Jakarta—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) menghimpun masukan dari perguruan tinggi untuk memperkuat kualitas layanan, tata kelola program, serta percepatan pelaksanaan riset Tahun Anggaran 2026. Upaya ini dilakukan melalui Forum Dialog Risbang Akhir Tahun 2025 yang diselenggarakan secara daring, Rabu (31/12), dan diikuti lebih dari 2.700 peserta, termasuk jejaring akademik di luar negeri (diaspora).
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dalam arahannya menegaskan bahwa keberhasilan riset dan pengembangan memerlukan kolaborasi yang erat antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan lainnya. Sinergi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar hasil riset semakin berdampak bagi masyarakat serta berkontribusi pada penguatan daya saing nasional.
Membuka forum, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Fauzan Adziman menegaskan bahwa Forum Dialog Risbang Akhir Tahun dirancang sebagai ruang komunikasi dua arah antara kementerian dan perguruan tinggi.
“Forum ini memang kami desain sebagai dialog dua arah. Kami ingin lebih banyak mendengarkan masukan dari perguruan tinggi, apa kendalanya, apa yang perlu disederhanakan, dan pengalaman di lapangan, agar menjadi dasar perbaikan kebijakan dan layanan ke depan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, memaparkan konteks daya saing inovasi Indonesia sekaligus capaian Ditjen Risbang sepanjang Tahun Anggaran 2025. Ia menjelaskan bahwa meski peringkat Indonesia pada Global Innovation Index (GII) turun satu tingkat secara keseluruhan, kinerja pada aspek innovation output justru menguat. Indonesia tercatat naik delapan peringkat (dari posisi 67 ke 59 dari 135 negara) serta dikategorikan sebagai innovation overperformer, yakni negara dengan kinerja inovasi yang melampaui tingkat perkembangan ekonominya.
“Capaian ini menunjukkan bahwa riset kita semakin produktif dan berdampak. Tantangannya ke depan adalah memperkuat innovation input, termasuk pendanaan riset dan kontribusi industri, agar ekosistem inovasi kita semakin seimbang,” ujar Dirjen Fauzan.
Ditjen Risbang mencatat sejumlah capaian strategis sepanjang 2025. Sekitar Rp2 triliun pendanaan riset telah disalurkan 51% kepada PTN dan 49% kepada PTS yang diarahkan untuk mendukung program prioritas nasional serta delapan industri strategis, meliputi pangan, energi, kesehatan, maritim, pertahanan dan ketahanan bencana , digitalisasi, manufaktur dan material maju, serta hilirisasi dan industrialisasi.
Selain itu, Ditjen Risbang mendanai 16.836 kegiatan riset dan 6.340 kegiatan pengabdian kepada masyarakat, serta mendorong hilirisasi melalui 796 produk riset dan 929 kerja sama dengan 624 mitra industri, termasuk kemitraan internasional dengan Australia, Belanda, Prancis, dan Inggris. Sejalan dengan upaya memperluas kesempatan riset di berbagai perguruan tinggi, porsi riset yang didanai pada PTS meningkat dari 52,6% (2024) menjadi 62,2% (2025). Dari sisi tata kelola, serapan anggaran Ditjen Risbang mencapai 96,6%, atau 97,8% setelah penyesuaian blokir anggaran.
Ditjen Risbang juga terlibat aktif dalam tanggap darurat bencana di Sumatera melalui program PkM Tanggap Darurat Bencana dengan melibatkan sekitar 3.000 tenaga medis, tenaga kesehatan, dan relawan dari perguruan tinggi.
Capaian lainnya juga menunjukkan kinerja yang melampaui target di sejumlah indikator. Pemetaan Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUIPT) mencapai 84 lembaga dari target 78. Dampak publikasi internasional juga meningkat, dengan rasio sitasi 1,89 (target 1,8) dan h-index 349 (target 318). Dari sisi hilirisasi, penerimaan Science Techno Park (STP) tercatat Rp93,8 miliar dari target Rp50 miliar (dalam verifikasi), sementara paten granted mencapai 18.006 dari target 17.500 (dalam verifikasi).
Dari sisi tata kelola, serapan anggaran Ditjen Risbang mencapai 96,3%, atau 97,6% setelah penyesuaian blokir anggaran, dengan capaian output dan kontrak kinerja yang tercatat mencapai target 100 persen. Capaian ini menjadi dasar untuk memperkuat layanan, tata kelola, dan percepatan program riset pada TA 2026.
Dalam forum ini, Ditjen Risbang juga memaparkan hasil Survei Evaluasi Program Risbang Tahun 2025 yang diikuti sekitar 5.942 responden dari kalangan dosen, peneliti, dan pejabat struktural perguruan tinggi. Survei ini memotret evaluasi pelaksanaan program, harapan pemangku kepentingan, serta saran perbaikan, dan menjadi salah satu rujukan utama dalam penyempurnaan kebijakan serta layanan program pada tahun berikutnya.
Forum diikuti oleh pimpinan perguruan tinggi, Wakil Rektor bidang riset dan inovasi, pimpinan LPPM/DRI/DKST/STP, dosen-peneliti, serta Kepala LLDIKTI Wilayah I–XVII. Berbagai aspirasi yang dihimpun menitikberatkan pada peningkatan kemudahan layanan, kualitas proses, dan penguatan ekosistem riset, antara lain terkait transparansi penilaian proposal dan umpan balik reviewer, penyederhanaan administrasi, percepatan digitalisasi dan pencairan, penguatan akses jurnal dan basis data ilmiah, serta penataan timeline pendanaan dan luaran agar lebih realistis.
Sejumlah Pimpinan unit kerja Ditjen Risbang turut menegaskan komitmen perbaikan layanan dan tata kelola riset. Sekretaris Ditjen Risbang Junaidi Khotib menyebut forum ini sebagai momentum menghimpun gagasan konstruktif sekaligus memperkuat tanggung jawab bersama kementerian–perguruan tinggi dalam membangun iklim riset yang sehat, sementara Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat I Ketut Adnyana menegaskan pembenahan proses bisnis layanan terus dilakukan bertahap berbasis praktik baik dan evaluasi dinamika penyesuaian organisasi, efisiensi, dan keterbatasan sumber daya di program 2025.
Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Yos Sunitiyoso menyampaikan skema hilirisasi/kemitraan terus disempurnakan, termasuk percepatan review dan kemudahan penjajakan mitra, serta penguatan kontribusi pendanaan mitra pada 2026 agar kolaborasi lebih serius dan berkelanjutan; Direktur Bina Talenta Heri Kuswanto menambahkan pembinaan talenta akan diperluas dengan skema lebih tersegmentasi dari dosen muda hingga peneliti mapan untuk meningkatkan daya saing global sekaligus menjembatani hilirisasi dan komersialisasi.
Melalui Forum Dialog Risbang Akhir Tahun 2025, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran riset dan inovasi sebagai penggerak pembangunan nasional yang berkelanjutan, inklusif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.






