MEDAN — Seratus hari. Itulah waktu yang harus ditunggu Dr. Najla Lubis, S.T., M.Si. hanya untuk mengetahui apakah satu proses fermentasi dalam penelitiannya berhasil atau gagal. Jika gagal, seluruh tahapan harus diulang dari awal.
Ketekunan seperti itulah yang mengantarkan dosen Universitas Pembangunan Panca Budi (UNPAB) tersebut memperoleh pendanaan penelitian dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026, melalui SKEMA HIBAH — Penelitian Fundamental untuk penelitian berjudul "Identifikasi dan karakterisasi Enzim dari Ekoenzim berbasis berbagai jenis limbah pertanian sebagai dasar pengembangan Nilai Tambah Limbah organik".
Terkait dukungan
pendanaan, Dr. Najla menyampaikan bahwa penelitian tersebut memperoleh
pendanaan melalui skema penelitian fundamental. Namun, untuk besaran dana yang
diterima, beliau tidak menyampaikan secara rinci.
Masa pelaksanaan Penelitian ini sejak 2019, ketika ia
mengikuti sosialisasi mengenai ekoenzim untuk pertama kalinya. Namun,
ketertarikan tersebut baru diarahkan secara lebih serius ke dalam penelitian
sejak 2022, dan Penelitian tersebut dikerjakan bersama tim yang terdiri dari
lima orang. Dr. Najla menjelaskan bahwa tim penelitian melibatkan tiga dosen
dari UNPAB, satu dosen dari luar UNPAB, serta satu anggota dari kalangan umum.
“Jumlah ketua dan anggota ada lima orang. Tiga dosen dari UNPAB, satu dosen dari luar UNPAB, dan satu dari umum,” ujar Dr. Najla.
Bermula dari Satu Sosialisasi pada 2019
Ketertarikan Dr. Najla terhadap ekoenzim tumbuh pada 2019, saat ia untuk pertama kalinya mengikuti sosialisasi mengenai topik tersebut. Saat itu ekoenzim masih ia pahami sebagai praktik pengolahan limbah rumah tangga sederhana, belum sebagai objek kajian ilmiah.
Ketertarikan itu baru diarahkan secara serius ke ranah penelitian sejak 2022. Dari sana ia mulai menyusun gagasan mengenai karakterisasi enzim yang terkandung di dalam ekoenzim berbahan limbah pertanian.
Jalan menuju pendanaan tidak berlangsung sekali jadi. Proposalnya baru memperoleh pendanaan pada pengajuan yang ketiga. Dua penolakan sebelumnya, menurutnya, justru menjadi bahan untuk memperkuat gagasan.
"Pesan saya untuk dosen-dosen lain, dan untuk saya sendiri sebagai dosen, agar terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan penelitian serta tidak putus asa untuk membuat proposal," ujar Dr. Najla.
Sepuluh Bahan, dan Enzim yang Ingin Dipetakan
Penelitian ini memanfaatkan sepuluh jenis limbah dan hasil pertanian, [yang terdiri atas tujuh jenis kulit buah dan tiga jenis sayuran. Untuk menjaga fokus penelitian sekaligus mempertahankan informasi teknis yang masih menjadi bagian dari penelitian, bahan yang digunakan di antaranya berupa buah jeruk, nanas, pepaya, apel, mangga, dan jenis bahan pertanian lainnya.
Bahan-bahan tersebut kemudian difermentasi menjadi ekoenzim untuk selanjutnya dikaji kandungan enzimnya. Karakterisasi difokuskan pada empat jenis enzim, yaitu amilase, protease, lipase, dan pektinase. Dr. Najla menjelaskan bahwa proses tersebut dilakukan untuk melihat profil enzimatik dari masing-masing jenis limbah yang digunakan dalam penelitian.
“Targetnya adalah mendapatkan peta profil enzimatik dari 10 jenis limbah tersebut. Jadi setiap jenis limbah akan dilihat dan dikaji dari sisi enzimnya. Ada empat jenis enzim yang akan ditentukan, yaitu amilase, protease, lipase, dan pektinase,” jelas Dr. Najla.
Pendekatan ilmiah terhadap ekoenzim membuka peluang memahami potensi yang selama ini belum terpetakan dari bahan yang justru mudah ditemukan di sekitar masyarakat.
Tantangan Terbesar: Menunggu
Hambatan paling berat dalam penelitian ini bukan pada peralatan atau pembiayaan, melainkan pada waktu.
"Hambatan yang paling berat memang pada waktu fermentasinya yang cukup lama. Untuk mengetahui proses fermentasinya berhasil atau tidak, kami harus menunggu sekitar 100 hari," jelas Dr. Najla.
Rentang tersebut menuntut ketelitian sejak tahap awal, karena kesalahan kecil pada komposisi atau kondisi penyimpanan baru akan diketahui lebih dari tiga bulan kemudian.
Yang Sudah Ada, dan Yang Sedang Dikerjakan
Sebelum memperoleh pendanaan Kemdiktisaintek, Dr. Najla telah lebih dulu menghasilkan produk ekoenzim melalui riset mandiri yang ia kembangkan sejak 2022. Produk itulah yang kini sudah dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Sekarang masih dalam proses fermentasi ekoenzim. Fermentasinya sekitar 100 hari dan rencananya akan dipanen pada 30 Agustus 2026. Setelah itu baru dilanjutkan ke tahapan berikutnya. Untuk luaran, targetnya ada satu jurnal internasional bereputasi dan satu prosiding internasional, kemudian beberapa luaran lainnya yang sudah dijelaskan di dalam proposal,” jelas Dr. Najla.
Manfaatnya, kata Dr. Najla, sudah dirasakan mulai dari lingkungan terdekat.
"Yang merasakan manfaat pertama tentu saya dan keluarga karena produk ini dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Tetapi manfaatnya tentu tidak hanya untuk kami. Siapa saja yang membutuhkan dan mau menerapkannya juga bisa memanfaatkan hasil penelitian ini," ungkapnya.
Peran Pendampingan Kampus
Dalam proses pengusulan hingga pencairan pendanaan, Dr. Najla mendapatkan pendampingan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNPAB. Menurutnya, dosen tidak hanya membutuhkan kesempatan meneliti, tetapi juga pendampingan administratif agar dapat fokus pada substansi penelitian.
"Saya sangat terbantu dengan dukungan dari LPPM UNPAB," ujarnya.
Pada tahun yang sama ,sebanyak 12 dosen UNPAB tercatat memperoleh pendanaan penelitian Kemdiktisaintek dari total 137 proposal penelitian yang diajukan oleh UNPAB.
“Dari proposal yang kita ajukan, ada 137 proposal penelitian dan 12 proposal pengabdian. Dari jumlah tersebut, 12 dosen memperoleh pendanaan untuk penelitian dan dua dosen memperoleh pendanaan untuk pengabdian,” ujar Assoc. Prof. Dr. Elfitra Desy Surya, S.E., M.M.
Belum Selesai
Bagi Dr. Najla, pendanaan bukan garis akhir. Data penelitian masih dalam proses pengolahan, dan hasilnya direncanakan dipublikasikan secara lebih luas agar pemanfaatan ekoenzim dapat diterapkan oleh masyarakat yang membutuhkan.
Dari satu sosialisasi pada 2019 hingga proposal ketiga yang akhirnya didanai pada 2026, perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa penelitian sering kali bukan soal cepat, melainkan soal bertahan cukup lama untuk melihat hasilnya.
(Humas UNPAB | Editor: Armiadi Asamat-Humas LLDikti Wilayah I)






