Malang, — Penataan masjid di era kini perlu diarahkan ulang agar lebih diminati generasi muda. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Fauzan dalam diskusi Rapat Kerja Nasional dan Jambore Nasional Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) di Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jumat (31/10/2025). Di hadapan ratusan peserta Rakernas, Fauzan menyoroti masih minimnya minat mahasiswa untuk terlibat aktif mengurus masjid kampus.
“Saya yakin, dari ratusan peserta yang hadir, hanya sedikit yang sejak awal benar-benar berniat menjadi pengurus masjid kampus,” ujarnya. Ia juga mengaku dirinya pun dulu menjadi pengurus masjid bukan karena niat awal, melainkan karena sedikitnya orang yang mau terlibat. Menurutnya, posisi pengurus masjid sering kali tidak dianggap menarik secara sosial maupun profesional, padahal dari sinilah seharusnya lahir generasi muda yang berintegritas dan berdaya kepemimpinan.
Fauzan kemudian mengajak peserta untuk memikirkan kembali cara pengelolaan masjid kampus agar tampil lebih segar dan profesional. Ia mencontohkan perlunya pembaruan dari sisi nomenklatur dan citra. “Masjid kampus bisa mempelopori perubahan, misalnya mengganti istilah takmir menjadi Direktur Masjid dan tampil dengan gaya yang lebih profesional—berpakaian rapi, berdasi, dan komunikatif,” katanya. Langkah sederhana ini, menurut Fauzan, akan membantu mengubah citra pengurus masjid agar lebih dekat dengan dunia profesional dan anak muda. Ia menilai, persepsi bahwa mengurus masjid tidak memiliki masa depan perlu diubah agar posisi tersebut justru menjadi kebanggaan dan bentuk kontribusi nyata bagi masyarakat kampus.
Perubahan penampilan dan manajemen, lanjut Fauzan, harus dibarengi dengan penataan keuangan yang lebih transparan dan terencana. Ia menyoroti bahwa masalah keuangan sering kali menjadi hambatan utama dalam pengelolaan program besar di lingkungan masjid kampus. Dengan tata kelola yang sehat, masjid kampus dapat menjalankan program yang berkelanjutan sekaligus menjadi model manajemen keagamaan yang akuntabel di lingkungan perguruan tinggi.
Lebih jauh, Fauzan menekankan bahwa masjid kampus tidak boleh berhenti pada fungsi ritual. Masjid harus menjadi pusat kaderisasi mahasiswa dan penguatan sumber daya manusia kampus. Ia mengusulkan konsep pesantren mahasiswa berbasis masjid kampus, sebuah model kaderisasi yang memadukan nilai keagamaan dengan sistem pendidikan tinggi. “Jangan dulu membayangkan membangun pesantren dari nol. Mulailah dengan menghimpun potensi lokal—memanfaatkan rumah warga atau asrama sekitar kampus untuk dijadikan pesantren mahasiswa,” ujarnya.
Konsep ini, kata Fauzan, memungkinkan masjid untuk berperan sebagai pengelola kurikuler yang mengorkestrasi kegiatan pembinaan moral dan spiritual mahasiswa. Aktivitas di pesantren mahasiswa juga dapat diintegrasikan dengan sistem akademik kampus melalui konversi nilai yang relevan dengan mata kuliah keagamaan atau etika. Dengan demikian, masjid kampus menjadi ruang belajar alternatif yang tetap berkontribusi terhadap capaian akademik mahasiswa.
Fauzan menilai, model pesantren mahasiswa akan melahirkan dampak sosial dan ekonomi yang luas. Kehadiran mahasiswa dalam program tersebut dapat menggerakkan ekonomi warga sekitar karena rumah-rumah kos bisa dioptimalkan sebagai tempat tinggal santri mahasiswa. Ustaz dan tokoh lokal dapat direkrut sebagai pengajar atau pembimbing, sementara kegiatan pesantren akan menghidupkan ekosistem sosial di sekitar kampus. “Masjid kampus bisa menjadi pusat ekosistem sosial yang hidup, bukan hanya tempat ibadah,” katanya.
Ia menambahkan, jika dikelola dengan baik, masjid kampus dapat menjadi embrio pesantren mahasiswa yang berdaya, tempat tumbuhnya sumber daya manusia unggul dan berkarakter. Melalui sinergi antara masjid, akademisi, dan masyarakat, kegiatan di sekitar masjid akan melahirkan interaksi yang produktif: mahasiswa mendapat pembinaan, warga mendapat manfaat ekonomi, dan kampus memiliki ruang aktualisasi nilai-nilai moral yang konkret.
Diskusi Rakernas dan Jambore Nasional AMKI di Universitas Brawijaya turut menghadirkan Rektor UB Prof Widodo serta ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kegiatan berlanjut hingga malam hari dengan agenda mabit di Masjid Raden Patah UB. Menutup sesinya, Fauzan berpesan, “Masjid kampus adalah pusat energi moral dan intelektual bangsa. Bila masjid kampus hidup, maka kampus dan masyarakat di sekitarnya pun akan ikut hidup.”
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi #DiktisaintekSigapMelayani #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif




