Jakarta—Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie mendorong pengembangan pengetahuan, investasi, dan infrastruktur secara tepat guna sebagai strategi untuk mengejar kesenjangan yang dialami Indonesia dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Hal ini disampaikannya saat menyampaikan keynote speech di Innovation, Data, and Economy (IDE) Katadata Future Forum 2026, Rabu (15/4).
Pada forum bertajuk “The Human Brain in the Age of Artificial Intelligence”, Wamen Stella memaparkan bahwa saat ini, penguasaan AI masih didominasi oleh negara-negara maju, baik dari sisi pengetahuan, investasi, maupun infrastruktur. Pemahaman terkait penyebab terjadinya kesenjangan ini dinilai penting untuk dapat mengejar ketertinggalan negara di bidang pengembangan teknologi AI.
“Saat kita mengalami kesenjangan, kita harus lihat kenyataan berdasarkan data. Asah kemampuan yang tepat dan terspesialisasi, investasi kepada hal-hal yang mendukung jawaban dari apa yang dibutuhkan Indonesia, dan bangun infrastruktur di negara sendiri setelah memiliki sumber daya yang dibutuhkan,” jelas Wamen Stella.
Lebih lanjut, Wamen Stella menjelaskan bahwa kesenjangan pertama terletak pada aspek pengetahuan, di mana produksi paten dan publikasi ilmiah di bidang AI masih dikuasai oleh negara seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, dan India. Oleh karena itu, Indonesia perlu menentukan bidang spesialisasi yang menjadi kekuatan nasional, seperti riset rumput laut di mana Indonesia merupakan penghasil rumput laut terbesar di dunia. Wamen Stella menekankan bahwa spesialisasi seperti inilah yang perlu digencarkan pembangunannya.
Terkait investasi, Wamen Stella menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan sektor swasta melalui pendekatan konsorsium dan kemitraan riset. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah mendorong transformasi kebijakan pembiayaan riset yang tidak lagi hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga melibatkan sektor industri dalam menjawab kebutuhan nyata pembangunan nasional.
Pada aspek infrastruktur, Wamen Stella menyoroti pentingnya kemandirian dalam pengelolaan data sebagai salah satu aset utama Indonesia. Wamen Stella menilai AI hanya terdiri dari data, algoritma, dan kekuatan processing. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dari sisi ketersediaan data, yang dapat menjadi modal strategis untuk pengembangan AI apabila masyarakat memiliki kesadaran untuk mengelola data dengan baik dan aman di dalam negeri.
Wamen Stella juga mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur seperti pusat data (data center) harus mempertimbangkan kesiapan energi yang stabil, terjangkau, dan berkelanjutan, serta dirancang agar tidak membebani kebutuhan energi masyarakat.
Sebagai penutup, Wamendiktisaintek kembali menegaskan bahwa strategi pemanfaatan AI di Indonesia harus berbasis pada kebutuhan nasional.
“AI harus kita gunakan untuk pembangunan Indonesia, bukan sebaliknya. Dengan strategi yang tepat pada pendidikan, investasi, dan infrastruktur, kita dapat memperkecil kesenjangan dan meningkatkan daya saing bangsa,” pungkas Wamen Stella.
Kemdiktisaintek terus berkomitmen untuk mendukung kebijakan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang adaptif dan sinergis dengan perkembangan teknologi. Harapannya, perkembangan teknologi tersebut, termasuk AI, dapat dimanfaatkan secara tepat sasaran dan dapat menjawab kebutuhan strategis Indonesia.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





