Wamendiktisaintek Fauzan Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ekosistem Ketahanan Pangan

Kabar

29 April 2026 | 07.45 WIB

Wamendiktisaintek Fauzan Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ekosistem Ketahanan Pangan

Jakarta—Ketahanan pangan menjadi isu strategis yang terus dihadapi Indonesia, terutama pada komoditas kedelai yang masih mengalami ketergantungan pasokan dari luar negeri. Tantangan ini mendorong perlunya pendekatan kolaboratif berbasis riset dan inovasi guna meningkatkan produksi sekaligus kesejahteraan petani.

Per April 2026, program budidaya kedelai di Nganjuk telah dikembangkan hingga mencakup ribuan hektare lahan yang didampingi, melibatkan 70 kelompok tani di 18 desa binaan, serta dukungan benih mencapai lebih dari 100 ton.

Berdasarkan data lapangan, produktivitas varietas kedelai Grobogan diproyeksikan mencapai 1,5–2 ton per hektare, dengan estimasi total hasil panen mencapai lebih dari 3.000 ton dari keseluruhan lahan yang telah ditanami. Masa tanam yang relatif singkat, yaitu sekitar 75–80 hari, memungkinkan optimalisasi pola tanam berkelanjutan di wilayah tersebut.

Data tersebut merupakan bentuk konkret solusi isu strategis yang dapat dipecahkan apabila dilakukan kolaborasi antarinstansi. Hal ini dibahas dalam Rapat Implementasi Kerja Sama pengembangan budidaya kedelai di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, yang dihadiri oleh pewakilan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dan FKS Group, Senin (27/4).

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan dalam rapat tersebut menegaskan bahwa pendekatan kolaboratif menjadi kunci dalam memperkuat ekosistem ketahanan pangan nasional.

“Dengan adanya program budidaya kedelai ini, kita bisa membangun kolaborasi antara TNI Angkatan Laut, Kemdiktisaintek, pemerintah daerah, dan industri sebagai offtaker. Ini yang kita sebut sebagai model pentahelix,” ujar Wamen Fauzan.

Wamendiktisaintek menambahkan bahwa keterlibatan perguruan tinggi tidak hanya sebatas akademik, tetapi juga memastikan proses produksi berbasis riset dan teknologi yang presisi.

“Kita punya tanggung jawab moral tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan kesejahteraan petani meningkat,” tegas Wamen Fauzan.

Dalam implementasinya, Kemdiktisaintek berperan sebagai penghubung antara kapasitas riset perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata di lapangan, termasuk dalam pengembangan varietas, pendampingan budidaya, hingga penguatan sistem hilirisasi.

Kolaborasi ini juga diperkuat dengan keterlibatan industri sebagai offtaker untuk menjamin kepastian pasar, serta dukungan alat pertanian seperti bantuan 20 unit traktor guna meningkatkan efisiensi produksi.

Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan nasional dalam memperkuat ketahanan pangan, termasuk arahan Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto yang mendorong keterlibatan lintas sektor dalam pengembangan komoditas strategis. Hal ini juga selaras dengan semangat Asta Cita nomor 4 yang menekankan kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.

Inisiatif ini juga mencerminkan implementasi arah kebijakan Kemdiktisaintek, yakni Diktisaintek Berdampak, di mana perguruan tinggi didorong untuk menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat melalui riset terapan dan kolaborasi multipihak.

Ke depan, Kemdiktisaintek berkomitmen untuk terus memperluas model kolaborasi ini ke berbagai daerah dan komoditas lainnya, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai motor penggerak inovasi yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak

#Kampustransformatif


/

5

Ulas Sekarang