Canberra, Kemendikdasmen – KBRI Canberra melalui Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) menyelenggarakan Scientech Talks Series 3 yang mengangkat tema “Shaping the Future of Critical Minerals Processing Technologies through Global Collaborations”, Jumat,(17/04/2026). Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kerja sama Indonesia–Australia dalam pengembangan teknologi pengolahan mineral tanah jarang (critical minerals).
Forum daring ini menghadirkan sejumlah pakar terkemuka dari kedua negara, antara lain Prof. Alan Duffy, Pro Vice Chancellor Flagship Initiative, Prof. Akbar Rhamdhani, Dr. Bintang Nuraeni dan Dr. Ahmad Rizky Rhamdani dari Swinburne University of Technology, Australia, serta Prof. Dr. Ir. Yogi Wibisono selaku Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi, Badan Industri Mineral, Indonesia.
Dalam diskusi, para pembicara menyoroti pentingnya mineral kritis seperti nikel, litium, dan kobalt sebagai komponen utama dalam teknologi energi bersih, termasuk baterai kendaraan listrik. Penguatan inovasi dalam teknologi pengolahan dinilai menjadi kunci peningkatan nilai tambah sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Yuli Rahmawati, menegaskan bahwa kolaborasi Indonesia dan Australia memiliki potensi besar dalam sektor ini.
“Kolaborasi di bidang critical minerals tidak hanya terkait sumber daya, tetapi juga pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta keberlanjutan. Indonesia dan Australia memiliki kekuatan yang saling melengkapi,” ujar Yuli.
Ia menambahkan bahwa forum ini diharapkan dapat mendorong kerja sama konkret, baik dalam riset bersama, pengembangan teknologi, maupun program pendidikan lintas negara.
Prof. Alan Duffy menekankan bahwa penguatan sektor mineral kritis tidak hanya bergantung pada riset dan inovasi, tetapi juga pada kemitraan internasional yang kuat. Ia menyoroti peran Swinburne University of Technology dalam mendorong kolaborasi dengan Indonesia, baik melalui kerja sama riset, pengembangan teknologi, maupun kemitraan dengan universitas dan industri di Indonesia. Menurutnya, kolaborasi ini penting untuk mengintegrasikan keunggulan sumber daya Indonesia dengan kapasitas teknologi dan riset Australia
Sorotan Paparan Narasumber
Dalam paparannya, Prof. Akbar Rhamdhani menekankan pentingnya pengembangan teknologi pengolahan mineral yang ramah lingkungan (green processing), termasuk inovasi berbasis hidrogen sebagai solusi rendah karbon. Ia juga menegaskan bahwa kemajuan teknologi sangat bergantung pada kolaborasi global antara akademisi, industri, dan pemerintah.
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Yogi Wibisono menyoroti bahwa Indonesia perlu membangun ekosistem industri mineral tanah jarang secara terintegrasi. Menurutnya, kepemilikan sumber daya tidak cukup tanpa dukungan teknologi, SDM, serta industri hilir. Ia menekankan pentingnya penguatan rantai nilai dari hulu hingga hilir untuk memastikan keberhasilan hilirisasi nasional.
Dr. Bintang Nuraeni mengangkat peluang besar dari pemanfaatan limbah elektronik (e-waste) dan baterai sebagai sumber mineral kritis. Ia menekankan bahwa daur ulang menjadi solusi strategis dalam menghadapi keterbatasan sumber daya serta dampak lingkungan, sekaligus membuka potensi ekonomi yang signifikan.
Di sisi lain, Dr. Ahmad Rizky Rhamdani memaparkan pengembangan teknologi paduan logam berbasis rare earth untuk aplikasi industri maju, seperti aerospace dan otomotif. Ia juga memperkenalkan pendekatan inovatif dalam proses produksi yang lebih efisien serta program Si-ZERO yang berfokus pada produksi material tanpa emisi karbon.
Diskusi juga menekankan pentingnya pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan aspek teknik, sains material, dan kebijakan industri guna memastikan pengelolaan mineral kritis yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
Kolaborasi sebagai Kunci
Diskusi menegaskan bahwa masa depan industri mineral kritis tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya, tetapi oleh kemampuan membangun ekosistem yang mencakup teknologi, riset, kebijakan, dan kolaborasi global. Indonesia dan Australia dinilai memiliki potensi besar untuk saling melengkapi dalam rantai nilai mineral strategis.
Melalui kegiatan ini, KBRI Canberra terus memperkuat peran diplomasi pendidikan dan riset dalam mendukung kemitraan strategis Indonesia–Australia, sekaligus membuka peluang kolaborasi konkret di bidang teknologi masa depan. (Atdikbud Canberra)






