BENGKULU TENGAH — Mewujudkan lingkungan desa yang bersih dan sehat tidak cukup hanya dengan menyediakan infrastruktur dan fasilitas pengelolaan sampah. Perubahan berkelanjutan membutuhkan kesadaran dan kebiasaan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Hal tersebut menjadi dasar Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Bengkulu (Unib), dalam menginisiasi program edukasi pengelolaan sampah berbasis partisipatif di Desa Kelindang Atas, Kecamatan Merigi, Kabupaten Bengkulu Tengah, Senin (20/7/2026).
Mengusung tema “Membangun Perilaku Sadar Lingkungan Melalui Edukasi Pengelolaan Sampah Berbasis Partisipatif Mendukung Kebersihan Desa”, program yang diketuai Diyas Widiyarti, M.A., ini tidak hanya berfokus pada penyampaian pengetahuan, tetapi juga mendorong terbentuknya environmental awareness atau kesadaran lingkungan yang dimulai dari tingkat rumah tangga.
Menurut Diyas, persoalan pengelolaan sampah di wilayah perdesaan tidak selalu berkaitan dengan keterbatasan fasilitas. Kebiasaan membuang sampah sembarangan atau membakarnya di pekarangan juga menjadi tantangan yang perlu diatasi karena dapat mencemari udara, saluran air, menurunkan kualitas lingkungan, serta meningkatkan risiko penyakit.
“Perubahan perilaku merupakan fondasi utama dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Ketika masyarakat memahami dampak dari setiap kebiasaan yang dilakukan, perubahan akan muncul dari kesadaran, bukan karena paksaan,” ujarnya.
Edukasi Dimulai dari Rumah
Untuk mendorong perubahan perilaku, tim pengabdian menerapkan pendekatan edukasi partisipatif. Setelah sosialisasi di balai desa, tim bersama Kader Kesehatan Desa dan anggota Karang Taruna melakukan edukasi secara door-to-door dengan berdialog langsung bersama warga.
Pendekatan tersebut memungkinkan masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menyampaikan persoalan yang mereka hadapi dalam mengelola sampah rumah tangga.
Dalam setiap kunjungan, warga diajak memahami dampak sampah yang tidak dikelola dengan baik. Sampah organik yang membusuk dapat menjadi sumber penyakit, sementara sampah anorganik yang dibuang sembarangan dapat menyumbat drainase dan meningkatkan risiko banjir saat musim hujan.
“Kami mengajak masyarakat memulai dari langkah sederhana, yaitu memilah sampah sejak dari dapur. Kebiasaan kecil ini apabila dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar terhadap pengelolaan sampah yang berkelanjutan sekaligus menciptakan lingkungan desa yang lebih bersih dan sehat,” jelas Diyas.
Membangun Budaya Clean and Green
Keberlanjutan program juga diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai unsur masyarakat. Tim PKM menggandeng Kader Kesehatan Desa, Karang Taruna, dan Pemerintah Desa sebagai change agents yang diharapkan dapat melanjutkan gerakan sadar lingkungan setelah program pengabdian selesai.
Pemerintah Desa Kelindang Atas turut mendukung inisiatif tersebut melalui rencana penyusunan Peraturan Desa (Perdes) mengenai tata kelola lingkungan serta pengalokasian Dana Desa untuk mendukung penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah.
Melalui sinergi tersebut, Desa Kelindang Atas menargetkan partisipasi lebih dari 75 persen rumah tangga dalam pemilahan sampah. Volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) juga diproyeksikan berkurang hingga 40–50 persen melalui pengolahan mandiri dan penerapan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
“Kebersihan desa bukanlah tanggung jawab satu orang, melainkan hasil akumulasi kepedulian seluruh warga. Ketika masyarakat merasa memiliki program ini, perilaku sadar lingkungan akan tumbuh secara alami dan bertahan dalam jangka panjang,” tutur Diyas.
Program tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas sanitasi dan menekan risiko penyakit akibat penumpukan sampah, tetapi juga menumbuhkan budaya clean and green yang sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs).
Dengan dukungan regulasi desa, partisipasi masyarakat, dan pendampingan berkelanjutan, model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang dikembangkan Tim PKM FISIP Unib diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kabupaten Bengkulu Tengah maupun Provinsi Bengkulu dalam membangun lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.






