Tim Medis Kampus Beri Layanan Kesehatan ke Korban Banjir Sumatra Barat

Kabar

13 December 2025 | 07.15 WIB

Tim Medis Kampus Beri Layanan Kesehatan ke Korban Banjir Sumatra Barat

Padang–Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus berkolaborasi bersama perguruan tinggi untuk bergerak cepat merespons bencana yang terjadi Sumatra. Ini merupakan bentuk implementasi arah kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, berbagai perguruan tinggi di wilayah Sumatra dan sekitarnya bergerak cepat menyalurkan bantuan, mengerahkan tenaga kesehatan, serta memperluas akses layanan ke daerah terdampak melalui kinerja kolaboratif yang terencana dan terkoordinasi.

Hadir di Sumatra Barat, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Khairul Munadi melakukan koordinasi intensif dan pemantauan bersama Rektor Universitas Andalas (Unand), tenaga medis setempat, Tim Satuan Tugas (Satgas), di Posko Kesehatan Universitas Andalas, yang saat ini menjadi salah satu klaster pusat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana banjir di Sumatra Barat, Jumat (12/12).

Dalam kunjungan lapangan, Dirjen Dikti menyampaikan apresiasi atas kerja cepat dan koordinasi yang dilakukan dalam memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana, dan menegaskan bahwa kolaborasi lintas kampus menjadi faktor penting dalam memperkuat efektivitas penanganan di lapangan.

“Kolaborasi antarperguruan tinggi ini berjalan sangat baik. Dengan menggabungkan tenaga dan sumber daya, penanganan di lapangan menjadi lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Dirjen Khairul.

Sementara itu, Relawan Kesehatan Unand menjelaskan bahwa posko kesehatan yang dijalankan berfungsi sebagai pusat pelaporan, pengolahan data kesehatan, serta pengendali distribusi tenaga medis. Saat ini sistem pelaporan kesehatan di posko tersebut mengacu pada Medical Data System (MDS) yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO). Setiap tenaga kesehatan yang turun ke lapangan menggunakan kode dan format standar WHO untuk melaporkan temuan kasus di wilayah terdampak.

“Melalui sistem yang sudah disesuaikan dengan standar WHO, setiap posko dapat melaporkan temuan kasus harian secara terstruktur, dan semua data dapat direkap setiap hari untuk mengetahui jenis penyakit yang diderita oleh pasien,” jelas relawan kesehatan Unand, Aldi.

Ia menambahkan saat ini terdapat enam posko pelayanan kesehatan, dengan jumlah pasien yang ditangani mencapai kurang lebih 400 orang per hari. Puskesmas di wilayah terdampak juga mencatat lonjakan pasien, dengan total penanganan per hari mencapai 150 pasien dalam satu hari.

Berdasarkan hasil rekap data sementara, jenis penyakit yang paling banyak ditemui adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), demam tinggi, serta beberapa kasus kejang akibat demam yang diduga berkaitan dengan dehidrasi. Selain itu, tim medis juga menangani sejumlah kasus mulai dari luka, patah tulang, hingga tindakan bedah.

Beberapa wilayah juga masih terisolasi karena akses jalan rusak atau tertutup oleh material longsor sehingga, tenaga kesehatan harus menggunakan sepeda motor atau berjalan kaki untuk menjangkau area tersebut.

Kunjungan ke Puskesmas Koto Alam, Kabupaten Agam

Usai melakukan koordinasi di Posko Unand, kunjungan dilanjutkan ke Puskesmas Koto Alam, Kabupaten Agam, salah satu wilayah yang mengalami dampak signifikan akibat bencana. Kunjungan ini dilakukan bersama relawan kesehatan Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), serta tenaga kesehatan setempat.

Kepala Puskesmas Koto Alam, Yulwita Jurnawis menyampaikan bahwa penanganan bencana tidak mungkin dilakukan tanpa dukungan mahasiswa dan relawan kampus.

