. Artikel berjudul "The autophagy-resistant Mycobacterium tuberculosis Beijing strain upregulates KatG to evade starvation-induced autophagic restriction" itu dipilih secara bulat oleh Dewan Editor jurnal tersebut. Best Article Awards merupakan penghargaan tahunan yang diberikan FEMS Journals bersama Oxford University Press kepada artikel terbaik di setiap jurnal FEMS, dengan seluruh penulis otomatis diikutsertakan dalam penilaian setelah artikelnya diterima terbit.
"Dengan membangun track record ini, editor dan dewan redaksi bisa melihat kepakaran kita. Karena sebenarnya yang dicari ketika menjadi reviewer adalah ahli dalam bidang tersebut," katanya.
Kepercayaan tersebut tidak hanya menjadi pengakuan terhadap kompetensi akademiknya, tetapi juga menempatkannya pada posisi penting dalam ekosistem publikasi ilmiah. Ia harus menjalani dua peran sekaligus, sebagai dosen dan sebagai reviewer. Bukan hal yang mudah, terdapat berbagai tantangan yang harus ia hadapi.
"Tantangannya lebih banyak di manajemen waktu. Dosen di Indonesia harus melakukan tridharma. Setelah melakukan tridharma perguruan tinggi, baru harus melakukan review dan menjaga objektivitas dari manuskrip yang disubmit kepada saya," tuturnya.
Perjalanan penelitian tentu tidak dapat dilakukan seorang diri. Infrastruktur dan dukungan institusi menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas akademik. Dokter lulusan Mahidol University itu menyebut fasilitas laboratorium, skema hibah internal, dan insentif penelitian yang tersedia di kampusnya sebagai faktor yang memberi ruang bagi dosen untuk terus meneliti dan menghasilkan publikasi yang dapat bersaing di tingkat internasional.
Menyoroti penelitian di Indonesia, dr. Tegar melihat adanya perkembangan tren yang positif. Salah satunya, semakin banyak peneliti yang memanfaatkan teknologi mutakhir dalam penelitian. Menurutnya, hal itu penting agar Indonesia dapat mengejar ketertinggalan di kancah global. Ia juga menilai kebijakan pemerintah yang memberikan porsi honor bagi peneliti dari dana hibah dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong produktivitas peneliti.
Bagi dr. Tegar, perjalanan akademik bukan tentang mengejar satu pencapaian, melainkan tentang membangun konsistensi. Dari laboratorium, ruang kelas, hingga meja reviewer, semuanya saling terhubung dalam satu tujuan: menghasilkan penelitian yang berkualitas dan memberi kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Kisah dosen FKIK UMSU ini menunjukkan bahwa kepercayaan menjadi reviewer jurnal internasional tidak lahir dari proses yang instan. Ia tumbuh dari rekam jejak yang dirawat bertahun-tahun dengan memilih bidang, menekuninya, menghasilkan publikasi, dan terus menjaga kualitas penelitian. (Humas UMSU/Editor: Armiadi Asamat)





