Wamendiktisaintek Tekankan Pentingnya Pola Pikir Kritis dan Kreatif di IKIP Siliwangi: Pemanfaatan AI Harus Tetap Berpusat pada Manusia

Kabar

27 November 2025 | 22.30 WIB

Wamendiktisaintek Tekankan Pentingnya Pola Pikir Kritis dan Kreatif di IKIP Siliwangi: Pemanfaatan AI Harus Tetap Berpusat pada Manusia

Cimahi — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menghadiri Kuliah Umum bertajuk Pengembangan Pola Pikir Kritis dan Kreatif melalui Teknologi AI dalam Proses Pembelajaran yang diselenggarakan di Aula Graha Panca Bhakti, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Siliwangi, Kamis (27/11).

Acara ini turut dihadiri oleh Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Siliwangi, Euis Eti Rohaeti, Ketua Pembina Yayasan Kartika Jaya, Uli Simanjuntak, Kepala Bagian (Kabag) Umum Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Gina Indriani, jajaran pimpinan perguruan tinggi di Kota Cimahi, dosen, mahasiswa, serta Civitas akademika IKIP Siliwangi.

Artificial Intelligence (AI) Harus Digunakan untuk Memperkuat Proses Belajar, Bukan Menggantikan Peran Manusia

Dalam paparannya, Wamendiktisaintek Stella Christie menekankan bahwa pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) di pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada tren teknologi, tetapi harus berorientasi pada cara kerja kognitif manusia serta kualitas proses pembelajaran.

“Kita harus memahami bahwa tidak semua teknologi, termasuk AI, otomatis meningkatkan kualitas belajar. Manusia belajar melalui proses aktif, interaksi sosial, dan tantangan kognitif yang tepat. Pendidikan adalah proses, bukan hanya konten, dan itu tidak bisa digantikan AI,” ujar Wamen Stella.

Wamendiktisaintek menegaskan bahwa pemanfaatan AI idealnya digunakan pada aspek-aspek pembelajaran yang membutuhkan skala besar, misalnya pemberian umpan balik (feedback) harian untuk tugas menulis atau latihan akademik dalam jumlah besar. Namun, tidak semua aspek belajar dapat digantikan oleh teknologi.

“Ada kondisi dimana AI tidak boleh menggantikan peran pendidik, terutama saat interaksi sosial menjadi kunci pembelajaran. Jika seluruh proses diserahkan kepada AI, kita berisiko menghasilkan generasi yang mahir konten tetapi tidak mampu mengevaluasi, memilah, dan menilai informasi secara kritis, padahal itu kemampuan utama manusia di era AI,” jelas Wamen Stella.

Pentingnya Kolaborasi untuk Menghadapi Era AI

Rektor IKIP Siliwangi, Euis Eti Rohaeti,menyampaikan apresiasinya atas kuliah umum yang membuka wawasan pendidik dan mahasiswa mengenai pentingnya pemanfaatan teknologi yang bijaksana.

“Kami menyambut baik arahan Wamendiktisaintek yang menekankan bahwa guru tetap menjadi inti pendidikan. Teknologi harus memperkuat kapasitas pendidik, bukan menggantikannya. Kuliah umum ini memberikan perspektif baru bagi kami dalam mempersiapkan calon guru menghadapi era AI,” ujar Rektor Euis.

Senada dengan Rektor IKIP, dalam sambutannya, Kepala Bagian (Kabag) Umum LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Gina Indriani menegaskan bahwa tema ini sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan dan dunia kerja saat ini yang berada pada fase percepatan transformasi digital. 

Ia mengingatkan bahwa pemanfaatan AI yang masif juga membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan.

“AI bukan tujuan akhir, tetapi alat untuk memperkuat kemampuan manusia. AI tidak akan menggantikan peran manusia yang berpikir kritis, kreatif, dan penuh empati. Guru tidak akan pernah tergantikan, karena AI adalah buatan manusia, sementara otak manusia adalah ciptaan Tuhan yang tidak dapat digantikan,” ujar Gina.

Wamendiktisaintek menutup kuliah umum dengan pesan bahwa era AI justru menuntut manusia untuk mempertajam kemampuan evaluatif, etika, dan nalar kritis. Wamen Stella menekankan bahwa pendidikan harus memberi ruang bagi peserta didik untuk mengalami proses belajar yang sesungguhnya, bukan sekadar memperoleh jawaban instan dari mesin.

Kehadiran Wamendiktisaintek dalam kegiatan ini menegaskan komitmen Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk memastikan transformasi digital berjalan adil, inklusif, dan tetap berpihak pada manusia. Kemdiktisaintek mendorong pemanfaatan AI yang memperkuat proses belajar, meningkatkan kompetensi pendidik, dan memperluas akses ilmu pengetahuan tanpa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan.

Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif



news

cms

/

5

Ulas Sekarang