Dari Kebun Hingga Produk Jadi: Langkah Nyata TEP UNDIP Angkat Kesejahteraan Petani Kakao Keerom

Kampus Kita

17 September 2026 | 16.00 WIB

Dari Kebun Hingga Produk Jadi: Langkah Nyata TEP UNDIP Angkat Kesejahteraan Petani Kakao Keerom

UNDIP, Senggi Kabupaten Keerom (17/9) – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) Tim 11 Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua mendorong pengembangan hilirisasi kakao. Langkah ini dilakukan melalui pemetaan kondisi komoditas, identifikasi rantai usaha, penguatan basis produksi hulu, hingga perancangan produk bernilai tambah yang dapat dikelola secara mandiri oleh masyarakat lokal.

Tim 11 yang diketuai oleh M. Indra Hadi Wijaya S.T., MPWK., bersama lima anggotanya, antara lain Dasdo Wahyu Saragih, S.P.W.K.; Maela Rosinta, S.P.; Narda Nadia Putri S.M., M.M.; Dwi Sanjaya Rahayu Ohee, S.Tr.P.; dan Rayhan Ahmad Zaki, S.E., telah mengawali rangkaian kegiatan lapangan sepanjang Agustus 2026. Kegiatan tersebut meliputi koordinasi bersama pemangku kepentingan, survei dan pemetaan kebun, wawancara pelaku usaha, mini-FGD, hingga validasi potensi pengembangan kakao di Kawasan Transmigrasi Senggi.

Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa penanganan rantai produksi hulu menjadi prioritas utama sebelum melangkah ke penyediaan mesin pengolahan maupun pembuatan produk akhir. Beberapa kebun kakao di kawasan tersebut mengalami penurunan produktivitas akibat serangan hama, keterbatasan akses ke bibit unggul, pupuk, dan pestisida, serta belum optimalnya kelembagaan dan kapasitas budidaya petani.

Meski menghadapi kendala di tingkat hulu, tim menemukan modal sosial yang kuat berupa tingginya minat masyarakat untuk melakukan penanaman kembali (replanting). Hasil survei terhadap 22 petani lokal mengonfirmasi antusiasme warga dalam merevitalisasi kebun kakao. Kebutuhan utama yang diaspirasikan petani mencakup pelatihan teknis, penyuluhan budidaya, permodalan, serta kepastian harga dan pasar.

“Kalau ada bibit kakao yang bagus, kami mau tanam lagi. Dulu kami punya banyak kebun kakao, tetapi sekarang banyak yang sudah tua dan tidak produktif. Kami berharap bisa mulai lagi, apalagi kalau ada pendampingan dan pasar untuk hasil panennya,” ungkap Udin, salah satu petani setempat. Pernyataan tersebut mencerminkan optimisme petani untuk merevitalisasi kebun mereka jika didukung akses bahan tanam, pendampingan teknis, dan pasar yang jelas.

Ketua Tim 11, M. Indra Hadi Wijaya S.T., MPWK., menegaskan bahwa investasi teknologi pengolahan harus didasarkan pada data faktual di lapangan. “Hilirisasi tidak cukup hanya menghadirkan alat pengolahan. Kita perlu memastikan terlebih dahulu siapa petaninya, di mana kebunnya, bagaimana kondisi tanamannya, berapa potensi produksinya, bagaimana pascapanennya, dan ke mana produknya akan dipasarkan. Karena itu, penguatan hulu dan hilir harus dirancang sebagai satu rantai usaha,” ujarnya.

Untuk itu, Tim 11 merancang skenario pengembangan terpadu yang dimulai dari revitalisasi kebun dan penguatan kelompok tani, dilanjutkan dengan standarisasi proses pascapanen seperti fermentasi, pengeringan, dan sortasi. Biji kakao fermentasi berkualitas tinggi tersebut selanjutnya akan diarahkan pada pengolahan, pengemasan, branding, dan pemasaran produk olahan khas Senggi. Pendekatan ini selaras dengan arah kebijakan Kementerian Pertanian tahun 2026 yang mendorong peremajaan kakao nasional agar komoditas ini tidak berhenti pada perdagangan bahan baku mentah, melainkan berkembang menjadi biji fermentasi, cocoa liquor, cocoa butter, hingga produk cokelat jadi yang bernilai tambah tinggi di tingkat lokal.

Dalam menjaga keberlanjutan program, tim menjalin kolaborasi erat dengan pemerintah daerah, pemerintah kampung, Ondoafi, BPP/Penyuluh Pertanian, BUMDes, hingga pengepul lokal. Tahap selanjutnya akan difokuskan pada finalisasi data peta petani, perumusan SOP budidaya dan pascapanen, serta penentuan teknologi tepat guna yang presisi. Target akhirnya adalah membangun ekosistem bisnis kakao yang mandiri dan berdaya saing, sehingga manfaat ekonomi terbesarnya dapat dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat Senggi.

Inisiatif dan pendampingan yang dilakukan oleh TEP UNDIP di Kawasan Transmigrasi Senggi ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani lokal; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penumbuhan ekosistem ekonomi produktif berbasis hilirisasi komoditas; SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui penerapan standar pascapanen dan pengelolaan rantai nilai terpadu; dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi multipihak antara akademisi, pemerintah daerah, tokoh adat Ondoafi, dan masyarakat setempat. (Komunikasi Publik/UNDIP)

DiktisaintekBerdampak

UNDIP

/

5

Ulas Sekarang