Universitas Sriwijaya (UNSRI) kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dalam pengajaran dan riset, tetapi juga hadir secara nyata dalam menjawab persoalan strategis pembangunan daerah dan nasional . Komitmen tersebut tercermin melalui keterlibatan aktif dosen UNSRI, Prof. Dr. rer. med. H. Hamzah Hasyim, S.K.M., M.K.M. , yang kembali dipercaya sebagai narasumber dalam forum strategis Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Provinsi Sumatera Selatan.
Kegiatan bertajuk “Stunting dan Implementasi Program Makan Bergizi Gratis di Sumatera Selatan: Tinjauan Berbasis Bukti dan Peran Koalisi Kependudukan Indonesia” ini diselenggarakan di Meeting Room Karang Anyar, Hotel Swarna Dwipa, Palembang, Sabtu (24/1/2026)
Kegiatan ini menjadi ruang temu lintas sektor antara akademisi, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, serta praktisi kesehatan masyarakat. Forum ini secara khusus membahas dinamika terkini penanganan stunting di Sumatera Selatan, dengan merujuk pada hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 .
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. rer. med. H. Hamzah Hasyim menyoroti bahwa prevalensi stunting di Sumatera Selatan masih berada di atas target yang direkomendasikan WHO, sehingga memerlukan strategi penanganan yang lebih terarah, terintegrasi, dan berbasis bukti ilmiah.
“Stunting tidak semata-mata persoalan kesehatan anak, melainkan isu pembangunan jangka panjang yang berpotensi menurunkan produktivitas tenaga kerja, memperlebar ketimpangan sosial, serta meningkatkan beban fiskal daerah di masa depan,” Paparnya.
Lebih lanjut, Prof Hamzah menegaskan bahwa intervensi stunting tidak dapat dilakukan secara sektoral . Di konteks Sumatera Selatan, determinan utama stunting berkaitan erat dengan ketahanan pangan rumah tangga, akses terhadap sanitasi yang layak, serta keterjangkauan layanan kesehatan dasar. Oleh karena itu, pendekatan lintas sektor—yang melibatkan sektor kesehatan, pangan, sanitasi, pendidikan, dan perlindungan sosial—menjadi prasyarat utama untuk mencapai dampak yang berkelanjutan.
Diskusi dalam forum ini juga mengarah pada pertanyaan strategis yang krusial bagi pemerintah daerah: intervensi apa yang paling cost-effective dan berdampak nyata dalam menurunkan stunting? Pada titik inilah peran perguruan tinggi menjadi sangat penting. Melalui riset yang kuat, pengabdian kepada masyarakat yang kontekstual, serta kemampuan menerjemahkan bukti ilmiah ke dalam rekomendasi kebijakan, dosen UNSRI hadir sebagai mitra intelektual pemerintah daerah dalam merancang kebijakan publik yang lebih efektif dan tepat sasaran.
Keterlibatan dosen UNSRI dalam kegiatan ini mencerminkan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat dan kontribusi keilmuan berbasis riset. Pengetahuan yang dihasilkan di lingkungan akademik tidak berhenti di ruang kelas atau jurnal ilmiah, tetapi ditransformasikan menjadi masukan strategis bagi pengambilan kebijakan pembangunan daerah.
UNSRI meyakini bahwa kolaborasi antara akademisi dan pemangku kebijakan merupakan kunci dalam menghadirkan solusi pembangunan yang berkelanjutan. Melalui partisipasi aktif dalam forum-forum strategis seperti ini, UNSRI terus memperkuat perannya dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang sehat, unggul, dan berdaya saing. (Humas_UNSRI)






