Bandung — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan menegaskan kembali pentingnya peran kemitraan internasional dalam mempercepat kemajuan riset dan inovasi Indonesia dalam acara 100 Tahun Bandoengse Technische Hoogeschool Fonds (BTHF) yang diadakan di Institut Teknologi Bandung pada Selasa (10/2). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari Indonesia dan Belanda yang selama satu abad berkontribusi dalam pengembangan pendidikan tinggi dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut. Kehadiran Dirjen Fauzan sebagai penerima Ganesha Prize tahun 2003, salah satu kategori penghargaan tertinggi dalam Ganesha Awards yang diberikan oleh ITB kepada mahasiswa berprestasi mencerminkan kesinambungan kontribusi insan akademik dalam mendorong kemajuan ekosistem riset nasional melalui pengalaman lintas sektor, mulai dari industri, akademia, hingga kebijakan publik.
Dalam pembicaraannya, Dirjen Fauzan menyoroti pentingnya perjalanan pembelajaran yang membentuk kepemimpinan dan kolaborasi dalam ekosistem riset. Ia membagikan refleksi perjalanan karirnya sejak menerima Ganesha Prize dua dekade lalu, yang membawanya melalui pengalaman di industri, akademia, hingga kewirausahaan teknologi sebelum akhirnya mengemban peran di pemerintahan.
“Pengalaman lintas sektor mengajarkan saya bahwa riset tidak bisa berdiri sendiri, kolaborasi dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci agar inovasi daat memberi dampak nyata,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa penguatan riset nasional perlu diarahkan pada peningkatan kualitas, relevansi, dan keterhubungan dengan kebutuhan industri serta masyarakat. Menurutnya, kemitraan akademik internasional memiliki peran strategis dalam meningkatkan kapasitas peneliti Indonesia sekaligus membuka akses pada jejaring pengetahuan global.
“Kemitraan global bukan hanya tentang pertukaran akademik, tetapi bagaimana kita bersama-sama membangun kualitas riset dan sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat dunia,” lanjutnya.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Rektor Institut Teknologi Bandung, Tatacipta Dirgantara menegaskan bahwa kolaborasi jangka panjang seperti yang terjalin melalui BTHF menunjukkan bagaimana kemitraan yang konsisten mampu membentuk ekosistem pendidikan dan riset yang berkelanjutan. Ia menyampaikan bahwa selama satu adab, BTHF telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan ITB dalam mendukung pengembangan talenta dan melahirkan generasi ilmuwan
Pandangan mengenai pentingnya kolaborasi lintas negara tersebut juga disampaikan oleh Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Adriaan Palm, yang menekankan bahwa peringatan 100 tahun BTHF mencerminkan kekuatan hubungan jangka panjang Indonesia dan Belanda dalam membangun jejaring pengetahuan, inovasi, dan pertukaran talenta.
Ia menyoroti bahwa sejak awal berdirinya pada 1926, BTHF berperan sebagai jembatan yang menghubungkan generasi akademisi, peneliti, dan mahasiswa dari kedua negara melalui berbagai program pertukaran, kolaborasi riset, serta pengembangan jejaring internasional yang terus berkembang hingga saat ini.
Ia juga menyoroti semakin kuatnya kolaborasi pada bidang-bidang stategis seperti pengelolaan air, energi berkelanjutan, adaptasi perubahan iklim, hingga pengembangan semikonduktor dan kecerdasan artifisial, yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara bersama.
Dubes Palm menyampaikan harapannya agar momentum satu abad BTHF dapat memperluas kolaborasi tidak hanya pada ranah akademik, tetapi juga melalui keterlibatan industri dan penguatan jaringan alumni sebagai penggerak inovasi dan hubungan bilateral di masa depan.
Ketua BTHF, Eelco van Beek, menambahkan bahwa keberlangsungan kerja sama selama satu abad tidak terlepas dari kemampuan BTHF untuk terus menyesuaikan bentuk dukungannya dengan kebutuhan perkembangan pendidikan dan riset.
Menurutnya, berbagai inisiatif seperti hibah riset kolaboratif, kompetisi inovasi, hingga kegiatan pertukaran akademik dirancang untuk mempertemukan perspektif yang beragam dan mendorong lahirnya solusi yang relevan dengan tantangan masyarakat.
Ia menekankan bahwa nilai utama dari kolaborasi tersebut bukan hanya pada hasil riset, tetapi pada proses pembelajaran bersama yang membentuk pola pikir terbuka, kemampuan bekerja lintas budaya, serta dorongan untuk terus berkontribusi sepanjang karier akademik maupun profesional.
Peringatan satu abad BTHF menjadi penanda kuatnya kesinambungan kolaborasi lintas negara dalam mendukung kemajuan pendidikan, riset, dan inovasi. Momentum ini diharapkan membuka ruang kerja sama baru yang semakin relevan dengan tantangan masa depan serta memperkuat kontribusi riset bagi pembangunan Indonesia.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Kemdiktisaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif




