Surabaya–Perguruan tinggi memegang peran strategis sebagai katalis perubahan sosial, ekonomi, dan peradaban. Di sisi lain, Indonesia tengah menargetkan diri menjadi negara maju menuju 2045. Maka, perguruan tinggi saat ini tidak cukup berfungsi sebagai penyedia layanan pendidikan.
Per Maret 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur menggunakan Gini Ratio adalah sebesar 0,375, sementara di wilayah Jawa Timur adalah sebesar 0,383. Dengan angka 0 merupakan pemerataan sempurna, angka tersebut menunjukkan bahwa ketimpangan masih nyata. Dalam bidang pendidikan tinggi, Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi (PT) pada 2024 berada pada angka 32%, di bawah rata-rata global.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menegaskan bahwa perguruan tinggi kini harus menjadi motor utama transformasi peradaban Indonesia. Hal ini disampaikan saat menyampaikan keynote speech dalam Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025 di Graha Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kamis (20/11).
“Pengangguran masih banyak, angka partisipasi kasar perguruan tinggi kita rendah, bahkan kompetensi lulusan masih belum sesuai kebutuhan industri. Tidak bisa tidak, kini transformasi adalah sebuah keharusan,” ujar Wamen Fauzan.
Melalui forum KPPTI, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengonsolidasikan pimpinan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia untuk menyelaraskan arah kebijakan perguruan tinggi dengan agenda transformasi nasional. Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, dan peluang kolaborasi lintas institusi demi mempercepat perubahan fundamental di dunia pendidikan tinggi.
Wamen Fauzan menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bergerak dari peran lama sebagai sebatas pendukung menuju aktor penggerak perubahan peradaban. Ia mengajak para pemimpin perguruan tinggi untuk mengkapitalisasi potensi institusi masing-masing dan menghadirkan solusi atas persoalan bangsa.
“Pendidikan tinggi transformatif bukan sekadar tema, tetapi tuntutan zaman. Kita dituntut menjadi pemicu transformasi dan agen utama perubahan peradaban,” tegas Wamen Fauzan.
Wamen Fauzan menggarisbawahi bahwa Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto telah memberikan arahan dengan mendorong terobosan konstruktif di sektor pendidikan dan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Ketika Presiden menyatakan pendidikan sebagai kunci kemandirian bangsa, perguruan tinggi harus berada di garis terdepan untuk menjawab tantangan itu. Wamen Fauzan juga mengingatkan bahwa perkembangan industri menuntut kompetensi lulusan yang semakin spesifik, bukan lagi generik.
“Kalau kita ingin melakukan transformasi, kita harus melihat ulang kebijakan birokrasi, kurikulum, dan kompetensi lulusan kita. Ini memerlukan keberanian untuk berubah,” ujar Wamen Fauzan.
Pengelolaan siklus transformasi secara konsisten juga ditekankan oleh Wamen Fauzan. Kehidupan sosial, ekonomi, dan pendidikan memiliki pola yang berulang, dan perguruan tinggi wajib mengendalikannya agar terus bergerak ke arah kemajuan. Ia menambahkan bahwa generasi muda memilih perguruan tinggi bukan karena fasilitas, tetapi karena harapan akan kehidupan yang lebih baik, sebuah pesan yang perlu menjadi fokus setiap institusi.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif
#KPPTI2025






