Yogyakarta, 26 Februari 2026 – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali meneguhkan posisinya sebagai perguruan tinggi seni bereputasi internasional. Citra Aryandari, akademisi dan peneliti ISI Yogyakarta, terpilih sebagai Short-Term Fellow di Yale Institute of Sacred Music (ISM), Amerika Serikat, untuk melakukan riset manuskrip Jawa kuno yang tersimpan di Yale University Art Gallery. Fellowship yang berlangsung pada Februari 2026 tersebut difokuskan pada penelitian koleksi manuskrip wayang abad ke-18 hingga ke-19 yang selama ini belum banyak dikaji secara mendalam. Melalui riset di Wurtele Study Center, Citra menghubungkan arsip material di Yale dengan pengetahuan performans yang masih hidup dan berkembang di Yogyakarta. Penelitian ini dipresentasikan pada 19 Februari 2026 di Miller Hall, Yale ISM, dalam forum akademik bertajuk “Dancing Ink: The Rhythmic Dialogue of Text and Image in Javanese Manuscript.” Pada kesempatan yang sama, video art essay hasil riset turut diputar sebagai bagian dari diseminasi akademik internasional. Dalam paparannya, Citra menegaskan bahwa manuskrip wayang tersebut tidak dapat dipahami semata sebagai dokumen historis. “Saya menemukan bahwa manuskrip ini bukan sekadar dokumen sejarah, tetapi adalah ‘partitur’ untuk pertunjukan wayang yang mengodekan informasi visual, naratif, musikal, bahkan teologis,” ujar Citra Aryandari.
Selama fellowship, Citra melakukan transliterasi intensif terhadap sekitar 250 halaman manuskrip. Hingga saat ini, ia telah berhasil mengalihaksarakan sekitar 1.500 kata naskah Jawa Kuno. Riset tersebut juga mengidentifikasi dua jenis tembang macapat—Pangkur dan Durma—yang dikodekan melalui penanda visual dalam iluminasi manuskrip. Temuan lain yang signifikan adalah bukti sinkretisme Islam-Jawa dalam narasi wayang, termasuk representasi tokoh Semar sebagai “ulama” yang digambarkan melaksanakan salat Duha. Riset ini menggabungkan dua pendekatan metodologis yang saling melengkapi. Pertama, pendekatan etnografi di Yogyakarta melalui wawancara dengan para praktisi seni, antara lain dalang Ki Catur Benyek Kuncoro, penabuh gamelan Ipon (Afan Akbar), dalang cilik Sakka, serta filolog Dr. Sri Ratna Saktimulya. Kedua, pendekatan arsip di Yale melalui dokumentasi, analisis visual, dan transliterasi manuskrip di Wurtele Study Center. Citra menegaskan bahwa penelitian ini menunjukkan hubungan timbal balik antara arsip dan praktik hidup. “Tanpa praktisi di Yogyakarta, saya tidak bisa memahami signifikansi apa yang ada di manuskrip. Tanpa manuskrip di Yale, pengetahuan praktisi kehilangan pijakan material. Arsip dan praktik bukanlah alternatif, melainkan saling bergantung,” ungkapnya.Capaian ini tidak hanya menjadi prestasi personal, tetapi juga mencerminkan kekuatan ekosistem keilmuan di ISI Yogyakarta yang mengintegrasikan praktik artistik, penelitian filologis, dan jejaring akademik global. Kehadiran ISI Yogyakarta dalam forum akademik bergengsi di Yale menegaskan bahwa pengetahuan seni berbasis tradisi Nusantara memiliki kontribusi penting dalam percakapan ilmiah internasional. Partisipasi sebagai Short-Term Fellow di Yale ISM memperluas jejaring kolaborasi internasional sekaligus memperkuat posisi tawar ISI Yogyakarta sebagai pusat unggulan kajian seni, manuskrip, dan performans tradisi. Momentum ini sekaligus menjadi promosi strategis bagi ISI Yogyakarta dalam menunjukkan kapasitas riset berbasis seni yang mampu menjembatani arsip global dengan praktik budaya lokal yang hidup dan dinamis. Melalui capaian ini, ISI Yogyakarta kembali menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mengembangkannya dalam horizon akademik dunia. Dokumen lengkap terkait informasi pada laman ini dapat diakses melalui tautan berikut sebagai referensi resmi Institut Seni Indonesia Yogyakarta: https://drive.google.com/file/d/1bJijxJacmKZUCP4vSVsYadP_trBZ91lp/view?usp=drivesdk







