Semarang–Pemerintah terus mendorong penguatan sektor pertanian berbasis riset dan inovasi sebagai bagian dari agenda nasional mewujudkan kemandirian pangan dan pembangunan berkelanjutan. Melalui teknologi tepat guna, sektor pertanian diharapkan tidak hanya menjadi penopang ekonomi, tetapi juga ruang lahirnya inovasi yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat desa.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, pada tahun 2023 sebanyak 42,01 persen petani Jawa Tengah berusia 43 tahun ke atas. Sementara, petani milenial berjumlah 18,78 persen dan petani generasi Z sebanyak 0,96 persen. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital di sektor pertanian masih di bawah 20 persen dari total pelaku usaha tani.
Dalam laporan yang sama, disebut bahwa jumlah usaha pertanian di Jawa Tengah pada 2023 adalah sebanyak 4.366.317 unit, turun sebesar 13,21 persen dibanding 10 tahun yang lalu, dengan jumlah 5.031.033 unit usaha. Kondisi ketimpangan usia, penguasaan teknologi, dan berkurangnya usaha pertanian menimbulkan tantangan regenerasi dan transformasi sistem produksi agar lebih efisien dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong peran perguruan tinggi untuk memberi solusi terhadap tantangan-tantangan yang dialami masyarakat di sekitar mereka. Salah satu cara yang dilakukan oleh Konsorsium Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) Jawa Tengah adalah menyelenggarakan Festival Panen Raya Berdikari Jawa Tengah Tahun 2025 bertema “Panggung Inovasi: Teknologi Tepat Guna dan Sinergi Multipihak untuk Masa Depan Berkelanjutan”. Kegiatan ini dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan di Semarang, Kamis (6/11).
“Kawan-kawan yang ada di Jawa Tengah telah mampu membangun sebuah pola pikir baru, di mana perguruan tinggi dapat benar-benar berperan nyata di tengah masyarakat. Saya mengapresiasi konsorsium vokasi di Jawa Tengah ini,” ujar Wamen Fauzan.
Kegiatan ini merupakan wadah kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam mengakselerasi pemanfaatan hasil riset di bidang pertanian, peternakan, serta energi terbarukan. Ketua Konsorsium PTV Jawa Tengah, Kurnianingsih melaporkan bahwa melalui kegiatan ini, dikembangkan program penguatan ekosistem kemitraan untuk pengembangan inovasi berbasis potensi daerah. Luarannya berupa produk hilirisasi riset yang telah diimplementasikan oleh berbagai industri dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Perguruan tinggi vokasi memiliki peran penting dalam memastikan inovasi teknologi tepat guna bisa langsung digunakan masyarakat. Kami tidak hanya berhenti di riset, tetapi juga mendampingi desa agar hasil inovasi itu bisa diterapkan dan dikembangkan secara mandiri,” ujar Kurnianingsih.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto sebelumnya juga menegaskan pentingnya hilirisasi riset dan matching fund antara perguruan tinggi dan industri daerah agar hasil penelitian tidak berhenti di jurnal, tetapi hadir dalam bentuk solusi yang bisa diterapkan. Pendekatan ini sejalan dengan visi Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto dalam Asta Cita, yang menempatkan inovasi dan kedaulatan pangan sebagai bagian dari kekuatan ekonomi nasional.
“Ketahanan pangan bukan hanya tentang kemampuan memproduksi, tapi tentang kemampuan berinovasi. Ini menjadi tantangan bersama, karena kolaborasi antara kampus, industri, dan masyarakat adalah kunci menuju kedaulatan pangan nasional,” tegas Wamen Fauzan.
Kemdiktisaintek mengajak seluruh perguruan tinggi untuk memperkuat riset berbasis kebutuhan lokal dan memperluas kemitraan dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat. Dengan kolaborasi dan teknologi yang tepat guna, desa bukan hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga sumber inovasi untuk masa depan berkelanjutan.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif






