Medan – Praktik baik pemulihan pascabencana hadir dari tim Universitas Samudra yang melaksanakan pengabdian di Desa Aras Sembilan, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, melalui Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra Tahun 2026. Dalam program tersebut, tim Universitas Samudra mengembangkan Pemberdayaan dan Pemulihan Ekonomi Masyarakat Berbasis Peningkatan Sanitasi, Kebersihan Fasilitas Umum, dan Penguatan Sektor Peternakan Berkelanjutan Pasca Banjir Bandang. Program ini turut dipresentasikan dalam Seminar Dampak Pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) di Universitas Prima Indonesia, Medan, Kamis (2/7).
Dosen pembimbing lapangan Universitas Samudra, Taufan Arif Adlie, menjelaskan bahwa Desa Aras Sembilan dipilih karena menjadi salah satu wilayah yang terdampak berat akibat banjir bandang. Bencana tersebut menyebabkan putusnya jembatan penghubung antarkecamatan dan antardesa, terbatasnya akses air bersih, memburuknya sanitasi fasilitas umum, serta menurunnya aktivitas ekonomi masyarakat.
“Dari hasil survei, kami melihat adanya keterbatasan akses masyarakat untuk mendapatkan air bersih, khususnya di fasilitas umum seperti masjid, sekolah dasar, dan permukiman warga. Selain itu, sanitasi juga memburuk akibat banjir dan lumpur, sementara ekonomi masyarakat menurun karena akses yang terbatas,” ujar Taufan.
Berangkat dari kebutuhan dasar tersebut, tim Universitas Samudra menghadirkan sistem penyediaan air bersih berbasis filtrasi. Air baku yang bersumber dari Sungai Aceh Tamiang terlebih dahulu diendapkan, kemudian disaring menggunakan bahan filtrasi berupa mangan dan karbon aktif. Setelah melalui proses penyaringan, air dialirkan ke menara penampungan dan disalurkan ke fasilitas umum, seperti masjid, tempat wudu, kamar mandi, toilet, serta sekolah. Kehadiran sistem tersebut diharapkan membantu memulihkan layanan dasar masyarakat, terutama pada fasilitas pendidikan dan fasilitas ibadah yang sebelumnya terdampak banjir.
Selain pemulihan akses air bersih dan sanitasi, tim Universitas Samudra juga mendukung pemulihan ekonomi masyarakat melalui penguatan sektor peternakan kambing. Tim mendesain dan membangun kandang ternak, sekaligus memberikan pemahaman kepada warga mengenai pengelolaan peternakan kambing yang lebih baik dan berkelanjutan.
“Teknologi ini kami harapkan bisa membantu warga Desa Aras Sembilan untuk kembali bangkit dari kondisi ekonomi yang terpuruk. Kami tidak hanya membawa instalasi, tetapi juga berupaya memberikan pemahaman agar masyarakat dapat memanfaatkan dan merawat teknologi yang sudah dibangun,” jelas Taufan.
Pelaksanaan program tersebut melibatkan 50 mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Samudra. Para mahasiswa terlibat sejak tahap survei lapangan, perencanaan, penerapan teknologi, hingga penyelesaian pekerjaan di lokasi. Keterlibatan mahasiswa menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan program, tidak hanya membantu secara teknis, tetapi juga ikut bekerja bersama warga.
“Mahasiswa sangat aktif sejak proses survei sampai penerapan teknologi. Mereka membantu warga, menyelesaikan pekerjaan, dan merealisasikan desain yang kami susun. Bahkan mereka tinggal di desa sampai program ini selesai,” ungkap Taufan.
Bagi ketua mahasiswa pelaksana program, Ferdinand, keterlibatan dalam Program Mahasiswa Berdampak memberikan pengalaman langsung mengenai arti pengabdian di wilayah bencana.
“Saya mendapatkan pengalaman baru dan merasakan apa yang menjadi rasa sakit dan derita saudara-saudara kita yang terdampak langsung oleh bencana. Melalui program ini, kami berupaya mengimplementasikan setiap rencana yang telah disiapkan agar dapat membantu masyarakat di Desa Aras Sembilan,” ujar Ferdinand.
Dalam pelaksanaan program, Ferdinand dan tim mahasiswa juga mengembangkan perencanaan sistem distribusi air menggunakan aplikasi simulasi Epanet. Perencanaan tersebut disusun dengan mempertimbangkan sistem distribusi air yang sudah ada, sehingga ke depan dapat mendukung perbaikan layanan air bersih di Desa Aras Sembilan.
Di samping kontribusinya di lapangan, Universitas Samudra turut memperoleh apresiasi golden winner pada kategori Dosen Pendamping Inspiratif yang diberikan kepada Taufan Arif Adlie. Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas berhasilnya peran dosen dalam membimbing tim mahasiswa.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak, Kemdiktisaintek terus mendorong agar pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang penerapan ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat langsung. Berbagai praktik baik yang lahir dari program ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam memperkuat ketangguhan menghadapi bencana sekaligus mendukung pemulihan sosial dan ekonomi secara berkelanjutan.
Humas Ditjen Risbang
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#Kemdiktisaintek
#DitjenRisbang
#BIMA
#Pengabdian
#MahasiswaBerdampak
#DiktisaintekBerdampak







