Sekolah Vokasi UGM Teguhkan Komitmen Gerakan Riset Terapan yang Berdampak Nyata dan Berkelanjutan

Kabar

30 October 2025 | 08.27 WIB

Sekolah Vokasi UGM Teguhkan Komitmen Gerakan Riset Terapan yang Berdampak Nyata dan Berkelanjutan

Yogyakarta – Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional Teknologi Terapan (SNTT) 2025 dengan tema “Gerakan Riset Terapan yang Berdampak Nyata dan Berkelanjutan” pada Sabtu (25/10).

Kegiatan yang diikuti oleh 173 peserta dari empat perguruan tinggi ini menegaskan komitmen untuk memperkuat peran riset terapan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan perekonomian nasional.

Dalam sesi pemaparan kunci, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menyampaikan pentingnya memperkuat fondasi ekosistem riset yang berorientasi pada pemecahan masalah nyata di masyarakat. Menurutnya, membangun riset tidak cukup dengan menambah jumlah alat dan laboratorium, tetapi harus dimulai dari membangun manusia riset.

“Kita sering bicara soal pengembangan teknologi, tapi lupa bahwa yang harus dikembangkan lebih dulu adalah manusianya. Tanpa orang yang siap, teknologi tidak akan pernah tumbuh,” ujarnya.

Dirjen Fauzan menegaskan bahwa pendidikan vokasi memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara dunia akademik dan dunia industri.

“Bahasa industri dan bahasa akademik sering tidak bertemu. Di sinilah peran vokasi: menjembatani keduanya agar riset tidak berhenti di laboratorium, melainkan dapat hidup di pabrik, di bengkel, dan dirasakan oleh masyarakat,” tambahnya.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Danang Sri Hadmoko, dalam sambutannya menyampaikan penelitian harus menjadi gerakan yang menumbuhkan manfaat. Gerakan riset terapan harus menjadi budaya baru, bukan sekadar proyek, melainkan ekosistem inovasi yang hidup di kampus.

Dalam sambutannya, Dekan Sekolah Vokasi UGM, Agus Maryono, menyampaikan bahwa riset vokasi harus berbasis pada penyelesaian masalah dan menghasilkan inovasi yang memiliki nilai guna.

“Kami ingin vokasi tidak hanya kuat dari sisi ilmiah, tetapi juga mampu menghasilkan solusi yang menyentuh kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Melalui SNTT 2025, Sekolah Vokasi UGM memperkuat peran riset terapan sebagai motor inovasi bangsa. Kegiatan ini mendorong terciptanya produk-produk inovatif hasil riset vokasi yang dapat dikomersialisasikan dan berdaya saing, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri.

Langkah ini menjadi simbol nyata bahwa riset vokasi bukan hanya wacana akademik, melainkan gerakan berkelanjutan untuk menghadirkan ilmu yang berdampak bagi masyarakat dan kemajuan Indonesia.

Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

/

5

Ulas Sekarang