Jakarta–Ratusan mahasiswa dari BEM Seluruh Indonesia (BEM-SI) menggelar aksi yang menyuarakan berbagai persoalan fundamental pendidikan nasional. Dalam aksi yang diikuti mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Cipayung Plus, BEM, serta organisasi kepemudaan lainnya di depan Kantor Kemdiktisaintek, Senin (04/05).
Peserta aksi menyampaikan sejumlah aspirasi, antara lain terkait evaluasi penyaluran dana bantuan pendidikan agar lebih tepat sasaran dan transparan, pemerataan akses pendidikan berkualitas di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), hingga penolakan komersialisasi pendidikan. Mahasiswa juga menyoroti isu kekerasan seksual di lingkungan kampus, kesejahteraan tenaga pendidik, serta pentingnya menjaga independensi ruang akademik.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengapresiasi penyampaian aspirasi mahasiswa yang berlangsung secara tertib dalam aksi di depan Kantor Kemdiktisaintek. Aksi tersebut menjadi ruang penyampaian berbagai isu fundamental pendidikan tinggi yang terus memerlukan umpan balik untuk menciptakan suatu ekosistem pendidikan tinggi yang berdampak bagi masyarakat.
Menanggapi aksi tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan turun langsung menemui mahasiswa di depan kantor Kemdiktisaintek untuk mendengarkan dan merespons aspirasi secara terbuka.
Merespons pelbagai aspirasi demonstran, Kemdiktisaintek memang tengah membahas persoalan dan solusi berbagai isu pendidikan serta komitmen untuk menindaklanjuti berbagai masukan melalui mekanisme yang berlaku, sekaligus membuka ruang komunikasi yang lebih luas dan berkelanjutan antara mahasiswa dan pemerintah.
Wamendiktisaintek menegaskan bahwa aspirasi mahasiswa merupakan bagian dari perhatian bersama pemerintah dalam membenahi sektor pendidikan tinggi. Kemdiktisaintek memperhatikan betul kasus-kasus pelecehan dan kekerasan seksual, yang bertentangan dengan moral bangsa Indonesia. Selain itu, Wamendiktisaintek juga meluruskan berbagai isu yang berkembang di publik.
Dalam kesempatan tersebut, Wamendiktisaintek menegaskan komitmen Kemdiktisaintek untuk menjadikan kampus sebagai benteng moral dan etika, sekaligus mendorong mahasiswa tetap berperan sebagai agen kontrol dalam ekosistem pendidikan tinggi. Wamendiktisaintek juga menegaskan bahwa pemerintah membuka ruang dialog yang lebih luas bagi mahasiswa.
“Kami buka seluas-luasnya kepada saudara untuk bisa hadir kapan saja. Saya berharap saudara tetap menjadi agen perubahan dalam perjalanan pendidikan tinggi,” jelas Wamen Fauzan.
Upaya tersebut juga mencerminkan upaya pemerintah dalam menjadikan pendidikan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia yang berdaya saing dan berkeadilan.
Sejalan dengan arahan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) melalui visi Asta Cita, pemerintah terus mendorong penguatan sektor pendidikan melalui peningkatan akses dan kualitas secara merata, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta penguatan sarana prasarana dan sumber daya manusia pendidikan.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto sebelumnya menegaskan melalui arah kebijakan Diktisaintek Berdampak mengenai pentingnya memastikan kebijakan pendidikan tidak hanya berhenti pada tataran konsep, tetapi memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui peningkatan akses, kualitas, dan relevansi pendidikan tinggi.
Kemdiktisaintek berkomitmen untuk secara kolaboratif terus mendorong seluruh elemen, khususnya mahasiswa, untuk terus berperan aktif sebagai mitra kritis dalam pembangunan pendidikan nasional. Partisipasi yang konstruktif, dialog yang terbuka, serta kolaborasi berkelanjutan menjadi kunci dalam mewujudkan sistem pendidikan tinggi yang adil, inklusif, dan berintegritas.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif






