UNDIP, Inggris (22/8) – Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP) memperkuat jejaring riset kesehatan global melalui program Staff Exchange di Liverpool School of Tropical Medicine (LSTM), Inggris, pada 27 Juni–15 Juli 2026. Program yang diikuti Dr. dr. Ratnasari Dwi Cahyanti, Sp.OG(K)., M.Si.Med., tersebut menghasilkan sejumlah peluang kolaborasi dalam penelitian, publikasi, pendidikan, dan pengembangan kapasitas akademik.
Selama program berlangsung, FK UNDIP terlibat dalam serangkaian agenda akademik, mulai dari orientasi dan courtesy meeting bersama pimpinan serta peneliti senior LSTM hingga diskusi kolaborasi riset. Salah satu fokus utama kegiatan adalah pengembangan kerja sama di bidang maternal and newborn health, termasuk Audit Maternal Perinatal-Surveilans dan Respon (AMP-SR), quality improvement, implementation science, serta penguatan sistem pelayanan kesehatan.
Dr. dr. Ratnasari menjelaskan, program tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk bertukar pengetahuan, tetapi juga membuka peluang pengembangan agenda riset bersama yang lebih terstruktur.
“Staff Exchange ini bukan hanya menjadi kunjungan akademik, tetapi menjadi titik awal untuk membangun kolaborasi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan, baik dalam penelitian, pendidikan, maupun pengembangan kapasitas,” ujar dr. Ratnasari kepada FK UNDIP pada Rabu (19/8/2026).
FK UNDIP memperkuat jejaring riset kesehatan global melalui Staff Exchange ke Liverpool School of Tropical Medicine (LSTM), Inggris, dengan fokus kesehatan ibu dan bayi baru lahir, publikasi, serta pengembangan kolaborasi internasional menuju World Class University.
Dorong Riset hingga Berdampak pada Pelayanan
Salah satu agenda penting selama kunjungan adalah Research Collaboration Meeting. Dalam forum tersebut, FK UNDIP dan peneliti LSTM mendiskusikan pengalaman serta tantangan dalam upaya menurunkan kematian ibu dan bayi baru lahir, termasuk AMP-SR, sistem rujukan, dan peningkatan mutu pelayanan obstetri.
Diskusi tersebut kemudian mengidentifikasi sejumlah area yang berpotensi dikembangkan menjadi joint research dan joint publication. Salah satunya terkait bagaimana hasil audit kematian maternal dapat diterjemahkan menjadi intervensi yang berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
Menurut dr. Ratnasari, pendekatan yang dibangun dalam kolaborasi ini diarahkan dari shared interest menuju shared research agenda. Dengan pendekatan tersebut, pertemuan akademik tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi dilanjutkan menjadi agenda penelitian, publikasi, capacity building, hingga penjajakan pendanaan riset internasional.
“Yang ingin kami bangun adalah kolaborasi yang tidak berhenti pada pertemuan atau pertukaran akademik, tetapi diarahkan pada agenda bersama yang secara bertahap dapat dikembangkan menjadi penelitian, publikasi, capacity building, serta peluang memperoleh pendanaan riset internasional,” jelasnya.
FK UNDIP memperkuat jejaring riset kesehatan global melalui Staff Exchange ke Liverpool School of Tropical Medicine (LSTM), Inggris, dengan fokus kesehatan ibu dan bayi baru lahir, publikasi, serta pengembangan kolaborasi internasional menuju World Class University.
Strategis bagi Internasionalisasi FK UNDIP
Kolaborasi dengan LSTM dinilai strategis bagi FK UNDIP karena kedua institusi memiliki kesamaan bidang prioritas sekaligus kekuatan yang saling melengkapi. LSTM dikenal memiliki pengalaman kuat dalam global health, tropical medicine, kesehatan ibu dan bayi baru lahir, serta penguatan sistem kesehatan di berbagai negara.
Kekuatan riset LSTM juga tercermin dalam Research Excellence Framework (REF) 2021 yang menempatkannya di peringkat kedua di Inggris untuk research impact. Capaian tersebut menunjukkan kemampuan LSTM dalam menghasilkan penelitian yang tidak hanya berkualitas secara akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata.
Bagi FK UNDIP, pengalaman tersebut relevan dengan arah pengembangan riset yang berorientasi pada dampak. Penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat diterjemahkan menjadi peningkatan praktik pelayanan dan kontribusi terhadap kebijakan kesehatan.
Di sisi lain, FK UNDIP memiliki pengalaman dalam implementasi program kesehatan serta jejaring pelayanan kesehatan di Indonesia yang dapat menjadi kekuatan dalam pengembangan penelitian bersama.
Kolaborasi ini juga membuka peluang untuk memperkuat internasionalisasi program akademik FK UNDIP, termasuk pengembangan International Undergraduate Program (IUP). Jejaring dengan LSTM diharapkan dapat mendukung pengembangan guest lectures, joint seminars, research mentoring, academic exchange, serta mobilitas mahasiswa dan dosen.
“Kolaborasi dengan LSTM menjadi bagian penting dari strategi internasionalisasi FK UNDIP menuju World Class University, melalui kemitraan internasional yang produktif, bereputasi, dan memiliki dampak yang dapat diukur,” ungkap dr. Ratnasari.
Menuju Kemitraan Institusional Berkelanjutan
Selain penelitian, kerja sama diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi civitas academica melalui pengembangan kegiatan pendidikan dan peningkatan kapasitas dosen serta mahasiswa. Dengan demikian, pengetahuan dan jejaring yang diperoleh dari program Staff Exchange tidak hanya berhenti pada peserta, tetapi dapat memberikan multiplier effect bagi institusi.
“Harapan kami adalah kolaborasi FK UNDIP dan LSTM dapat berkembang dari hubungan antarpeneliti menjadi institutional partnership yang berkelanjutan,” kata dr. Ratnasari.
Menurutnya, FK UNDIP memiliki kekuatan berupa jejaring pelayanan kesehatan, pengalaman implementasi program, sumber daya akademik, serta berbagai persoalan kesehatan yang relevan untuk dikaji melalui penelitian. Sementara itu, LSTM memiliki pengalaman global dalam penelitian, implementation science, capacity strengthening, dan pengembangan intervensi kesehatan.
Perpaduan kekuatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan penelitian dengan kualitas akademik yang kuat sekaligus memberikan real-world impact bagi pelayanan dan kesehatan masyarakat.
“Ukuran keberhasilan internasionalisasi bukan hanya seberapa banyak institusi luar negeri yang bekerja sama dengan kita, tetapi seberapa jauh kolaborasi tersebut menghasilkan pengetahuan, membangun kapasitas, memperkuat pendidikan, memengaruhi pelayanan dan kebijakan, serta memberikan dampak bagi masyarakat,” pungkasnya.
Melalui Staff Exchange ini, FK UNDIP menegaskan komitmennya untuk memperluas kemitraan internasional yang tidak hanya berorientasi pada jejaring, tetapi juga menghasilkan kolaborasi akademik yang produktif, berkelanjutan, dan berdampak bagi pengembangan kesehatan di Indonesia maupun global untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada SDG 3 yaitu Menjamin kehidupan sehat dan kesejahteraan untuk semua dan SDG 17 Menguatkan kemitraan untuk pembangunan berkelanjutan. (Komunikasi Publik/ UNDIP /Humas FK)






