Jakarta — Pengembangan obat berbasis riset dan kekayaan bahan alam Indonesia menjadi salah satu peluang strategis untuk memperkuat industri kesehatan nasional. Potensi biodiversitas yang dimiliki Indonesia perlu didukung oleh riset, penguasaan teknologi pengolahan, fasilitas produksi, serta pemenuhan standar keamanan dan mutu agar dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Upaya tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam pertemuan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dengan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, Kamis (5/11). Pertemuan ini membahas penguatan kolaborasi dalam mendorong hilirisasi hasil riset perguruan tinggi, khususnya pengembangan produk berbasis bahan alam, agar dapat berlanjut dari tahap penelitian menuju pengembangan dan produksi dengan dukungan industri lokal, serta pendampingan regulator.
Menteri Brian menyampaikan bahwa perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia, telah memiliki berbagai hasil riset dan kemampuan pengembangan teknologi yang berpotensi mendukung industri obat dan produk berbasis bahan alam. Tantangan berikutnya adalah menghubungkan hasil penelitian tersebut dengan fasilitas produksi dan kebutuhan industri, sehingga inovasi yang dihasilkan tidak berhenti pada skala laboratorium.
“Perguruan tinggi dan lembaga penelitian sudah memiliki kemampuan riset dan pengembangan. Namun, untuk membawa hasilnya sampai ke tahap produksi, diperlukan keterhubungan dengan fasilitas industri dan dukungan dari berbagai pihak,” ujar Menteri Brian.
Hilirisasi membutuhkan keterpaduan proses, mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan dan pemurnian, hingga pengembangan produk lanjutan. Keterhubungan antara peneliti, industri, dan regulator menjadi penting agar hasil riset dapat dikembangkan secara terarah, memiliki nilai tambah, serta memenuhi persyaratan yang diperlukan untuk pemanfaatan lebih luas.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kemdiktisaintek telah menjajaki komunikasi dengan industri terkait potensi pemanfaatan fasilitas ekstraksi bahan alam yang belum digunakan secara optimal. Fasilitas ini berpeluang mendukung proses pengolahan hasil penelitian perguruan tinggi menuju tahap pengembangan berikutnya, dengan tetap memperhatikan standar teknis, perizinan, dan ketentuan yang berlaku.
Pembahasan juga mencakup pengembangan komoditas berbasis biodiversitas, salah satunya kratom, sebagai contoh rintisan hilirisasi. Menteri Brian menjelaskan bahwa perguruan tinggi dan lembaga penelitian telah mengembangkan riset serta teknologi pengolahan komoditas tersebut hingga tahap pilot plant. Tahap selanjutnya membutuhkan dukungan fasilitas industri dan pendampingan BPOM agar pengembangannya dapat berjalan sesuai standar dan regulasi. Melalui pengembangan tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan dengan nilai tambah lebih tinggi.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar menyambut pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan produk berbasis bahan alam. Dukungan BPOM diperlukan untuk memastikan proses hilirisasi berjalan seiring dengan pemenuhan persyaratan keamanan, mutu, dan standar produk. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak turut membahas pemanfaatan fasilitas produksi, sertifikasi, ketentuan ekspor, serta kemungkinan pendampingan teknis bagi peneliti dan industri.
Aspek pembuktian ilmiah menjadi bagian penting dalam pengembangan produk berbasis bahan alam. Karakterisasi senyawa, tingkat kemurnian, serta aspek keamanan perlu didukung pengujian yang memadai. Tahapan uji praklinik dan uji klinik juga menjadi bagian dari proses pembuktian sesuai dengan persyaratan pengembangan dan kategori produk yang dituju.
Untuk memperkuat kesiapan peneliti dalam memasuki tahapan hilirisasi, pertemuan tersebut turut membahas rencana pendampingan melalui coaching clinic bagi peneliti dan profesor. Selain itu, dibahas pula peluang pembukaan usulan penelitian yang dapat mendukung pengembangan bahan alam dan pemanfaatan hasil riset menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Kemdiktisaintek juga akan memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait. Koordinasi ini diperlukan agar pengembangan komoditas berbasis bahan alam, termasuk aspek pengolahan dan ekspornya, berjalan sesuai ketentuan dan kewenangan masing-masing instansi.
Kolaborasi Kemdiktisaintek dan BPOM tersebut sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, yaitu mendorong hasil pendidikan tinggi, sains, dan teknologi agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional. Melalui sinergi perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, dan regulator, hasil riset diharapkan dapat menjadi fondasi pengembangan obat dan produk berbasis bahan alam yang memenuhi standar serta memiliki daya saing.
Penguatan hilirisasi riset obat berbasis bahan alam menjadi langkah penting untuk meningkatkan kapasitas industri nasional, memperluas pemanfaatan kekayaan biodiversitas Indonesia, dan memperkuat kemandirian dalam pengembangan produk kesehatan. Dengan dukungan riset yang kuat, fasilitas industri, serta regulasi yang tepat, inovasi dari perguruan tinggi diharapkan dapat bergerak lebih jauh hingga memberikan dampak bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak




