Dari ujung barat Nusantara, tepatnya di Hiliaurifa Hilisimaetano, Nias Selatan, muncul sosok muda yang membawa semangat perubahan.
Survei Halawa, mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Nias Raya, yang percaya bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya tentang memimpin dari depan, tetapi juga tentang melayani dari hati.
Sebagai penerima Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Survei menjadi bukti nyata bahwa kesempatan yang diberikan negara dapat menumbuhkan generasi pemimpin muda dari pelosok daerah.
“KIP Kuliah membantu fokus pada studi dan pengembangan diri melalui berbagai organisasi kemahasiswaan,” tulisnya dalam esai.
Bagi Survei, KIP Kuliah adalah tonggak yang mengubah hidup. Dukungan itu membuatnya bisa fokus belajar, aktif berorganisasi, dan memimpin dengan tenang tanpa terbebani masalah ekonomi. Ia menganggap KIP Kuliah sebagai bentuk kepercayaan negara yang harus dibalas dengan kontribusi nyata.
Kini, ia berkomitmen menularkan semangat yang sama kepada mahasiswa lain di Nias, bahwa pendidikan tinggi bukan hak istimewa, melainkan tanggung jawab untuk membangun daerah. Survei juga memadukan pengalaman organisasi, kemampuan akademik, semangat sosial, dan tekad untuk memberdayakan komunitasnya. Ia mulai tumbuh sebagai pemimpin muda yang belajar melihat potensi dalam setiap keterbatasan.
Belajar Melayani dari Kepemimpinan di BEM
Titik balik perjalanan kepemimpinan Survei dimulai ketika ia terpilih sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nias Raya periode 2025–2026
Mengemban tanggung jawab memimpin 58 anggota, ia menghadapi tantangan nyata: bagaimana mengubah BEM menjadi ruang yang inklusif dan berdampak bagi seluruh mahasiswa.
“Kepemimpinan sejati adalah tentang melayani dan memberdayakan. Saya belajar pentingnya mendengarkan aspirasi mahasiswa, mengambil keputusan strategis, dan bertanggung jawab atas setiap kebijakan,” ujarnya.
Survei kemudian mencetuskan Open Door Policy—kebijakan pintu terbuka yang memungkinkan mahasiswa berdialog langsung dengan pengurus BEM. Dari inisiatif sederhana itu, hubungan antara mahasiswa dan lembaga kampus menjadi lebih erat, program kerja menjadi lebih relevan. Baginya, kepemimpinan adalah tentang menciptakan ruang untuk mendengarkan dan memecahkan persoalan bersama.
Sebelum menjabat sebagai ketua, Survei lebih dulu berperan sebagai Sekretaris Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer (HMP). Di sinilah ia memahami nilai ketelitian dan konsistensi yang sering kali tidak terlihat, namun menjadi penopang utama keberhasilan tim.
“Kepemimpinan tidak selalu tentang menjadi yang terdepan, tetapi juga tentang menciptakan fondasi yang kuat di belakang layar,” ungkapnya.
Peran administratif itu menanamkan padanya rasa tanggung jawab yang dalam terhadap proses, bukan hanya hasil. Ia belajar bahwa pemimpin sejati bukan hanya yang disorot, tetapi yang memastikan sistem berjalan dan orang lain bisa tumbuh di dalamnya.
Pada 2025, Survei terpilih mewakili kampusnya dalam kegiatan “Practical Media Information & Literacy Workshops for the Student Press Associations” yang diselenggarakan oleh AJI Indonesia dan UNESCO.
“Terpilih mewakili universitas dalam workshop nasional meningkatkan pemahaman tentang jurnalistik dan literasi media, serta mengimplementasikan pengetahuan tersebut melalui media kampus,” tulisnya.
Dari pengalaman ini, Survei belajar tentang tanggung jawab informasi di era media sosial. Sekarang melalui Future Leaders Camp 2025, Survei mendapat ruang pembelajaran yang memperluas pandangan dan menumbuhkan semangat baru.
“Banyak pengalaman yang saya dapat, terutama dari materi-materi kepemimpinan yang bisa kami kembangkan di kampus,” ujarnya.
Bertemu mahasiswa hebat dari berbagai daerah membuatnya semakin yakin bahwa pemimpin muda Indonesia memiliki potensi besar untuk membawa perubahan.
Sepulang dari kegiatan, Survei bertekad menerapkan nilai-nilai tersebut di kampusnya. Ia ingin menguatkan budaya kolaboratif di BEM dan memperluas kegiatan sosial yang berdampak bagi masyarakat Nias. Langkah kecil yang akan ia mulai hari ini, akan memberi dampak besar di masa depan. Bagi Survei, FLC bukan sekadar pelatihan, melainkan perjalanan membentuk karakter.
“Saya mendapat modal besar untuk mengembangkan potensi diri,” ujarnya.
Kisah Survei Halawa menunjukkan wajah nyata Diktisaintek Berdampak, bahwa pendidikan, kepemimpinan, dan keberpihakan sosial dapat berjalan bersama dari ruang kuliah hingga masyarakat.
Melalui FLC 2025, ia ingin terus mengasah kapasitas diri untuk menjadi pemimpin yang mendengar, melayani, dan menyalakan perubahan dari daerah. Dan di masa depan, Survei sebagai mahasiswa Ilmu Komputer, bermimpi mengembangkan teknologi yang memberdayakan masyarakat.
“Saya ingin masyarakat Nias juga bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi,” pungkasnya dengan yakin.
Dari Teluk Dalam, Nias Selatan, Survei membawa pesan sederhana namun kuat bahwa setiap peluang yang diberikan termasuk KIP Kuliah dan pendidikan tinggi adalah amanah untuk memberi dampak. Dan melalui kepemimpinannya, ia membuktikan bahwa cahaya perubahan bisa tumbuh dari pelosok Nusantara.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif






