Inayah Alya: Menyalakan Kepemimpinan dari Hati untuk Generasi Sehat Aceh

Kabar

08 November 2025 | 05.46 WIB

Inayah Alya: Menyalakan Kepemimpinan dari Hati untuk Generasi Sehat Aceh
Dari Desa Lubok Batee, Aceh Besar, langkah seorang mahasiswi bernama Inayah Alya, akrab disapa Naya,  perlahan menumbuhkan perubahan nyata bagi lingkungannya. Ia percaya bahwa kepemimpinan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi jabatan. “Kepemimpinan bukan tentang posisi tertinggi, melainkan kemampuan untuk menyalakan semangat, mendengarkan, dan memberdayakan tim,” tulis Naya dalam esai kepemimpinannya untuk FLC 2025. Bagi Naya, pemimpin sejati tidak hanya memimpin di garda depan, tetapi juga menumbuhkan orang lain agar berani turut bergerak. Sebagai mahasiswa Administrasi Rumah Sakit di STIKes Muhammadiyah Aceh, Naya memaknai kepemimpinan sebagai cara untuk menghidupkan kembali harapan, baik di kampus maupun di masyarakat. Perjalanan Naya di dunia kepemimpinan dimulai dari sesuatu yang sederhana, ketika menjadi Komandan Tingkat (Komting) di awal masa kuliah. “Dari peran kecil itu, aku belajar makna pertama kepemimpinan bahwa memimpin bukan tentang jabatan, melainkan tentang mendengar, memahami, dan memastikan semua orang merasa dilibatkan,” ungkapnya. Ketika roda organisasi kampus sempat berhenti berputar, Naya tidak menyerah. Ia ikut mengubah situasi sulit itu menjadi titik balik. Sebagai Wakil Presiden Mahasiswa BEM STIKes Muhammadiyah Aceh, ia memimpin 27 anggota untuk membangun kembali semangat organisasi yang sempat pasif menjadi aktif dan inklusif. “Bersama tim, saya membangun budaya kerja kolaboratif, komunikasi terbuka, dan rasa kekeluargaan di antara anggota,” ujarnya.  Perubahan itu terasa luas. BEM kembali menjalankan berbagai program kemahasiswaan, menjalin sinergi antar organisasi, dan menjadi ruang pembelajaran hidup bagi banyak mahasiswa. Menyapa Remaja Aceh Lewat Edukasi Kesehatan Perjalanan kepemimpinan Naya berlanjut sebagai Koordinator II Remaja Centra Muda Putroe Phang (CMPP) di bawah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Provinsi Aceh. Ia menjadi bagian dari inisiatif yang menghidupkan kembali program remaja yang sempat vakum. Ia memimpin para fasilitator muda dalam menyelenggarakan edukasi kesehatan reproduksi, pencegahan napza, dan partisipasi remaja di sekolah, serta posyandu. Program yang dijalankan di bawah kolaborasi antara Dinas Kesehatan, United Nations Children's Fund (UNICEF), dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) itu kini menjangkau lebih dari 200 remaja di 10 puskesmas di Aceh. Naya terjun langsung ke lapangan, mendampingi kader (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja) PKPR dan PKBI di tingkat puskesmas, menyusun modul edukatif, serta menjadi narasumber dalam forum-forum diskusi remaja. “Kami hidupkan lagi. Karena remaja lebih mudah bicara dengan remaja, kami turun langsung ke lapangan untuk edukasi,” ujarnya. Bagi Naya, kepemimpinan dalam konteks ini adalah tentang menyediakan ruang aman dan menumbuhkan kepercayaan diri remaja. “Saya belajar untuk memimpin dengan empati, agar mereka dapat berkontribusi dengan cara terbaiknya,” katanya. Dari Ide ke Dampak: Inovasi Sosial untuk Masyarakat Sebagai ketua tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Video Gagasan Konstruktif (VGK), Naya memimpin inisiatif yang mengangkat nilai budaya lokal untuk solusi kesehatan. “Pengembangan gagasan edukasi stunting berbasis pembelajaran inovatif dengan kearifan lokal Gayo Lues,” tulisnya. Pendekatan itu bukan sekadar proyek akademik, ia menjadikannya alat komunikasi budaya dan edukasi masyarakat. Melalui bahasa dan tradisi lokal, pesan tentang gizi dan kesehatan menjadi lebih mudah diterima oleh masyarakat pedesaan. Inovasi Naya berlanjut ketika ia menjadi pembina tim LUNGY (Lung Healthy) penerima Hibah Program Youth for Health Impact UNICEF Aceh 2025. “Saya membimbing BEM remaja untuk menciptakan inovasi edukasi tentang bahaya asap rokok bagi anak melalui metode eksperimen sains dan maskot edukatif ‘Lungy’,” tulisnya. Proyek ini mendorong kesadaran publik terhadap kesehatan anak dan mengembangkan kreativitas remaja dalam menyelesaikan isu sosial secara ilmiah. Dengan pendekatan yang menyenangkan, Naya menjadikan sains dan seni sebagai jembatan untuk perubahan perilaku masyarakat. Future Leaders Camp 2025 Menuntun Arah Naya Pengalaman mengikuti Future Leaders Camp (FLC) 2025 menjadi bab baru dalam perjalanan Naya. “Kesannya senang banget, bahkan nggak bisa diungkapkan, biasanya aku ketemu di forum yang lingkupnya kecil aja, tapi di sini ketemu teman-teman dari seluruh Sumatera, orang-orang keren,” ungkapnya. Pertemuan lintas daerah ini memperluas cara pandang Naya tentang kepemimpinan dan peran sosial. “Dulu aku pikir memimpin di kampus aja sudah cukup besar, tapi ternyata kita bisa berdampak lebih luas bahkan sampai membuka lapangan pekerjaan dan membantu masyarakat,” katanya dengan mata berbinar. Materi dari para pemateri FLC dari berbagai sektor membuatnya sadar bahwa kepemimpinan tidak berhenti di ruang kelas atau organisasi, melainkan bisa menembus ranah kebijakan dan inovasi sosial. Sepulang dari FLC, Naya bertekad membawa semangat itu ke kampus. “Aku satu-satunya yang lolos dari kampus, jadi rasanya kayak punya tanggung jawab untuk berbagi pengalaman ini,” tuturnya. Ia juga menyadari bahwa menjadi pemimpin berarti siap menghadapi kejenuhan dan tantangan, namun FLC menyalakan kembali semangatnya. “Kadang aku merasa capek, kayak cukup sampai sini aja. Tapi setelah FLC, aku sadar bahwa dampak yang panjang itu justru berarti. Jadi semangatnya kebakar lagi,” ujarnya sambil tertawa kecil. Seluruh perjalanan Naya menunjukkan satu benang merah: kepemimpinan yang berakar pada empati dan aksi nyata. Kisah Naya memperlihatkan wajah Diktisaintek Berdampak dalam bentuk paling manusiawi: ilmu yang ditekuni diterjemahkan menjadi aksi, dan kepemimpinan yang dijalankan menjadi pelayanan.  Melalui Future Leaders Camp 2025, Naya melangkah sebagai bagian dari generasi pemimpin muda Indonesia yang peduli, kolaboratif, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. Suaranya mungkin lembut, tetapi dampaknya menggema membangun masa depan yang lebih sehat, inklusif, dan penuh harapan. Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi #DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif

/

5

Ulas Sekarang