Surabaya-Relevansi lulusan yang siap diterima dunia kerja menjadi fokus utama perguruan tinggi. Untuk melahirkan lulusan yang adaptif dan berdaya saing global, perguruan tinggi dituntut terus melakukan inovasi pembelajaran dan digitalisasi. Isu ini mengemuka dalam Sesi Plenari II Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025 yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) di Graha Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kamis (20/11).
Guru Besar Universitas Terbuka, Paulina Pannen mengungkapkan adanya berbagai tantangan yang berpotensi menimbulkan kesenjangan antara kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dengan lulusan perguruan tinggi.
“Kita perlu membuang apa yang tidak perlu atau belum benar, untuk memunculkan tunas-tunas baru sehingga kita memperoleh jalan yang baru. Jalan baru ini dipengaruhi berbagai macam faktor, termasuk disrupsi perguruan tinggi, skill gap, dan perbedaan persepsi,” ujarnya.
Menurut Paulina, digitalisasi pendidikan dapat mendorong pemerataan mutu sekaligus meningkatkan relevansi lulusan yang siap kerja, adaptif, dan kompetitif secara global.
Ia mencontohkan inovasi pembelajaran yang berkembang pesat di Indonesia, salah satunya Massive Open Online Courses (MOOCs) yang semakin populer sejak masa pandemi Covid-19.
“MOOCs adalah mata kuliah yang berdiri sendiri dari kurikulum prodi masing-masing, dan itu membuat shifting the mind. Dulu sistemnya paket, sekarang mahasiswa boleh mengambil mata kuliah di luar dan itu nanti ditambahkan ke dalam paket tersebut,” jelasnya.
MOOCs, lanjutnya membutuhkan ekosistem pembelajaran yang kuat dan menjadi pintu masuk menuju hybrid/blended learning serta kredensial mikro. Kemdiktisaintek juga telah menyiapkan sejumlah kebijakan pendukung, seperti Permen Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan kebijakan multientrymultiexit.
Senada dengan itu, Direktur Pengembangan Kurikulum, Pembelajaran Digital, Kecerdasan Buatan, dan Metamesta UPI, Ahmad Yani menekankan bahwa perguruan tinggi harus mengkaji perbedaan kebutuhan mahasiswa.
“Misal ada mahasiswa yang lebih membutuhkan pembelajaran di kampus, dan ada yang lebih mudah mengakses dengan metode online,” katanya.
Riset Berdampak Perguruan Tinggi
Selain menghasilkan lulusan yang relevan, perguruan tinggi juga diharapkan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Rektor Universitas Trisakti, Kadarsah Suryadi menyebutkan banyak persoalan industri yang justru berhasil diselesaikan oleh peneliti di laboratorium kampus.
Kadarsah menegaskan bahwa saat ini perguruan tinggi memasuki era entrepreneurial university, di mana perguruan tinggi tidak hanya dituntut unggul dalam pembelajaran, tetapi juga dalam riset dan inovasi. Ukuran keberhasilan perguruan tinggi dapat dilihat dari tiga tahap perkembangan universitas, yaitu teaching university, research university, dan entrepreneurial university.
Pertama, pada tahap teaching university, keberhasilan diukur melalui jumlah mahasiswa yang diterima, tingkat penyerapan lulusan di dunia kerja, serta pendapatan lulusan setelah bekerja. Fokus utamanya adalah kualitas proses pembelajaran serta kemampuan lulusan beradaptasi di dunia profesional. Kedua, pada tahap research university indikator yang dinilai meliputi jumlah publikasi ilmiah, sitasi, serta besaran investasi untuk riset. Ketiga, tahap entrepreneurial university menilai sejauh mana perguruan tinggi mampu menciptakan dampak nyata bagi masyarakat. Tolok ukur utamanya mencakup jumlah wirausaha yang lahir dari kampus, penciptaan lapangan kerja baru, kontribusi terhadap pembangunan ekonomi, serta kemampuan mengomersialisasikan hasil penelitian.
“Ketika bicara excellent in research, maka dampaknya bukan hanya pada jurnal yang diakui dunia, tapi riset kita harus ditunggu masyarakat untuk menyelesaikan persoalan mereka dan industri,” tegas Kadarsah.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif
#KPPTI2025






