Dari Kopi hingga Wisata Pantai, Program Kosabangsa Perkuat Ekonomi Lokal Desa Jengglungharjo

Kabar

21 Juni 2026 | 16.00 WIB

Dari Kopi hingga Wisata Pantai, Program Kosabangsa Perkuat Ekonomi Lokal Desa Jengglungharjo

Makassar - Potensi lokal yang melimpah tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat. Di Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung, komoditas kopi dan potensi wisata pantai yang dimiliki masyarakat belum sepenuhnya memberikan nilai tambah yang optimal bagi perekonomian desa.


Melalui Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa), tim pelaksana dari Universitas Tulungagung bersama tim pendamping dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur berupaya menjawab tantangan tersebut melalui pengembangan ekonomi lokal berbasis komoditas kopi dan wisata pantai. Program ini mengusung inovasi pascapanen, penguatan branding produk, serta strategi digitalisasi untuk meningkatkan daya saing potensi desa.


Ketua tim pelaksana, Mufidah Diah Lestari, menjelaskan bahwa program pendampingan difokuskan kepada Pokdarwis Sanggaria dan Kelompok Tani Bambu Runcing sebagai mitra utama di desa tersebut. Salah satu fokus kegiatan adalah meningkatkan kualitas produksi kopi melalui pendampingan dari hulu hingga hilir, mulai dari proses budidaya, panen, pengolahan, hingga pengemasan produk. 


“Mulai dari proses produksi kami dampingi sampai proses pengemasan sehingga masyarakat dapat menghasilkan produk kopi yang memiliki nilai jual lebih baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya. 


“Petani merasa sangat terbantu. Awalnya mereka belum memahami proses petik merah dengan baik, tetapi sekarang mereka mampu memproduksi kopi dengan kualitas yang lebih baik dan harga jual yang lebih tinggi,” kata Mufida.


Program ini turut mendorong peningkatan pendapatan petani melalui pendampingan pascapanen dan pemberian Teknologi Tepat Guna (TTG). Nilai jual kopi meningkat lebih dari dua kali lipat, dari sekitar Rp30.000 per kilogram saat dijual dalam bentuk gelondongan menjadi Rp65.000 per kilogram setelah diolah menjadi roast bean. 


Selain itu, masyarakat juga mulai mengembangkan produk kopi bubuk kemasan yang dipasarkan dengan harga sekitar Rp28.000 per kemasan 125 gram, sehingga membuka peluang nilai tambah yang lebih besar bagi kelompok tani. 


Tak hanya pada sektor kopi, tim juga mendampingi Pokdarwis Sanggaria dalam menyusun paket wisata yang memperkenalkan potensi pantai di Desa Jengglungharjo kepada wisatawan. Melalui pengembangan paket wisata tersebut, masyarakat didorong untuk mengelola potensi desa secara lebih terstruktur dan memiliki nilai ekonomi yang lebih optimal.


Untuk memastikan keberlanjutan program, tim turut menyusun modul pembelajaran dan panduan pengoperasian alat yang dapat digunakan masyarakat secara mandiri setelah program berakhir. Langkah ini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan transfer pengetahuan dan keterampilan kepada kelompok masyarakat penerima manfaat.


Dampak yang dihasilkan program ini turut mendapat apresiasi pada tingkat nasional. Dalam Seminar Hasil Program Kosabangsa Tahun Anggaran 2025, program pengembangan ekonomi lokal berbasis kopi dan wisata pantai di Desa Jengglungharjo berhasil meraih Juara I Kategori Dampak Pemberdayaan dan Keberlanjutan Masyarakat Terbaik. 


Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas upaya tim dalam mengintegrasikan penguatan kapasitas masyarakat, pengembangan produk unggulan desa, dan pemanfaatan potensi wisata lokal ke dalam satu model pemberdayaan yang dapat terus dijalankan oleh masyarakat secara mandiri.


Ke depan, praktik baik yang diterapkan di Desa Jengglungharjo diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mengembangkan potensi lokal melalui pendekatan pemberdayaan yang berkelanjutan dan berbasis kebutuhan masyarakat.


Humas Ditjen Risbang

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Kosabangsa2025

#PengabdianKepadaMasyarakat

/

5

Ulas Sekarang