Wamendiktisaintek Apresiasi Hilirisasi Riset dan Inovasi Berdampak Universitas Syiah Kuala

Kampus Kita

09 May 2026 | 00.00 WIB

Wamendiktisaintek Apresiasi Hilirisasi Riset dan Inovasi Berdampak Universitas Syiah Kuala

Universitas Syiah Kuala kembali mendapat apresiasi dari pemerintah pusat atas capaian riset dan hilirisasi inovasi yang dinilai memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Apresiasi tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Stella Christie saat mengunjungi Atsiri Research Center (ARC) dan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK di Banda Aceh, Jumat (8/5/2026).

Dalam kunjungannya, Stella menilai berbagai inovasi yang dikembangkan USK menunjukkan bahwa riset perguruan tinggi dapat menghasilkan produk bernilai ekonomi sekaligus bermanfaat bagi masyarakat.

“Semua produk hebat di dunia adalah produk yang lahir dari riset dan terus diperbaiki melalui riset. Inilah contoh hilirisasi yang benar,” ujarnya.

Ia mengapresiasi berbagai produk hasil pengembangan ARC USK yang telah memasuki tahap komersialisasi, khususnya produk berbasis nilam Aceh (patchouli). Menurut Stella, Indonesia memiliki potensi besar sebagai pemasok utama nilam dunia, namun selama ini sebagian besar masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah ekonominya belum optimal.

Karena itu, ia menilai hilirisasi dan penguatan inovasi menjadi langkah penting agar produk Indonesia mampu bersaing di pasar global.

“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kolaborasi antara kementerian, universitas, masyarakat, dan petani agar riset terus berkembang dan produk kita mampu bersaing di pasaran,” katanya.

Sementara itu, Kepala ARC USK, Syaifullah Muhammad menjelaskan bahwa ARC sejak 2014 aktif mendampingi petani nilam di Aceh untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual produk.

Ia mengungkapkan, sebelumnya minyak nilam dari petani hanya dijual sebagai bahan mentah ke pasar luar negeri seperti Prancis dan Amerika Serikat dengan harga sekitar Rp900 ribu per kilogram. Namun melalui proses riset dan hilirisasi, nilai produk tersebut kini dapat meningkat hingga sekitar Rp6 juta.

“Dulu hanya empat kabupaten yang mengembangkan nilam, sekarang sudah berkembang menjadi 18 kabupaten. Ini menunjukkan dampak nyata dari riset dan pendampingan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Selain pengembangan parfum dan produk turunan nilam, ARC USK juga mengembangkan berbagai inovasi berbasis minyak atsiri, termasuk produk pembersih dengan kemampuan antimikroba yang tinggi melalui dukungan pendanaan hilirisasi dari kementerian.

Dalam kesempatan tersebut, Stella juga mengunjungi Tsunami and Disaster Mitigation Research Center dan mengapresiasi kontribusi lembaga tersebut dalam pengembangan inovasi kebencanaan berbasis riset.

Menurutnya, penanganan bencana akan lebih efektif apabila didukung riset yang kuat dan melibatkan perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan.

“Dana riset harus mengalir ke universitas karena kampus memiliki kekuatan dosen, peneliti, dan tenaga ahli yang memahami persoalan secara sistematis. USK sangat tepat karena memiliki kekuatan akademik yang lengkap,” ujarnya.

Ia juga menyoroti sejumlah inovasi TDMRC yang dinilai memberi manfaat langsung bagi masyarakat, seperti teknologi penyediaan air bersih hingga pengembangan pangan darurat berupa nasi siap makan yang tahan lama dan mampu memenuhi kebutuhan energi korban bencana.

Selain itu, Stella turut menyinggung pentingnya program mahasiswa berdampak sebagai bagian dari penguatan kontribusi perguruan tinggi dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat.

Kunjungan tersebut turut dihadiri sejumlah pimpinan USK, di antaranya Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK Mustanir, para direktur, sekretaris universitas, pengurus TDMRC, pengurus ARC, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

/

5

Ulas Sekarang