Sejarah besar sering kali berulang melalui jalur pendidikan dan diplomasi. Semangat itulah yang melatarbelakangi kunjungan kehormatan Konsul Jenderal Republik Rakyat China, Huang He, beserta jajarannya ke Kampus utama Universitas Sriwijaya (UNSRI) yang terletak di Indralaya pada Kamis (16/4/2026).
Kunjungan ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan sebuah kunjungan balasan yang penuh kehangatan setelah sebelumnya tim UNSRI yang dipimpin Wakil Rektor bidang Perencanaan dan Pengembangan, Kerjasama, Internasionalisasi dan Alumni Prof. Dr. Eng. Ir. Joni Arliansyah, M.T melakukan lawatan ke kantor Konjen pada tanggal 7 April 2026 di Medan.
Suasana khidmat mulai terasa di Lobby Rektorat sejak pukul 08.45 WIB saat delegasi yang terdiri dari konjen China, Huang He, Li Hongwei (Konsul), Jiang Jiawen/Jessica (Wakil Konsul), Xu Mengqiu (Konsul Muda) disambut oleh jajaran pimpinan universitas. Hadir mewakili UNSRI, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Pengembangan, Kerja Sama, internasionalisasi, dan Alumni, Sekretaris Universitas, Prof. Dr. Alfitri, M.Si, jajaran Direktur, Subdit dan Kasi dibawah Direktorat Kerjasama, Internasionalisasi, dan Alumni (DKIA) beserta para Dekan, dosen dan perwakilan mahasiswa.
Dalam sambutannya, Konsul Jenderal Huang He membawa ingatan kolektif pada kejayaan Palembang di masa lampau. Ia mengatakan bahwa Palembang, dengan identitas historisnya sebagai "Big Port" (Pelabuhan Besar), telah menjadi pusat pertemuan peradaban dan perdagangan global sejak berabad-abad lalu, di mana para pelaut dan cendekiawan Tiongkok telah menjalin persahabatan dengan masyarakat lokal.
"Kami datang ke Universitas Sriwijaya karena kami percaya bahwa UNSRI adalah representasi dari keunggulan pendidikan di Indonesia. Ada potensi besar yang kami lihat di sini untuk menjalin kerja sama yang kuat dengan pihak China. Kunjungan ini adalah upaya kami untuk menghidupkan kembali semangat 'Big Port' tersebut dalam konteks modern, yakni melalui pelabuhan pertukaran ilmu pengetahuan," ungkap Huang He dengan antusias.
Dalam pertemuan itu dilakukan juga diskusi yang berlangsung dinamis, membahas peluang pertukaran mahasiswa hingga program yang lebih luas bagi mahasiswa UNSRI. Persahabatan yang kembali terjalin ini tidak dibiarkan hanya menjadi retorika.
Perasaan bangga juga menyelimuti saat peserta mahasiswa Gloria (Gu Xing Xing) mahasiswa asal China yang sedang menempuh studi S2 di Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Sriwijaya membuktikan bahwa "Bumi Sriwijaya" adalah rumah yang nyaman bagi pelajar internasional.
Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan visioner untuk segera mengonkretkan kerja sama melalui rencana pembangunan Pusat Studi Mandarin (Chinese Study Center di UNSRI yang nantikan akan dikembangkan menjadi Confucius Institute. Pusat studi (Confucius Institute) ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat pembelajaran bahasa, tetapi juga menjadi jembatan kebudayaan dan inovasi yang memfasilitasi mahasiswa serta dosen UNSRI maupun masyarakat umum untuk berkolaborasi lebih jauh dengan universitas-universitas terkemuka di Tiongkok.
Pada saat mengantar kepulangan konjen beserta rombongan, sekretaris Universitas Sriwijaya Prof. Dr. Alfitri, M.Si menunjukkan maket kampus induk UNSRI yang ada di Indralaya. Dengan wilayah yang seluas 700 Hektar tersebut, sekretaris Universitas Sriwijaya menegaskan bahwa UNSRI siap menyambut kerjasama Indonesia-China terutama rencana pembangunan Pusat Studi Mandarin (Confucius Institute), dan hal ini juga membuktikan bahwa UNSRI bukan hanya sekadar institusi pendidikan, melainkan juga gerbang bagi peradaban masa depan yang menghargai nilai-nilai sejarah.
Pertemuan ini meninggalkan pesan bahwa Universitas Sriwijaya, dengan akar sejarahnya yang dalam sebagai bagian dari pelabuhan besar dunia, kini siap berlayar lebih jauh menjadi pusat keunggulan akademik yang menghubungkan Indonesia dengan kekuatan global, khususnya Tiongkok. (Humas_UNSRI)







