UNSRI Teguhkan Ilmu sebagai Jalan Pengabdian

Kampus Kita

03 September 2026 | 17.15 WIB

UNSRI Teguhkan Ilmu sebagai Jalan Pengabdian

PALEMBANG — Universitas Sriwijaya (UNSRI) meneguhkan filosofi “Ilmu Alat Pengabdian” sebagai landasan tata nilai dan budaya kerja dalam penyelenggaraan pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Upaya tersebut dibahas dalam Seminar dan Lokakarya yang digelar Senat Akademik Universitas Sriwijaya (SAU) di Palembang, Kamis (3/9/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari tindak lanjut transformasi UNSRI sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2024. Status tersebut memberikan otonomi yang lebih luas, sekaligus menuntut UNSRI membangun tata kelola yang berintegritas, profesional, adaptif, dan berorientasi pada kebermanfaatan.

Ketua Senat Akademik UNSRI, Prof. Dr. dr. M. Zulkarnain, M.Med.Sc., PKK., Sp.DLP., menegaskan bahwa filosofi “Ilmu Alat Pengabdian” tidak boleh berhenti sebagai semboyan yang tercantum pada lambang maupun dinyanyikan dalam Himne dan Mars UNSRI. Filosofi tersebut harus tertanam dan diwujudkan dalam keseharian sivitas akademika

“Ilmu tidak untuk ditumpuk, tetapi untuk dihidupkan. Tidak untuk meninggikan diri, tetapi untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.”

Menurutnya, semiloka diarahkan untuk merumuskan bagaimana filosofi tersebut dapat menjadi tata nilai sekaligus budaya kerja yang nyata. Salah satu tujuan akhirnya adalah membentuk lulusan yang memiliki jiwa pengabdian kepada Tuhan, keluarga, serta masyarakat.

Senada, Rektor UNSRI Prof. Dr. Taufiq Marwa, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa filosofi tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan mendasar mengenai untuk apa UNSRI hadir dan kepada siapa ilmu serta kewenangan yang dimiliki dikembalikan.

“Filosofi ini menegaskan bahwa ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan. Ilmu harus menjadi cahaya, menjadi solusi, dan menjadi sarana untuk menghadirkan manfaat,” tegasnya.

Prof. Taufiq menjelaskan, filosofi itu perlu diterjemahkan melalui tahapan yang konkret: dari gagasan menjadi nilai, dari nilai menjadi budaya, dari budaya menjadi sistem, dan dari sistem menjadi dampak nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, status PTNBH yang diraih UNSRI sejak Agustus 2024 bukan sekadar perubahan struktur atau mekanisme pengelolaan perguruan tinggi. Otonomi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab untuk meningkatkan mutu pendidikan, menghasilkan riset yang relevan, memperluas pemanfaatan inovasi, memperbaiki layanan, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

“Universitas Sriwijaya menjadi besar karena semakin besar manfaat yang mampu diberikannya. Itulah esensi ilmu alat pengabdian,” ujarnya.

Filosofi tersebut juga diarahkan menjadi cara pandang bersama melalui konsep “Rumah Kita”. UNSRI diharapkan menjadi institusi yang dijaga dan dirawat bersama, dengan setiap unsur memiliki peran dalam membangun ekosistem akademik yang sehat dan inklusif.

Dosen didorong menghadirkan ilmu yang relevan, mutakhir, kritis, dan beretika. Tenaga kependidikan memberikan layanan yang cepat, akurat, ramah, dan tuntas. Mahasiswa menjadi pembelajar, inovator, dan agen perubahan, sementara alumni menjadi wajah UNSRI yang memberikan kontribusi di tengah masyarakat.

“Filosofi Ilmu Alat Pengabdian tidak cukup diwariskan melalui pidato atau dokumen. Ia harus terlihat dari cara pimpinan memimpin, dosen mengajar dan meneliti, tenaga kependidikan melayani, mahasiswa belajar, serta alumni berkontribusi,” ungkap Prof. Taufiq.

Seminar menghadirkan sejumlah cendekiawan dan pakar, di antaranya Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S., Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A., dan Dr. Chusnul Mari’yah, Ph.D. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan lokakarya yang melibatkan pimpinan universitas, Senat Akademik Universitas dan Fakultas, wakil dekan, serta perwakilan dosen senior.

Lokakarya diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi strategis, mulai dari tata nilai kelembagaan, pedoman budaya kerja, kebijakan strategis, hingga rencana aksi implementasi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan di seluruh unit kerja UNSRI.

Ketua Pelaksana Seminar dan Lokakarya, Prof. Dr. M. Ridhah Taqwa, M.Si., berharap kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi untuk menyatukan arah pembangunan UNSRI sebagai PTNBH yang unggul, berkarakter, dan berdampak.

Dengan demikian, “Ilmu Alat Pengabdian” diharapkan tidak berhenti sebagai filosofi, tetapi menjadi identitas yang hadir dalam setiap proses akademik, tata kelola, pelayanan, hingga kontribusi UNSRI bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Diktisaintekberdampak

@unsriberdampak

/

5

Ulas Sekarang