“Kehadiran relawan kampus sangat membantu, termasuk untuk layanan malam hari, mobilisasi ke wilayah sulit, dan pendampingan psikososial. Kolaborasi seperti ini sangat kami butuhkan sehingga kami dapat membantu lebih banyak masyarakat,” Ujar Kepala Puskesmas Koto Alam, Yulwita Jurnawis

Koordinasi kesehatan di wilayah bencana juga turut diperkuat oleh kehadiran tim relawan kesehatan dari berbagai kampus, termasuk Unand, Universitas Airlangga (Unair), UB, Universitas Syiah Kuala (USK), UMM, serta relawan kesehatan dari berbagai organisasi mahasiswa.

Selain layanan medis, tim relawan gabungan dan Koordinator relawan kesehatan dari UB dan UMM juga mengambil peran penting dalam penyediaan sanitasi air bersih dan dukungan psikososial bagi warga terdampak.

Tim relawan kesehatan gabungan UB dan UMM, Yusika Windayawara menjelaskan bahwa tim gabungan tidak hanya fokus pada satu jenis bantuan, tetapi juga menjalankan tiga tugas utama: layanan medis, sanitasi air bersih, dan dukungan psikososial yang menjawab berbagai kebutuhan mendesak di lokasi bencana. 

Para relawan juga terlibat dalam melakukan edukasi kebersihan di kondisi darurat, penyiapan fasilitas higienis, distribusi air bersih untuk masyarakat terdampak. 

Sanitasi air bersih sangat penting untuk warga di area sekitar pengungsian karena disana terdapat air yang keruh atau bahkan hingga tidak ada air. Dengan demikian, sistem sanitasi kami pasang di 10 titik untuk memastikan warga tetap mendapatkan air yang bersih,” Ujar Koordinator UB dan UMM, Aurick Yudha.

Kunjungan ke Posko UNP di Kabupaten Agam

Kunjungan kembali dilanjutkan ke Posko Universitas Negeri Padang (UNP) di Kabupaten Agam. Dalam kunjungan tersebut, tim berkoordinasi dengan relawan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) serta relawan kesehatan yang bertugas di posko UNP untuk memastikan keberlanjutan layanan dukungan bagi masyarakat terdampak. Selain layanan medis, dukungan psikososial dari UNP juga menjadi komponen penting dalam pemulihan pasca bencana. 

Perwakilan tim Relawan Kesehatan yang memberikan pendampingan trauma healing atau psikososial, Dedy Kurniadi menjelaskan peranan yang diambil adalah untuk mengurangi trauma yang dirasakan oleh anak-anak, remaja, hingga lansia berkaitan dengan dampak terjadinya bencana alam yang terjadi di wilayah tersebut.

“Kami memberi pendampingan psikososial kepada anak-anak, remaja, hingga lansia, untuk mereduksi trauma pasca bencana. Dalam hal ini, Kampus memfasilitasi penuh sehingga kami bisa menjangkau wilayah-wilayah terdampak,” ujar Dedy.

Mapala UNP, Rama Zikri turut melakukan evakuasi, pendistribusian logistik, peminjaman alat Search and Rescue(SAR) hingga pembukaan dapur umum di beberapa Nagari. Ia juga menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama dalam penanganan bencana adalah terputusnya alur distribusi bantuan ketika hanya berhenti di posko-posko utama.

“Terkadang bantuan tidak tersalurkan secara menyeluruh, bahkan ada yang hanya berhenti di posko. Oleh karena itu, peran kami sebagai mahasiswa dan relawan kampus adalah turun langsung ke lapangan sehingga, penyaluran bantuan dapat dilakukan secara terukur dan sesuai dengan kebutuhan warga,” ujar Rama.

Kemdiktisaintek terus memantau perkembangan situasi di Sumatra serta memastikan perguruan tinggi tetap berperan aktif dalam mendukung upaya penanganan hingga tahap pemulihan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan relawan kesehatan dari mahasiswa merupakan kekuatan strategis dalam mempercepat pemulihan masyarakat. Melalui kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, kementerian berkomitmen untuk menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat dan memastikan pendidikan tinggi mampu menjadi pilar kemanusiaan dalam setiap situasi darurat.

Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif




/

5

Ulas Sekarang

Baca Juga