UTU Dorong UMKM Keripik Ikan Lumi-Lumi Naik Kelas lewat Teknologi dan Ekonomi Sirkular

Kampus Kita

06 Agustus 2026 | 08.45 WIB

UTU Dorong UMKM Keripik Ikan Lumi-Lumi Naik Kelas lewat Teknologi dan Ekonomi Sirkular

MEULABOH — Universitas Teuku Umar (UTU) mendorong peningkatan kualitas dan daya saing UMKM pengolah keripik ikan lumi-lumi khas Aceh Barat melalui penerapan teknologi deep frying dan konsep ekonomi sirkular.

Upaya tersebut dilakukan Tim Pengabdian UTU melalui program “LUMI-CIRCLE: Transformasi UMKM Sejahtera Pangan Lokal Keripik Ikan Lumi-Lumi Khas Aceh Barat Berbasis Deep Frying dan Circular Economy” yang berlangsung pada 16–18 Juli 2026 di UMKM Sejahtera, Gampong Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.

Program ini didanai melalui Hibah Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026 melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.

Tiga dosen UTU, Nur Ariyani Agustina, Sri Maryati, dan Andi ST Hadijah, bersama dua mahasiswa, memberikan pendampingan kepada 15 pembuat keripik. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah teknologi deep frying dengan pengaturan suhu stabil pada 150–170 derajat Celsius.

Sebelumnya, proses penggorengan masih menggunakan wajan konvensional dengan pengaturan api berdasarkan perkiraan. Kondisi tersebut membuat tingkat kematangan, kerenyahan, dan warna keripik belum konsisten.

Ketua Tim Pengabdian UTU, Nur Ariyani Agustina, mengatakan teknologi yang diperkenalkan dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas produk.

“Kami ingin teknologi yang diperkenalkan benar-benar menjawab persoalan mitra. Bukan hanya memiliki alat baru, tetapi mitra memahami penggunaannya untuk menghasilkan produk yang lebih konsisten, higienis, dan memiliki peluang pasar lebih baik,” ujarnya.

Selain standardisasi proses penggorengan melalui Standar Operasional Prosedur (SOP) dan penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), tim UTU juga memperkenalkan konsep ekonomi sirkular. Minyak jelantah dari proses produksi tidak lagi dibuang, tetapi diolah kembali sebagai bahan baku pembuatan sabun.

Peningkatan juga dilakukan pada aspek pengemasan. Kemasan sederhana yang sebelumnya digunakan diganti dengan bahan food grade dan didukung mesin Continuous Band Sealer. Inovasi tersebut ditargetkan dapat memperpanjang masa simpan keripik dari sekitar tujuh hari menjadi hingga 30 hari.

Pendampingan tidak hanya berfokus pada produksi. Tim UTU turut memberikan pelatihan manajerial, mulai dari pencatatan kas harian, penghitungan Harga Pokok Produksi (HPP), penentuan harga jual, hingga pemisahan keuangan rumah tangga dan modal usaha.

Ketua UMKM Sejahtera, Afriani, mengungkapkan bahwa pendampingan tersebut mengubah cara anggota kelompok dalam memproduksi keripik.

“Sebelumnya kami lebih banyak mengandalkan pengalaman saat menggoreng. Sekarang kami memahami bahwa suhu, waktu penggorengan, kebersihan peralatan hingga cara mengemas sangat menentukan kualitas keripik,” ujarnya.

Melalui program ini, UTU berupaya mengembangkan potensi pangan lokal Aceh Barat dengan mengintegrasikan teknologi, standardisasi produksi, penguatan manajemen usaha, dan prinsip ekonomi sirkular.

Pendampingan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas serta daya saing keripik ikan lumi-lumi, sekaligus membuka peluang bagi UMKM Sejahtera untuk memperluas pasar dengan produk yang lebih konsisten, higienis, dan ramah lingkungan.

/

5

Ulas Sekarang