MATARAM – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong mahasiswa untuk menjadikan kebutuhan nyata masyarakat sebagai titik awal dalam merancang Program Aksara Mahasiswa. Mahasiswa diharapkan hadir langsung, mendengarkan, dan memahami persoalan masyarakat sebelum merumuskan solusi berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Komitmen tersebut diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Penulisan Proposal Mahasiswa Berdampak: Program Aksara Mahasiswa Tahun Anggaran 2026 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), bekerja sama dengan Universitas Islam Al-Azhar (Unizar) Mataram, Jumat, 7 Agustus 2026.
Kegiatan ini diikuti dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Nusa Tenggara Barat sebagai bagian dari upaya memperluas pemahaman dan partisipasi perguruan tinggi dalam Program Aksara Mahasiswa.
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Ditjen Risbang Kemdiktisaintek, I Ketut Adnyana, menyampaikan bahwa Program Aksara Mahasiswa dirancang sebagai ruang pembelajaran sekaligus pemberdayaan yang memberikan manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat.
“Program Aksara Mahasiswa memiliki dua tujuan yang harus berjalan beriringan. Mahasiswa memperoleh pengalaman belajar dan membangun tanggung jawab, sementara masyarakat harus memperoleh manfaat nyata dari kegiatan yang dilaksanakan,” ujar I Ketut Adnyana.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa menjadi penggerak utama dalam pelaksanaan program. Mahasiswa didorong untuk terlibat sejak proses mengidentifikasi persoalan, membangun komunikasi dengan masyarakat dan mitra, menyusun rencana kerja, hingga menerapkan solusi berbasis hasil riset, teknologi, dan inovasi perguruan tinggi.
Dalam proses tersebut, dosen berperan sebagai pendamping yang menjaga arah dan mutu kegiatan sekaligus membantu menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan kepakaran yang tersedia di perguruan tinggi.
I Ketut Adnyana menekankan bahwa setiap proposal harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Karena itu, mahasiswa tidak seharusnya memulai program dengan membawa solusi yang telah ditentukan sebelumnya tanpa terlebih dahulu memahami persoalan di lapangan.
“Saya berharap, setelah kegiatan ini, ada satu hal yang benar-benar kita pegang: sebelum menyusun proposal, temui dan dengarkan masyarakat, kemudian rumuskan kebutuhan mereka menjadi proposal yang baik,” tegas I Ketut Adnyana.
Program Aksara Mahasiswa Tahun 2026 dilaksanakan melalui dua skema, yaitu Aksara Peduli dan Aksara Sirkular. Aksara Peduli berfokus pada pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan, seperti ketahanan pangan, energi, kesehatan, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, ekonomi biru, serta isu lain yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan wilayah sasaran.
Sementara itu, Aksara Sirkular diarahkan pada pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah dari sumber melalui edukasi, pemilahan, penerapan teknologi tepat guna, penguatan kelembagaan, hingga pengembangan ekonomi sirkular.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VIII, I Gusti Lanang Bagus Eratodi, mengajak peserta memanfaatkan kegiatan sosialisasi dan bimbingan teknis untuk memahami arah kebijakan Program Aksara Mahasiswa secara menyeluruh, mulai dari penyusunan proposal hingga pelaksanaan program di lapangan.
“Jadikan program ini sebagai wadah untuk mengasah kepemimpinan, kepekaan sosial, dan keterampilan berpikir kritis. Kami yakin riset dan inovasi yang ada di kampus akan memberikan manfaat dan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Eratodi.
Ia juga mendorong dosen pembimbing dan pimpinan perguruan tinggi di Nusa Tenggara Barat untuk membangun ekosistem yang mendukung pelaksanaan Program Aksara Mahasiswa, mulai dari pendampingan akademik, rekognisi pembelajaran, hingga penyediaan sarana dan prasarana.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan mitra menjadi salah satu kunci untuk menghasilkan proposal yang berkualitas sekaligus memastikan program memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Rektor Universitas Islam Al-Azhar Mataram, Muh. Ansyar, menyampaikan bahwa kepercayaan menjadi tuan rumah kegiatan tersebut merupakan momentum bagi Unizar untuk semakin memperkuat budaya pengabdian kepada masyarakat yang berbasis riset dan inovasi.
“Kami menyambut baik kehadiran Program Aksara Mahasiswa di Mataram. Program ini menjadi wadah strategis bagi mahasiswa untuk menuangkan gagasan, pemikiran inovatif, serta kepedulian sosial ke dalam karya yang terstruktur dan memberikan dampak nyata,” ujar Muh. Ansyar.
Selama kegiatan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai kebijakan Program Aksara Mahasiswa, mekanisme pengusulan, persyaratan, luaran program, sistematika penyusunan proposal Aksara Peduli dan Aksara Sirkular, serta tata kelola administrasi dan keuangan.
Forum tersebut juga menjadi ruang diskusi antara narasumber, dosen, dan mahasiswa untuk memperkuat pemahaman sekaligus menyempurnakan gagasan proposal yang akan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di masing-masing daerah.
Salah seorang peserta, Dian Aprilia, mahasiswa Unizar, mengaku memperoleh banyak wawasan baru mengenai penyusunan proposal yang berorientasi pada dampak.
“Melalui kegiatan ini, kami semakin memahami bahwa program pengabdian tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga harus mampu menghasilkan perubahan yang dirasakan masyarakat. Kami semakin termotivasi untuk menyusun proposal yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan daerah kami,” ungkap Dian.
Peserta lainnya, Qaiz Ainurrahmadika dari Akademi Bisnis Lombok, menilai kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai penyusunan program yang berkelanjutan, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dan pertukaran gagasan antarmahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Melalui Program Aksara Mahasiswa, Kemdiktisaintek mendorong mahasiswa untuk memulai setiap program dari kebutuhan nyata masyarakat, kemudian menghadirkan solusi melalui penerapan ilmu pengetahuan, hasil riset, teknologi, dan inovasi. Dengan dukungan perguruan tinggi, dosen, pemerintah daerah, dan mitra, program ini diharapkan menghasilkan perubahan yang relevan, berkelanjutan, dan dirasakan langsung oleh masyarakat sebagai bagian dari semangat Diktisaintek Berdampak.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#PentingSaintek
#KampusBerdampak






