Di tengah semangat perubahan di dunia pendidikan tinggi, kisah Yoel Roilen Bignover Siahaan mencerminkan makna sejati dari “Diktisaintek Berdampak” bahwa ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan pengabdian dapat berjalan beriringan untuk membawa perubahan nyata di masyarakat.
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas HKBP Nommensen Medan ini bukan hanya dikenal karena kiprah sosialnya, tetapi juga karena keteguhan akademiknya. Dengan IPK 3,80, Yoel menegaskan bahwa kepemimpinan harus tumbuh di atas pondasi pengetahuan dan integritas.
“Kepemimpinan, bagi saya bukan sekadar posisi, melainkan kemampuan untuk membawa perubahan nyata di tengah komunitas. Seorang pemimpin tidak hanya mengarahkan, tetapi juga menginspirasi, melayani, dan menciptakan solusi bagi kebutuhan bersama,” tulisnya dalam esai kepemimpinan untuk Future Leaders Camp (FLC) 2025.
Yoel juga dikenal sebagai sosok yang reflektif dan gemar menulis. Melalui tulisannya, ia mengekspresikan pandangan kritis tentang keadilan, pelayanan, dan peran pemuda dalam membangun bangsa. Menulis menjadi caranya untuk berpikir jernih dan menyalurkan semangat perubahan secara konstruktif.
Akademik Kuat, Kepemimpinan Berakar
Sejak awal kuliah, Yoel memandang hukum sebagai sarana membangun kemanusiaan. Ia meyakini bahwa prinsip keadilan dan tanggung jawab publik harus diinternalisasi dalam setiap tindakan. Keyakinan itu membuahkan hasil nyata: pada 2025, ia meraih Juara 2 Nasional Kompetisi Debat Lingkungan Keberlanjutan yang diselenggarakan oleh Equiliber.
“Kemenangan saya dalam lomba debat lingkungan tingkat nasional menjadi kebanggaan tersendiri serta keluarga sekaligus membawa nama baik kampus di kancah Nasional. Pencapaian ini memperluas jejaring akademik, menumbuhkan semangat keberlanjutan, dan mengukuhkan peran mahasiswa sebagai pelopor perubahan menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” kata Yoel.
Capaian ini memperlihatkan bagaimana Yoel menghidupkan semangat “Diktisaintek Berdampak”, prestasi akademiknya tak hanya untuk diri sendiri, tetapi menjadi energi bagi perubahan sosial dan lingkungan.
Sebagai Wakil Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Medan Komisariat Universitas HKBP Nommensen, Yoel membuktikan bahwa kepemimpinan sejati tumbuh dari pelayanan. Ia merancang dan mengoordinasikan berbagai kegiatan sosial yang memberi dampak langsung bagi masyarakat mulai dari bimbingan belajar untuk anak panti asuhan hingga penanaman pohon di sekitar rumah ibadah dan permukiman warga.
Yoel berperan aktif dalam merancang dan mengorganisasi lebih dari lima kegiatan sosial berorientasi pelayanan masyarakat, seperti bakti sosial, bimbingan belajar bagi anak-anak panti asuhan, serta gerakan penanaman pohon di lingkungan rumah ibadah, sungai, dan permukiman warga.
Dampaknya terasa nyata: partisipasi anggota organisasi meningkat dan lingkungan masyarakat lebih hijau.
“Dari kegiatan ini, saya belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal mengatur, tetapi juga melayani dengan ketulusan dan menciptakan dampak nyata bagi sesama,” ujar Yoel.
Semangat pelayanan sosial ini sejalan dengan misi “Diktisaintek Berdampak” untuk menjadikan mahasiswa agen perubahan melalui aksi kolaboratif dan empati sosial.
Pemimpin yang Menginspirasi dan Mengedukasi
Yoel juga memimpin Penyuluhan Hukum untuk Pelajar SMA RK Deli Murni Diski, membekali generasi muda dengan kesadaran hukum dan moralitas.
“Saya merancang modul pembelajaran yang edukatif dan relevan dengan kehidupan remaja, mencakup materi tentang hukum dasar, etika sosial, tanggung jawab pelajar, serta bahaya narkoba, perundungan (bullying, red), dan kekerasan seksual,” kata Yoel.
Melalui kegiatan ini, Yoel menanamkan nilai-nilai hukum yang hidup bukan hanya di ruang sidang, tetapi di ruang belajar para pelajar.
“Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kepemimpinan bukan sekadar memimpin di depan, tetapi tentang bagaimana mampu menginspirasi, membimbing, dan memberi teladan bagi orang lain,” tegas Yoel.
Inisiatif semacam ini mencerminkan esensi “Diktisaintek Berdampak” bahwa ilmu yang diterapkan, bukan hanya diajarkan.
Yoel tidak berhenti pada kegiatan sosial. Saat menghadapi keterbatasan dana organisasi, ia menggagas inisiatif kewirausahaan mahasiswa dengan menjual produk khas daerah seperti mie gomak dan kopi Sidikalang untuk mendukung kegiatan sosial dan seminar kampus.
