Manggarai - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus bergerak mendukung penanganan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam rangkaian kunjungannya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto berdialog langsung dengan sivitas akademika dari sejumlah perguruan tinggi yang telah turun ke lapangan membantu masyarakat terdampak, Rabu (26/8).
Dialog tersebut menjadi ruang untuk mendengarkan langsung laporan mahasiswa, mengenai kondisi di lapangan sekaligus mengidentifikasi kebutuhan masyarakat agar dukungan yang diberikan dapat lebih tepat sasaran. Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi menyampaikan pengalaman dan hasil asesmen selama berada di lokasi terdampak.
Vento Taneo dan Athans perwakilan mahasiswa dari Universitas Nusa Cendana (Undana) misalnya, menyampaikan bahwa tim mereka telah melakukan asesmen sekaligus mendistribusikan logistik di sejumlah kabupaten. Selain itu, Undana juga mengirimkan tim medis serta tim KKN Tematik untuk melakukan pendampingan kepada masyarakat yang masih mengalami trauma akibat bencana.
Laporan dari tim medis Undana turut menggambarkan kebutuhan layanan kesehatan di lapangan. Tim yang terdiri dari dokter dan mahasiswa tersebut melakukan pelayanan di sejumlah titik, termasuk puskesmas dan desa terdampak. Dalam laporan yang disampaikan kepada Mendiktisaintek, tim menyebut telah melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap masyarakat di beberapa lokasi.
Sementara itu, mahasiswa Universitas Mataram, Yoga AlHamid melaporkan sejumlah kegiatan yang dilakukan untuk membantu masyarakat, antara lain penyediaan air, pembersihan rumah warga, pembangunan sanitasi kamar mandi darurat, serta dukungan dapur umum. Tim tersebut menyampaikan bahwa penyediaan air menjadi salah satu fokus awal karena aliran air menuju rumah warga terputus akibat gempa.
Dari Universitas Airlangga (Unair), Rizqi Senja menyampaikan bahwa perguruan tinggi tersebut telah mengirimkan tim medis spesialis bedah ortopedi serta Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga ke Manggarai Timur. Setelah melakukan asesmen, Unair juga menyampaikan rencana konsolidasi untuk menentukan bentuk dukungan berikutnya, termasuk pada bidang pendidikan, pemenuhan kebutuhan dasar, dan aspek psikososial.
Adapun mahasiswa Politeknik eLBajo Commodus, Igen Raho menyampaikan kondisi di wilayah Manggarai Barat berdasarkan kegiatan yang mereka lakukan di lapangan. Mereka menemukan sejumlah kebutuhan, termasuk air, listrik, logistik, serta kebutuhan masyarakat untuk membangun kembali rumah yang terdampak. Mahasiswa juga menyampaikan bahwa distribusi bantuan di sejumlah wilayah masih perlu diperhatikan agar lebih merata.
Mendiktisaintek mengapresiasi keterlibatan perguruan tinggi dan mahasiswa yang telah bergerak membantu masyarakat terdampak. Menteri Brian menekankan bahwa dalam kondisi bencana, dukungan yang diberikan perlu didasarkan pada kebutuhan dan data di lapangan.
Menurut Mendiktisaintek, informasi dari sivitas akademika yang telah berada di lapangan menjadi bagian penting dalam menentukan titik dan bentuk dukungan yang perlu diprioritaskan. Ia menyampaikan bahwa koordinasi akan dilakukan untuk mengetahui wilayah yang masih belum terjangkau sehingga program dari perguruan tinggi yang ingin membantu dapat lebih sesuai dengan kebutuhan.
“Jadi tadi kami mendapatkan beberapa informasi, nantinya kita akan menyerahkan kepada Kepala LLDIKTI untuk mengoordinasikan titik-titik mana yang masih belum terjangkau. Itu mungkin akan didahulukan seperti yang dicontohkan oleh Unram dan Undana,” kata Mendiktisaintek.
Respons Cepat Perguruan Tinggi Dalam Membantu Pemulihan Bencana Gempa Bumi NTT
Di wilayah NTT, sejumlah perguruan tinggi swasta juga telah membentuk posko layanan bencana, di antaranya Universitas Nusa Nipa, Universitas Flores, Universitas Muhammadiyah Maumere, STIPER Bajawa, Politeknik Cristo Re, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, Institut Nasional Flores, STKIP Citra Bakti, dan STIKes St. Elisabeth Keuskupan Maumere. Selain itu, Universitas Nusa Nipa berkolaborasi dengan Universitas Padjadjaran dalam penyaluran sembako dan pengobatan gratis di Pulau Palue.
Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah perguruan tinggi dari luar NTT juga telah mengirimkan tim untuk mendukung penanganan di wilayah terdampak, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar yang bersama sejumlah mitra mengirimkan tim relawan medis ke Desa Lalong, Kecamatan Waeri’i, Kabupaten Manggarai. Tim melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap 78 warga serta menyerahkan tenda, selimut, obat, dan kebutuhan dasar lainnya.
Universitas Warmadewa Bali juga mengirimkan sekitar 50 mahasiswa melalui dua kelompok KKN di Desa Macang Tanggar dan Desa Warlokasi Pesisir, Manggarai Barat, untuk membantu masyarakat terdampak gempa. Sementara Universitas Syiah Kuala (USK) mengirimkan Tim USK Peduli Manggarai NTT, yang terdiri atas tujuh orang untuk bertugas di RSUD Komodo, Manggarai Barat. Tim tersebut akan memberikan pelayanan medis sekaligus melakukan asesmen kebutuhan dan surveilans epidemiologi, serta mendukung logistik, sistem informasi, dan penguatan kapasitas tenaga kesehatan setempat.
Keterlibatan perguruan tinggi lainnya juga terlihat dari Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya di Ruteng, Universitas Hasanuddin, Universitas Padjadjaran bersama IKA UNPAD di Pulau Palue, serta Universitas Sebelas Maret melalui tim dokter di Mbay, Nagekeo.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak






