Tapanuli Selatan–Program Mahasiswa Berdampak Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UM Tapsel) mengembangkan sistem budidaya kolam terpal berbasis ekonomi sirkular di Desa Aek Ngadol Sitinjak, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kamis (5/3).
Inovasi ini dirancang untuk membantu pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana melalui budidaya ikan yang terintegrasi dengan pengolahan produk pangan.
Sistem yang dikembangkan berupa empat kolam bioflok berbasis terpal yang dilengkapi teknologi sirkulasi air dan aerasi dengan dukungan panel surya. Teknologi ini memungkinkan budidaya ikan tetap berjalan meskipun berada di wilayah dengan keterbatasan akses air maupun lahan, sekaligus memanfaatkan sumber energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Ketua Tim Pelaksana Mahasiswa Berdampak UM Tapsel sekaligus dosen Pendidikan Fisika UM Tapsel, Elisa menjelaskan bahwa inovasi ini berangkat dari kondisi masyarakat setempat yang kehilangan sebagian besar mata pencahariannya setelah bencana.
“Sebelumnya beberapa warga memang menggantungkan penghasilan dari budidaya lele. Setelah bencana, kolam dan lahan tertutup lumpur sehingga banyak sumber penghidupan yang hilang. Melalui program ini kami mencoba menghadirkan kembali aktivitas budidaya sekaligus membuka peluang usaha baru melalui pengolahan hasil ikan,” ujar Elisa.
Selain membangun kolam budidaya, tim mahasiswa juga mendorong penguatan ekonomi sirkular dengan mengembangkan produk olahan ikan seperti keripik lele dan nugget lele yang dapat dikelola oleh kelompok masyarakat, khususnya ibu-ibu di desa tersebut.
Mahasiswa UM Tapsel, Siti yang terlibat dalam pengembangan produk menjelaskan bahwa olahan tersebut dibuat dari ikan lele hasil budidaya kolam terpal.
“Untuk keripik lele yang kami beri nama Alale. Ikan direbus terlebih dahulu, dipisahkan bagian kulit dan dagingnya, lalu diolah dengan tepung tapioka dan bumbu sebelum dijemur beberapa hari. Sementara nugget lele, atau Nale, dibuat dengan tambahan tepung terigu dan sayuran. Produk ini sudah kami sosialisasikan kepada masyarakat agar nantinya bisa diproduksi secara mandiri,” jelas Siti.
Sementara itu, anggota dosen pendamping Mahasiswa Berdampak UM Tapsel, Andes menyampaikan bahwa sistem kolam bioflok ini dirancang fleksibel sehingga dapat digunakan untuk berbagai jenis ikan.
“Kolam ini dilengkapi sistem sirkulasi dan aerasi sehingga ikan tetap mendapat oksigen yang cukup. Apabila diperlukan, budidaya tidak hanya terbatas pada lele tetapi juga dapat dialihkan ke jenis ikan lain seperti nila atau ikan mas. Harapannya dalam beberapa bulan ke depan hasil panen lele dapat mulai memberikan kontribusi bagi perekonomian masyarakat,” ungkap Andes.
Warga Desa Aek Ngadol Sitinjak menyambut baik kehadiran program tersebut. Harman Panggabean, Ketua Muda-Mudi desa setempat, menyampaikan bahwa masyarakat sangat membutuhkan upaya untuk memulihkan kembali kegiatan ekonomi yang sempat terhenti akibat bencana.
“Ekonomi kami sempat lumpuh karena sawah dan kebun rusak, bahkan ikan di sini sempat tidak ada lagi. Dengan adanya kolam terpal dan pendampingan dari mahasiswa, kami kembali belajar beternak ikan sekaligus mengolah hasilnya. Mudah-mudahan ini bisa terus kami kembangkan agar pendapatan masyarakat meningkat,” ujarnya.
Melalui program Mahasiswa Berdampak, UM Tapsel berharap inovasi teknologi sederhana yang dikembangkan mahasiswa dapat menjadi solusi nyata bagi masyarakat dalam menghadapi proses pemulihan pascabencana, sekaligus mendorong lahirnya UMKM baru berbasis potensi lokal desa.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Kemdiktisaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