Tujuannya sederhana, yaitu untuk membangun kemandirian ekonomi organisasi tanpa bergantung pada donatur eksternal.
Hasilnya luar biasa pendapatan meningkat lebih dari dua kali lipat, dan seluruh program organisasi terlaksana tanpa hambatan.
“Pengalaman ini menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu ditentukan oleh jabatan, tetapi oleh inisiatif dan keberanian untuk memulai,” kata Yoel.
Inisiatif ini juga menguat setelah Yoel mengikuti sesi materi dari Staf Khusus Menteri, Bidang Industri dan Kerjasama Luar Negeri, Oki Earlivan Sampurno dalam FLC 2025. Ia terinspirasi oleh pesan tentang kepemimpinan yang melayani dan memandirikan organisasi, bukan sekadar mengandalkan bantuan eksternal.
Yoel menyadari, seorang pemimpin yang berdampak harus mampu menumbuhkan kemandirian bersama, mengelola potensi anggota, dan membangun daya tahan organisasi.
Kemandirian dan kreativitas ini adalah nilai yang terus didorong Kemdiktisaintek, bahwa mahasiswa tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga bertindak solutif.
Langkah ke Depan Bersama Future Leaders Camp
Kini, Yoel melangkah lebih jauh melalui Future Leaders Camp (FLC) 2025, program unggulan Kemdiktisaintek yang mempertemukan mahasiswa berpotensi dari seluruh Indonesia untuk belajar, berjejaring, dan berkolaborasi lintas disiplin.
“Semangat inilah yang menjadi dasar motivasi saya untuk mengikuti Future Leaders Camp 2025, sebuah program strategis yang memfasilitasi mahasiswa Indonesia dalam mengasah kepemimpinan, komunikasi, serta wawasan kebangsaan di era transformasi global,” ujar Yoel.
FLC menjadi ruang bagi Yoel untuk memperluas visi kepemimpinannya dari Medan ke panggung nasional.
“Saya ingin menjadi bagian dari generasi pemimpin baru yang tidak hanya memimpin dengan kata, tetapi dengan karya dan keteladanan,” tutur Yoel.
Kegiatan FLC 2025 meninggalkan kesan mendalam bagi Yoel. Ia mengaku bangga bisa menjadi bagian dari pelatihan kepemimpinan nasional yang mempertemukannya dengan mahasiswa terbaik dari berbagai daerah. Dalam suasana penuh semangat itu, Yoel merasakan pengalaman yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memperluas pandangan hidupnya.
“Kesan pertama saya mengikuti kegiatan ini, jujur ada rasa bangga dan terharu. Selama saya aktif di organisasi, belum pernah mendapatkan pelatihan kepemimpinan sebesar dan setingkat ini,” ungkap Yoel.
“Bisa bertemu dan belajar langsung dari peserta dan mentor dari berbagai daerah membuat saya banyak belajar tentang arti kepemimpinan yang sebenarnya. Yang paling menyentuh bagi saya adalah pesan dari Pak Oki yang mengatakan bahwa pemimpin yang baik bukan yang menekan, tapi yang mau menggendong dan membantu anggotanya. Dari situ saya belajar, kaderisasi itu harus membangun, bukan menekan,” ujarnya.
Nilai itu kemudian akan ia bawa pulang dan terapkan di organisasinya terutama dalam menumbuhkan semangat kemandirian dan pelayanan di kalangan mahasiswa.
Kisah Yoel menunjukkan bagaimana program Diktisaintek Berdampak berwujud nyata dalam diri mahasiswa: ilmu yang ditekuni dikembalikan untuk kemaslahatan masyarakat, dan kepemimpinan yang diasah diterjemahkan dalam aksi sosial.
“Saya ingin menjadi bagian dari perubahan yang saya impikan. Saya ingin menjadi pemimpin muda yang tidak hanya berbicara tentang keadilan dan persatuan, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata,” ungkap Yoel.
Sebagai mahasiswa hukum, Yoel memandang profesinya kelak bukan sekadar jalan karier, tetapi panggilan untuk melayani. Ia ingin menjadi “orang hukum” yang berpihak pada rakyat kecil masyarakat pedesaan yang masih terbatas pengetahuannya tentang hak dan keadilan.
“Saya ingin menolong masyarakat yang kurang mampu, terutama di daerah-daerah yang masih minim pemahaman hukum. Saya tidak mau hukum itu runcing ke bawah dan tumpul ke atas,” ujarnya.
Yoel bermimpi menjadi penegak hukum yang humanis, berintegritas, dan berpihak pada masyarakat. Melalui kiprahnya di organisasi, debat, dan pengabdian sosial, ia terus menumbuhkan karakter kepemimpinan yang reflektif dan berkeadilan.
Melalui partisipasi dalam Future Leaders Camp 2025, Yoel berharap dapat memperkaya kapasitas diri dalam berpikir strategis, berkomunikasi efektif, dan membangun jejaring kolaboratif antar pemuda lintas daerah.
Semangat Yoel sejalan dengan arah kebijakan Kemdiktisaintek dalam membentuk mahasiswa berdampak mereka yang bukan hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat dan masa depan Indonesia.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif




