Semarang–Indonesia tengah bersiap menyongsong era Indonesia Emas 2045, di mana generasi muda menjadi penentu arah kemajuan bangsa. Perguruan tinggi pun dituntut melahirkan lulusan yang unggul secara akademis, berkarakter, inovatif, dan mampu menjawab tantangan abad 21.
Perjalanan tersebut tidak lepas dari tantangan besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, tingkat pengangguran nasional mencapai 7,28 juta orang, di mana 1,01 juta di antaranya adalah sarjana. Sementara itu, di Jawa Tengah, tingkat pengangguran mencapai 4,33% dan Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi berada di 26,37%, di bawah rata-rata nasional (32%). Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya bersama untuk memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus memastikan lulusan memiliki daya saing.
Sebagai solusi, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menegaskan pentingnya bagi mahasiswa untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai tulang punggung kemajuan bangsa. Hal ini dinyatakan saat Wamen Fauzan mengisi kuliah umum pada rangkaian acara Masa Ta’aruf (Masta) Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2025/2026 di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Sabtu (12/9).
“Mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial untuk menjadi contoh di mana saja kalian berada. Untuk mencapai hal itu, tidak sekadar belajar di ruang kelas, tetapi juga belajar dari lingkungan. Inilah yang dapat mengantarkan mahasiswa menuju pengembangan diri menjadi lebih baik,” jelas Wamen Fauzan.
Arah kebijakan pemerintah melalui Asta Cita Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto menempatkan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai salah satu prioritas utama menuju Indonesia Emas 2045. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto juga kerap kali menekankan pentingnya membangun ekosistem pendidikan tinggi yang berdampak melalui riset, inovasi, dan pembelajaran transformatif. Hal ini digambarkan melalui program Diktisaintek Berdampak.
Indonesia tengah menuju bonus demografi yang signifikan, di mana jumlah usia produktif lebih besar daripada usia nonproduktif. Salah satu demografi yang berada di dalam ekosistem usia produktif adalah mahasiswa. Berkaca pada hal itu, Wamen Fauzan menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam menyediakan fasilitas yang inklusif dan relevan dengan kebutuhan generasi muda.
“Perguruan tinggi bertanggung jawab memfasilitasi kebutuhan mahasiswa secara adaptif dan relevan, supaya mahasiswa dapat belajar dari mana saja. Di sinilah peran penting perguruan tinggi: agar mahasiswa menjadi manusia luar biasa,” pungkas Wamen Fauzan.
Kemdiktisaintek berkomitmen mendampingi dan memfasilitasi mahasiswa sebagai agen perubahan melalui kebijakan yang inklusif, pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman, serta dukungan pada riset dan inovasi. Generasi muda diharapkan bergerak bersama, memperkuat karakter, meningkatkan kapasitas diri, dan berkolaborasi aktif dalam membangun Indonesia yang berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak #DiktisaintekSigapMelayani #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif






