Wamen Fauzan: Perpustakaan sebagai Pilar Kemajuan Peradaban Bangsa

Kabar

28 November 2025 | 15.00 WIB

Wamen Fauzan: Perpustakaan sebagai Pilar Kemajuan Peradaban Bangsa

Malang–Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menegaskan bahwa perpustakaan memiliki peran strategis sebagai pilar peradaban, bukan sekadar unit teknis administratif di perguruan tinggi. Hal tersebut disampaikan dalam Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Jawa Timur yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (28/11).


Demografis dan Tantangan Literasi


Berdasarkan Proyeksi Penduduk Indonesia 2020-2050 dari Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) diproyeksikan menurun dari 69,28% pada 2020 menjadi 65,79% pada 2045, sementara jumlah penduduk lanjut usia meningkat dua kali lipat dari 6,16% menjadi 14,61%. Tren ini menunjukkan urgensi penguatan budaya literasi, transformasi perpustakaan, serta peningkatan kompetensi digital di pendidikan tinggi.


Sementara itu, Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara dengan mahasiswa pengguna kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) tertinggi sebesar 95% menurut laporan Chegg, GoodStats 2024. Selain itu, berdasarkan laporan McKinsey 2024 dan Indonesia AI Report 2025, lebih dari 70% perusahaan global telah mengadopsi teknologi AI dalam kegiatan operasional, dan 90% masyarakat Indonesia mengaku merasakan peran nyata AI dalam keseharian.


Forum ini menjadi momentum strategis untuk mendorong transformasi layanan perpustakaan kampus, peningkatan kompetensi pustakawan, serta penguatan kolaborasi antarperguruan tinggi dalam menghadapi era AI.


Transformasi Perpustakaan Perguruan Tinggi


Dalam forum tersebut, Wamen Fauzan menegaskan bahwa perpustakaan perguruan tinggi harus bertransformasi dari penyimpanan koleksi menjadi pusat intelektual dan penggerak peradaban kampus.


“Kampus adalah ekosistem dengan komitmen akademik tinggi. Di sinilah perpustakaan harus hadir sebagai motor penggerak peradaban,” tegasnya.


Wamendiktisaintek menekankan bahwa perpustakaan harus inklusif, inovatif, dan tidak terisolasi dari komunitas akademik. Dengan kemajuan teknologi, perpustakaan memiliki peluang lebih besar untuk memperluas perannya dan melahirkan generasi ilmuwan baru.


Selain itu, data Perpustakaan Nasional RI per 21 September 2025 menunjukkan bahwa dari total 219.415 perpustakaan di Indonesia, hanya 1,5% atau 3.335 unit yang berstatus perpustakaan perguruan tinggi. Angka ini mencerminkan pentingnya penguatan tata kelola, digitalisasi layanan, dan peningkatan kompetensi pustakawan agar perpustakaan kampus mampu menjadi pusat inovasi dan riset.


Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi turut menguatkan pesan tersebut. Ia menekankan bahwa perpustakaan memiliki peran strategis sebagai “penjaga peradaban”, terlebih di era dominasi konten singkat di media sosial yang menggeser minat baca generasi muda.


Salis menegaskan bahwa perpustakaan kini harus “keluar dari ruangnya” untuk lebih aktif menjangkau generasi muda dan menumbuhkan kembali budaya literasi.


“Jika dulu perpustakaan adalah pusat lahirnya peradaban, maka sekarang perpustakaan harus menjadi penjaga peradaban itu sendiri,” tuturnya.


Menutup sambutannya, Wamen Fauzan mengajak pimpinan perguruan tinggi, pustakawan, organisasi profesi, dan ekosistem pendidikan tinggi untuk membangkitkan kembali semangat literasi dan kreativitas dalam pengelolaan perpustakaan di seluruh perguruan tinggi Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mempersiapkan Sumber Daya Unggul (SDM) unggul menuju Indonesia Emas 2045.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak

#Kampustransformatif




news

cms

/

5

Ulas Sekarang