Wamendiktisaintek Stella Christie Tekankan Peran Pengajar di Era AI

Kabar

05 Oktober 2026 | 12.45 WIB

Wamendiktisaintek Stella Christie Tekankan Peran Pengajar di Era AI

Jakarta-Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menekankan pentingnya peran sekolah dan guru dalam membentuk kemampuan berpikir siswa di tengah meningkatnya penggunaan kecerdasan artifisial (AI) dalam pendidikan. Hal tersebut disampaikan Wamen Stella dalam Konvensi Tahunan ke-9 Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) Indonesia, Kamis (1/10).

Berdasarkan data Consumer Insights 2026 yang dipaparkan Wamen Stella, sebanyak 61% responden di Indonesia menggunakan AI dalam pendidikan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan India dan Amerika Serikat yang masing-masing 22%, serta Belanda sebesar 14%. Menurutnya, kondisi tersebut perlu dilihat dari dampaknya terhadap proses belajar siswa.

“Pertanyaannya adalah, apakah ini baik atau buruk?,” ujar Wamen Stella mengawali pemaparannya.

Wamen Stella kemudian menjelaskan bahwa proses belajar berkaitan dengan bagaimana otak manusia bekerja. Karena itu, para guru diajak untuk memahami proses belajar melalui perspektif ilmu kognitif karena kemampuan membaca, menulis, matematika, dan kemampuan lainnya berkembang melalui latihan. Pemahaman tersebut menjadi penting untuk menyikapi penggunaan AI di sekolah, agar penggunaan teknologi tidak menggantikan proses kognitif peserta didik. 

Wamen Stella memperkenalkan konsep cognitive offloading, yaitu ketika seseorang menyerahkan sebagai proses berpikir kepada alat atau teknologi. Menurutnya, dengan kemudahan teknologi saat ini, perlu dilihat bukan hanya apakah seorang dapat menyelesaikan tugas dengan cepat, tetapi apakah kemampuan yang seharusnya dilatih melalui tugas tersebut tetap berkembang.

Penggunaan AI dalam menyelesaikan persoalan akademik dicontohkan. Wamen Stella memaparkan studi yang menunjukkan penggunaan AI sebagai tutor meningkatkan hasil selama proses latihan sebesar 127%. Namun, ketika diuji kembali tanpa AI, kelompok yang menggunakan AI sebagai tutor tidak menunjukkan perbedaan dibandingkan kelompok yang tidak menggunakan GPT. Ia juga menyampaikan penelitian yang menunjukkan kemampuan diagnosis dokter turun dari 28,4% menjadi 22,4% setelah tiga bulan menggunakan AI secara rutin.

Wamen Stella juga menyinggung penelitian lain yang menunjukkan bahwa penggunaan AI untuk merangkum informasi dapat membuat seseorang memperoleh pemahaman yang lebih rendah dibandingkan ketika melakukan proses belajar secara langsung. Karena itu, ia mengingatkan bahwa apabila AI mengambil alih proses memecahkan masalah, merangkum, dan menyusun informasi, proses belajar manusia dapat ikut berkurang.

“Kalau hanya AI yang memecahkan masalah, meringkas, dan menyusun informasi sendiri, bukti yang saya sampaikan, masih banyak lagi, cuma saya waktunya sedikit, sampai saat ini memperlihatkan bahwa manusianya jadi tidak belajar,” ujar Wamen Stella.

Menurut Wamen Stella, hal tersebut bukan berarti AI harus dijauhkan dari proses pendidikan. Bagian terpenting adalah memastikan AI digunakan agar peserta didik tetap terlibat dalam proses berpikir dan belajar. AI dapat menjadi bagian dari pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir. Misalnya, peserta didik dapat menggunakan AI untuk membuat gambar, tetapi tetap perlu membandingkan hasil, menentukan pilihan, menjelaskan alasannya, serta memikirkan dan menyusun prompt yang digunakan. Dengan demikian, penggunaan AI tetap mendorong peserta didik untuk berpikir dan memproses informasi secara mandiri.

Di sisi lain, Wamen Stella menyoroti perubahan dunia kerja seiring kemampuan AI melakukan sejumlah pekerjaan tingkat awal dengan biaya lebih rendah. Karena itu, peserta didik perlu dibekali kemampuan analisis dan berpikir kritis. Pendidikan juga perlu menyiapkan manusia yang mampu mengembangkan AI secara berkelanjutan melalui pemanfaatan energi dan teknologi yang lebih efisien, termasuk dengan memanfaatkan potensi energi hijau Indonesia.

Dalam konteks tersebut, Wamen Stella menegaskan pentingnya peran guru untuk membantu peserta didik memahami konsekuensi penggunaan AI, termasuk memahami kapan AI digunakan dan bagaimana penggunaannya memengaruhi proses belaja

Wamen Stella mendorong guru merancang tugas yang tetap melibatkan proses berpikir peserta didik. Melalui Konvensi Tahunan ke-9 SPK Indonesia, Wamen Stella mengajak para pendidik tetap menempatkan kemampuan membaca, menulis, berpikir, dan menganalisis sebagai bagian penting dalam pendidikan. AI dapat dimanfaatkan sebagai alat pendukung selama peserta didik tetap berpikir, membandingkan informasi, mengajukan pertanyaan, dan mengevaluasi hasil.

Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Ulas Sekarang